
“Liu…! Liu…! Liu…!”
Suara ambulan terdengar keras di depan rumah Andi. Orang dengan baju hitam banyak berdatangan dan terus berdatangan ke rumahnya Andi. Ibu, ayah, adiknya yang bernama Ira Parwati dan seorang teman perempuan yang masih kecil yang bernama Emilia Latinka, dia juga turut berduka cita.
Surabaya, 13 Mei 2013, 07:04…
Suasan dari atmosfer bumi pun mulai menjadi hening, hiasan di langit awan yang awalnya putih, sekarang sudah menjadi hitam dan perlahan-lahan mengeluarkan rintisan air hujan yang terus menerus jatuh dari atas. Udara di sekitar rumah menjadi terasa begitu dingin dan hangat pun mulai berkurang.
Telah meninggalnya seseorang yang mereka cintai, keluarga yang ada di dalam rumah mulai mengeluarkan air mata kesedihan. Sebuah foto yang dihiasi dengan rantai bunga warna-warni dan bermacam-macam jenis bunga, hal itu yang bertandakan bahwa ada seseorang yang telah meninggal dunia.
Di samping itu, terdapat seseorang yang lagi tidur di dalam kamar yang redup cahaya, dia mulai sadar dan membuka matanya dengan perlahan-lahan.
“A-aku ada dimana ini?”
Dia mulai bangun dari tempat tidurnya dengan keadaan setengah sadar, melihat ke atap langit kamarnya dengan pandangan yang kabur. Sambil mengingat kejadian kemarin, karena sedikit lupa, dia langsung mengalihkan pikirannya itu dengan adanya suara keras dari arah sudut luar kamar tidurnya.
“Ada apa di luar rumah ya, kok ada suara seperti ambulan?”
Dengan jeda pendek sambil penasaran, dia mulai berjalan dengan perlahan-lahan menuju ke arah jendela, membuka tirai jendela, lalu melihat ke luar dari jandela rumahnya sambil menggosok matanya karena masih kabur.
“Loh ada apa ini? Kok ada banyak orang memakai pakaian serba warna hitam di depan rumahku? Jangan! Jangan!”
Dengan jeda pendek sambil bertanya-tanya karena merasa heran. Dan tidak lama kemudian, dia berwajah menua setelah mengetahui ada sesuatu.
Dia yang ingin cepat menuju ke ruang tamu, berjalan sempoyongan melawan pandangan yang masih kabur. Setelah sampai di tangga dia berhenti sejenak, karena merasa sedikit pusing sambil berpegangan ke arah dinding.
“Aduh, kok masih pusing?”
Memegang kepalanya, dari arah lain dia melihat jalan menuruni tangga seperti mulai bergejolak dan bergelombang. Perasaannya yang sudah cemas dan sedih, dia pun melanjutkan berjalan menuju ke ruang tamu dengan pelan.
Setelah sampai di depan mata, dia membuka pintu sekeras mungkin.
“Duarrr…!”
Ini suara pintu yang dibuka secara keras loh ya, bukan suara tembakan. Tiba-tiba, orang berpakaian serba hitam yang berada di ruang tamu, mereka semua pun terkejut dengan isi pandangan tertuju ke arah dia yang lagi sedih.
“Tidak mungkin! Ini tidak mungkin! Pasti bohong!”
Dengan jeda pendek, dia yang sedang menggelengkan kepala sambil meneteskan air mata, karena merasa tidak mau menerima hal itu. Perasaan yang sedih dan bingung, sepertinya semua itu sedang menyelimuti isi pikiran dan hatinya. Menarik nafas dalam-dalam lalu mengeluarkan suara sekeras.
__ADS_1
“Kakekkkk…!”
Suara Andi yang menggema keras di dalam ruangan, terdengar oleh seluruh orang-orang yang ada di dalam ruang tamu. Dia melihat foto kakeknya yang terkalung rantai bunga yang berwarna-warni dengan perasaan sedih.
Seorang gadis kecil yang berpakaian seperti pakaian gaun berwarna hitam, sepatu hitam dan topi kecil hitam dengan sedikit miring yang berada di kepalanya, kombinasi yang cocok. Dia itu Emilia Latinka teman kecilnya Andi.
Gadis kecil itu menghampiri ke arah Andi dengan langkah kaki pelan, dia menepuk bahunya Andi, lalu dengan wajah sedihnya dia mengucapkan.
“Aku turut berduka cita atas kematiannya kakekmu, Andi.”
Andi menghadap kebelakang, ya tepatnya langsung melihat wajahnya Emilia sambil memasang wajah sedih. Lalu dia bertekuk lutut ke lantai, sambil meneteskan air mata, satu-persatu tetesan air matanya menghujani lantai.
“Tidak mungkinnnn…? Ini pasti mimpi, saat itu kakek menceritakan sebuah bukuuu… Terusss… Kakek merasa senang karena buku itu…?”
Sambil mengingat kejadian kemarin, yang tepatnya dia tiba-tiba pingsan ketiduran. Nada suaranya yang sedikit mencengkik sambil menahan tangisnya itu, dia terus mengingat dan menceritakan kejadian kemarin.
Gambaran dimana dia tiba-tiba pingsan ketiduran, pada saat kakeknya menceritakan sebuah buku kepadanya dengan penuh semangat juang.
...Dia yang sedang membawa sebuah buku di dadanya, berjalan berlahan ke arah pintu kayu. Membuka perlahan sambil mengintip sedikit dibalik pintu. Terlihat kekeknya dengan keadaan biasa dan sehat sambil berwajah setengah tersenyum, dia yang duduk di kursi goyang menikmati masa tuanya sambil meminum teh hangat dan biscuit di pagi hari. Dia memintakan kepada kakeknya untuk menceritakan isi buku yang dibawa oleh Andi. Kakeknya sangat senang hati bersedia membacakan buku miliknya…
Pada saat Andi sedang menghayal. Tiba-tiba, ada seseorang yang sedang memanggil namanya Andi, perlahan-lahan suara itu mulai keras, lalu dia menepuk bahunya Andi sambil menggoyangkan perlahan-lahan agar sadar.
Ketika Andi sudah tersadarkan diri dari menghayal bebas, meskipun dia ingin berusaha untuk mengabaikannya, tetap saja tidak bisa melakukannya.
“Tu-tunggu…! Bagaimana aku bisa sampai di tempat tidur? Bagaimana dengan kakek kok bisa meninggal? Apa yang terjadi…? Tadi akuuu… Akuuu… Kakekkk… Aduh… Ceritanya sampai dimana tadi? Anooo…?”
“Andi…?”
Setelah sadar, dia masih melanjutkan ceritanya dengan macam bentuk pertanyaan yang ditujukan kepada ibunya, sebuah pertanyaan yang sedikit ngelantur tidak jelas kemana-mana. Dia memasang wajah menegang ke arah ibunya sambil meneteskan air mata kesedihan, karena merasa kebingungan.
“Tenang! Andi tenang! Ibu akan menjelaskan semuanya.”
Ibu pun langsung menyadarkan Andi sambil mengoyangkan pundaknya lagi. Dengan sedikit mengeluh nafas panjang, ibu menceritakan kejadian di mana sebelum kakek meninggal kepada Andi. Bentuk wajah ibu yang serius, sampai mengeluarkan aura berbau misteri yang menyelimuti didalam ruangan.
“Begini ceritanya Andi…”
Andi memasang wajah yang sedikit sedih, perlahan-lahan dia menjadi sedikit tenang sambil mendengarkan cerita dari ibunya. Menahan tangisan yang keluar tersendat-sendat, dia rela mendengarkan karena merasa ingin tau.
“…Pas ibu dan ayah mu pulang dari kerja, kami menemukan kakek sudah tidak bernyawa lagi dengan tubuh berbaring di atas tempat tidur kamarnya. Karena ibu dan ayahmu merasa panik, lalu ibu menyuruh ayahmu untuk memanggil ambulan, dan ibu yang merasa kawatir kepada kamu, ibu berlari ke kamarmu untuk melihat kondisimu saja, dan ternyata…”
__ADS_1
Ibunya yang belum selesai menceritakan, tiba-tiba di sisi lain Andi langsung memotong pembicaraannya. Andi yang berwajah terkejut sambil menghentikan nafas sebentar, lalu suaranya pun membesar mengucapkan.
“Kami tadi membaca buku ibu, dan kakek merasa senang dengan isi cerita yang ada di dalam buku itu, terus aku dan kakek…”
Suara yang begitu keras dan sedikit dipaksakan, sampai membuat adiknya, Ira merasa ketakutan dan bersembunyi di belakang ibunya sambil memegang baju ibu dengan sangat erat. Ibu yang melihat hal itu, dia merasa sedikit tertekan, lalu menghentikan ceritanya Andi yang beraura menegang.
“Tunggu dulu Andi, adikmu ini…”
Seseorang laki-laki yang berpakaian rapi, dia sedang berjalan seperti menirukan orang dewasa lakukan sambil membawakan surat di tangannya, dia berjalan menghampiri kerumunan di sisi lain ruangan, ibu, Andi, Ira dan Emilia.
“Maaf, ma.”
Memanggil dari belakang sambil menepuk bahu ibu. Ira yang berada di belakang ibunya sambil memegang erat sisi baju ibunya, dia menengok lalu melihat ke atas. Seseorang ayah memotong pembicaraan ibu dengan Andi.
Sambil melangkah maju ke arah Andi, dia memberikan sebuah surat yang sepertinya dia sudah membacanya saat pertama menemukan surat itu.
“Ini, Andi.”
“Apa ini, yah? Surat?”
Dengan jeda pendek dan berwajah keheranan karena merasa bingung yang dia lihat, Andi menerima sebuah surat yang di bawakan oleh ayahnya itu.
“Iya ini surat. Ayah baru menemukannya di rak meja milik kakek, dan sepertinya surat ini di tujukan kepada kamu. Bacalah!”
Andi membuka secara perlahan-lahan karena merasa tidak mengerti, lalu dia membaca isi surat itu dengan perasaannya yang sedikit kebingungan.
…Isi surat kakek…
Di tengah membaca surat kakek, tiba-tiba terjatuh selembaran kertas.
“lembaran apa itu?”
Andi berpikir sambil memandangi lembaran yang jatuh di lantai, dia mengambil lembaran kertas yang jatuh itu, membuka dan membolak-balikkan lembaran kertas dengan wajah yang sedikit kebingungan melihat isinya itu.
“Apa ini? Peta? Kode?”
Setelah Andi selesai membaca surat dari kakek. Andi masih seperti orang yang bersalah sambil menyembunyikan wajahnya dari orang, mungkin di karena Andi ingin membuat rasa sakit yang kakek rasakan itu bisa terbagi.
“Maafkan aku kakek… Kakek!”
__ADS_1