Event Horizon

Event Horizon
Mencari guru pembimbing klub


__ADS_3

Andi berpikir sambil melihat awan yang ada di jendela ruang klubnya.


“Emila dan Ridwan, kah.”


“Mau bagaimana lagi kita hanya ber tiga, dan satu lagi…”


Emilia berbicara sambil duduk manis dan membaca sebuah buku fiksi.


Tak lama kemudian, dia menutup bukunya sambil melihat ke arah Andi.


“… Adikmu, jadi totalnya ada empat orang anggotanya.”


Andi memalingkan pandangan dari jendela, dia melangkah dengan langkah kaki yang pelan, menuju ke Emilia sambil melipat kedua tangannya.


“Itu sudah cukup sih… Tapi…?”


Dengan jeda pendek, Andi berpikir lagi karena ada yang kurang. Di sisi lain, Ridwan pun mengutarakan sebuah pendapat, dan apa yang terjadi.


“Iya, selanjutnya kita harus cari guru pembimbing dulu.”


“Nah itu, yang saya lagi pikirkan sekarang?”


Andi memikirkan sejenak, dia sambil melangkah maju ke arah sumber cahaya mentari, dengan langkah kaki yang begitu pelan, lalu kali ini dia membuka jendela ruang klubnya. Dia menghirup nafas dalam-dalam, udara hari ini sejuk dan segar membuat isi pikirannya menjadi tenang dan rileks.


“Ada apa Andi, apa kamu mempunyai ide?”


Andi melihat ke arah mereka berdua sambil matanya berkaca-kaca.


“Aku tahu guru pembimbing yang cocok buat kita.”


“Siapa?”


Andi tersenyum, sepertinya dia sudah tau siapa yang pantas menjadi guru pembimbing klubnya itu. Sedangkan mereka berdua masih merasa heran.


Andi, Emilia dan Ridwan mereka bertiga berjanan di koridor sekolah lantai dua, menuju ke ruang guru untuk mencari guru pembimbing klubnya itu.


Mereka berdua yang berbicara sambil berjalan santainya.


“Selanjutnya, kita membutuhkan guru pembimbing!”


“Maksutmu, guru yang suka dengan hal yang berbau teka-teki atau rahasia-rahasia, gitu?”


 “Hahaha… Tentu saja tidak Ridwan, aku lebih memilih seseorang yang tidak akan ikut campur dengan kegiatan kita.”


Andi menjawabnya secara langsung dan tegas, dia sambil melangkah maju ke depan dengan serius, sambil arah matanya yang kemana-mana.

__ADS_1


“Memangnya, apa ada guru yang mau membimbing kita di semester ini? Dengan tanpa ikut campur. Andi?”


“Mungkin saja ada guru yang sedang, bosan, gitu.”


“Bosan…?”


Emilia memikirkan sambil berjalan santainya, karena merasa aneh tentang hal ini, dia yang sedang memegang dagunya dan menghadap ke atas.


Tidak lama kebudian, mereka yang sudah melewati tangga yang akan turun ke bawah lantai satu. Mereka tidak melihat ada seseorang bu Anna yang memegang sebuah buku tebal, lalu menguap sambil menuruni tangga, dia seorang guru yang mengajar pelajaran sejarah, sekaligus wali kelasnya Andi.


“Ah bosannya. Capek…! Capek…! Mau istirahat.”


Andi mendengarkan sesuatu dari arah belakangnya. Dia yang sudah mengetahui kalau itu suara bu Anna, lalu dia berbalikkan arah pandangannya.


“Nah itu, ada.”


Mereka menghampiri bu Anna. Pada saat selesai pelajarannya, dia  menuju ke ruang guru untuk istirahat sebentar karena merasa capek.


Emilia menghampirinya sambil memanggil bu Anna dengan kerasnya.


“Ibu guru Anna! Tunggu!”


Bu Anna mendengarkan ada suara yang sepertinya dia sudah kenal sedang memanggilnya, dia langsung berhenti dan menoleh ke arah belakang.


“Ada apa?”


Dengan suara yang sedikit tergesah-gesah karena merasa capek. Mereka memohon sesuatu sambil memasang wajah yang serius.


“Ada apa, kok kelihatannya kalian serius?”


“Kami perlu guru pembimbing untuk klub kami,Bu.”


Sebenarnya, berbicara di saat berdiri atau berada di koridor sekolah itu tidak baik. Bu Anna mengajak mereka ke ruang guru untuk lebih lanjut, agar pembicaraan ini lebih di mengerti satu sama lain dan tentu saja resmi.


“Oh. Silahkan ikut aku, jangan bicara disini. Ayo!”


“Oh ya…”


Mereka mengikuti bu Anna untuk melanjutkan pembicaraan mereka di ruang guru. Setelah sampai disana, mereka langsung mengutarakan permohonannya itu dengan sungguh-sungguh. Mereka memohon kepada bu Anna, supaya dia menjadi guru pembimbing klubnya itu.


Bu Anna yang sedang menata bukunya, sambil memikirkan sesuatu, sepertinya dia memikirkan sebuah rencana kecil, rencana yang bagus.


“Hmmmm…? Menjadi guru pembimbing, ya?”


Mereka sangat sabar menunggu bu Anna yang sedang berpikir, mereka memohon lagi sambil menundukkan kepalanya dengan wajah lemas.

__ADS_1


“Kami mohon!”


Memutar kursinya dan menghadap ke mereka bertiga, dia pun menanyakan sesuatu dengan wajah yang serius kepada mereka bertiga.


“Ruangnya ada dimana?”


Andi dengan senang hati memberi tahukan tempatnya, dia sambil mengarahkan tangannya, seperti menunjukkan sesuatu kepada bu Anna.


“Ruangnya ada di ujung lantai tiga gedung ini, bu.”


Bu Anna berpikir lagi, tapi kali ini dia sudah menemukan sebuah tempat untuk istirahat, dia tersenyum kecil seperti wajah yang mencurigakan.


“Di ujung gedung sekolah lantai tiga, ya?”


Bu Anna sepertinya sangat senang dengan hal itu. Di karenakan, dia telah menemukan ruang untuk bersantainya. Sambil menunggu ada kegiatan dan tidak ada yang menggangunya untuk istirahat.


Bu Anna merubah posisi duduknya dengan menyilangkan kakinya.


“Baiklah! Aku tidak keberatan.”


Mereka yang sabar menunggu Bu Anna memberikan jawaban pasti, sambil berpegangan tangan, mereka bertiga tersenyum sambil mengucapkan.


“Terima kasih banyak.”


“Tapi, jangan terlalu mengandalkanku, ya?”


“Iya Bu.”


Bu Anna memutar kursinya, lalu dia mengerjakan sesuatu yang ada di depannya, dia berbicara sesuatu kepada mereka dengan nada yang tegas.


“Aku sangat sibuk.”


“Baik!”


“Tinggg…! Tinggg…!”


Suara bel sekolah dangan merdunya, yang bertanda bahwa pelajaran selanjutnya akan segera dimulai. Bu Anna yang sudah mendengarkan, dia langsung menyuruh mereka bertiga agar cepat kembali ke kelasnya.


“Sekarang sudah bel masuk, silahkan kalian bertiga masuk ke kelas.”


“Iya.”


Mereka keluar dari ruang guru sambil tersenyum lega.


“Akhirnya kita sudah mendapatkan seseorang guru pembimbing.”

__ADS_1


Mereka bertiga pun merasa lega, karena sudah mendapatkan seorang guru pembimbing klubnya. Andi, Emilia dan Ridwan akan kembali ke kelasnya.


__ADS_2