
Andi mengeluh nafas sebentar. Mereka meletakkan tasnya di bawah, dan duduk di bangku kosong yang berada di depannya. Dengan posisi Emilia duduk di samping Bu Anna yang lagi tidur dengan nyenyaknya, sedangkan Ridwan beradapan dengan Emilia dan Andi berada di antara mereka berdua.
Emilia melihat Andi yang masih ada kekawatiran, dia sambil melihat ke arah bu Anna. Emilia berdiri dan melangkah ke samping Andi lalu berkata.
“Andi ada apa? Mana petanya?”
Sambil memegang bahunya Andi. Ridwan juga ikut mempertanyakan.
“Iya Andi, keluarkan saja! Bu Anna kan, sudah tidur lagi.”
Wajah Andi yang menegang dan pandangannya yang kemana-mana.
“I-iyaaa…!”
Dengan gugupnya, Andi mengeluarkan sebuah peta dari dalam tas. Tapi, dia masih takut kalau bu Anna akan ikutan juga tentang kegiatan mereka.
Bu Anna yang masih belum tidur, dia mengetahui sesuatu tentang suara mereka. Dia perlahan bangun lagi, lalu berbicara ke arah mereka bertiga.
“Tidak apa-apa lanjutkan aja! Ibu tidak mengganggu kok. Ibu hanya ingin tidur sebentar saja di sini. Tapi, kalauuu…”
Andi yang hampir saja mengeluarkan selembaran petanya itu. Dia yang mengetahui bu Anna sudah bangun lagi. Dia langsung memasukkan petanya itu ke dalam tas lagi, dengan gerakan yang sangat cepat tapi mulus.
“Upsss…!”
Mereka yang masih penasaran, bu Anna berbicara apa. Semua memasang wajah yang serius. Mata mereka melihat ke arah bu Anna, sambil mereka memikirkan, ucapan apa yang akan keluar dari mulut bu Anna. Seakan-akan, dia mengucapkan yang bisa membuat meraka mendapatkan sebuah masalah. Mereka bertiga berbicara secara bersamaan dan sehati.
“Iya Ibu, kalau ada apa?”
“Kalau tidak ada apa-apa lanjutkan saja.”
Dengan wajah polosnya, Bu Anna berbicara tanpa ada masalah, lalu setelah selesai, dia memasang wajah tersenyum manis kearah mereka bertiga.
Mereka masih tidak mengerti, karena merasa hal itu aneh apa yang di bicarakan oleh bu Anna itu. Mereka jadi, beranggapan curiga tentang sikap bu Anna yang tidak serius. Dan tak lama kemudian, bibirnya pun bergerak lagi.
“Gitu aja. Sudah ibu kembali tidur lagi.”
Mereka bertiga memperhatikan bu Anna yang sedang tidur lagi, lalu berbicara pelan dan dieja, dengan pelannya mereka mengucapkan bersama.
__ADS_1
“Mencurigakan?”
Tak lama kemudian setelah selesai, Emilia memberi tahu ke Andi.
“Ya sudah Andi, mana saya mau lihat?”
“Oh ya, bentar.”
Andi mengambil peta yang ada di dalam tasnya lagi, dan kali ini dia memberikannya langsung ke Emilia, lalu mereka berdua melihat bersama.
“Hmmm…? Gimana Andi, sepertinya ini sedikit sulit ya?”
Ridwan yang bermuka kesal, lalu muncullah suara yang bernada cuek.
“Emilia, coba aku ingin melihat kodenya itu!”
Emilia yang tidak tau kalau Ridwan lagi kesal, dia memberikannya tanpa ada rasa penyesalan sedikit pun, dan ini kenyataannya memang benar.
“Ini Ridwan, apa kamu mengetahui sesuatu?”
“Coba saya lihat. Hmmm…? Kode 292-280, 353-351, 550 terus ada bentuk segitiga, lalu ada semacam nama Antipater, Greek Antropologi dan angka romawi IX.58… Ini sedikit sulit ya, hehehe…”
Tak lama kemudian, Ridwan mulai tersenyum tulus dengan tujuan menghilangkan ketidaknyamannya atas ketidak tauan apa-apa. Setelah lama diperhatikan kode itu oleh Emilia, ternyata dia tiba-tiba mengingat sesuatu.
“Lihat Andi, sepertinya Antipenter itu adalah nama pengarang dari buku, terus angka romawi itu...? Hmmmm...?”
Sambil menunjuk ke arah kode, Andi serius memperhatikan Emilia.
“Kamu kok bisa tau, Emilia?”
“Aku tau, soalnya aku pernah membaca sebuah buku fiksi. Ya, tepat pengaranya juga sama. Dia itu adalah Antipater apa gitu namanya.”
Wajah Emila perlahan memerah dan malu, setelah dia melihat Andi memasang wajah serius memperhatikannya, dia pun jadi gugup salah tingkah.
“Kode ituuu...! Buku itu? Anooooo...! Hmmm…?”
Ridwan pun berpikir serius mencari celah tentang buku fiksi itu sambil menyandarkan badannya ke kursi, lalu arah matanya sedang mencari sesuatu.
__ADS_1
“Hmmm...? Buku fiksi kah? Sepertinya nih Greek Antropologi juga buku karangannya atau apa ya? Apa dia mengarang buku yang sama juga?”
“Buku fiksi yang berjudul Greek Andropologi…?”
Ridwan pun bangun dari bersandarnya ke kursi. Dia kali ini langsung melempar sebuah pertanyaan kepada Emilia, dengan wajah yang serius juga.
“Apa kamu tau Emilia? Judul buku apa yang sudah kamu baca, yang berhubungan tentang Antipenter itu? Coba kamu ingat lagi!”
Emilia berpikir sambil memegang ujung dagunya, lalu dia berusaha mengingat kembali judul buku yang dia pernah baca itu sebelumnya.
“Hmmm…? Buku apa ya? Aku juga lupa. Soalnya buku itu miliknya temanku dan sudah lama dikembalikan ke perpustakaan seminggu yang lalu.”
“Milik temannya ya. Oh ya, dikembalikan ke perpustakaan mana?”
“Kalau tidak salah, katanya dia, di perpustakaan sekolah ini.”
Di saat waktu yang sama, ketika Andi mencengkram bagian depan dari baju seragamnya, detakan jantungnya membuat terasa begitu sangat dekat. Mungkin karena ada rasa yang ingin tahu bercampur dengan rasa sebal. Andi menanyakan sambil mendekatkan wajahnya ke Emilia, dia pun berkata.
“Emiliaaa…!”
Kali ini dia memasang wajah yang konyol ke Emilia. Dan entah kenapa wajah Emilia menjadi malu dan warna pipinya memerah, malu yang manis.
“A-ada apa Andi? J-jangan memasang wajah seram begitu dong!”
“Temanmu itu laki-laki atau perempuan?”
Emilia menjawabnya sambil melakukan gerakan seperti membuang muka secara tiba-tiba dari Andi, dengan wajah malunya dia pun bersuara cuek.
“Perempuan lah.”
“Huhhh… Kirain siapa, ternyata perempuan, toh.”
Andi mengeluh nafas karena merasa sudah lega, lalu kembali duduk lagi dengan tenang. Dan tidak lama kemudian Ridwan berbicara sendiri.
“Bukunya ada di perpustakaan sekolah ini dan kita tidak tau judul bukunya. Buku yang dikarang oleh si Antipater itu ya. Hmmm…?”
Suasana yang begitu serus di dalam ruangan klubnya. Dilihat dari sisi lain dari kodenya itu, bahwa kode itu berhubungan tentang isi dari buku si pengarang itu. Pengarang itu bernama Antipater, tapi Emilia lupa tentang judul buku fiksi yang pernah dia baca sebelumnya.
__ADS_1