
Tak lama kemudian, Ridwan tersadarkan diri sambil mengingat bahwa Andi telah mengucapkan sesuatu seperti semacam kode rahasia.
“Alasan pertama kamu tadi, kalau tidak salah, untuk memecahkan kode ya? Kode apa itu Andi?”
Ridwan berjalan kembali ke tempat duduknya. Perlahan-lahan Andi mengambil surat yang ada didalam tasnya. Tapi, dia hanya menunjukkan hanya sebuah peta saja kepada Emilia, Ira dan Ridwan. Dan yang lainnya ditaruh ke dalam tasnya kembali, sambil menunjukkan dia mengucapkan.
“Ini peta yang diberikan oleh kakek kepada aku saat kecil, dan ada sebuah kode yang tertulis di balik peta itu.”
Emilia mengambil peta itu, setelah selesai melihat gambar peta yang di depannya, dengan jeda pendek, dia membalik dan melihat isi kodenya itu.
“T-tunggu dulu Emilia! Tolong di balik lagi!”
Ridwan masih penasaran dengan peta itu, dia hanya sekilas melihat.
“Ini petanya?”
“Yups ini peta, dan di belakangnya terdapat kode dimana kakek mendirikan semacam ruangan rahasianya.”
Ridwan berpikir sambil memasang wajah yang ingin mengetahui sesuatu, sedikit memiringkan kepalanya sambil memegang sisi ujung dagunya.
“Hmmmm…?”
“Ada apa Ridwan?”
Emilia, Ira dan Andi penasaran dengan wajahnya Ridwan. Wajah yang tersenyum kecil, seakan Ridwan mengetahui sesuatu tentang peta itu.
“Kayaknya sih, aku pernah deh lihat nih peta. tapi di mana ya?”
“Apa benar Ridwan kamu pernah lihat nih peta sebelumnya?”
“Iya pernah tapi…? Dia…? Dia…?”
Mereka semua memasang wajah yang serius. Mata mereka melihat ke arah Ridwan, karena tidak ingin ketinggalan kata yang keluar, dia yang sedang seriusnya berpikir, seakan-akan dia mengetahui sesuatu. Mereka bertiga memperhatikan sambil mengucapkan secara bersamaan dan serentak.
“Iya… Dia…? Dia…?”
Setelah mereka serius akan sesuatu hal yang keluar dari mulut Ridwan, dia yang sangat seriusnya memikirkan tiba-tiba mengucapkan.
“Dia…? Dia…? Itu tidak tau. Te’Heeee…!”
Ridwan mengucapkan sambil berwajah konyol, dengan sedikit dimiringkan sambil memukul kepalanya sendiri dengan pelan. Mereka bertiga pun terjatuh ke lantai, ternyata Ridwan tidak mengetahui sesuatu. Setelah berdiri, Emila mengatakan lagi kepada Ridwan dengan wajah serius juga.
“Tunggu dulu Ridwan, kamu tadi mengatakan dia. Dia itu siapa?”
“Ya. Dia itu…? Dia itu…?”
Mereka semua memasang wajah yang serius. Mata mereka melihat ke arah Ridwan, karena tidak ingin ketinggalan kata yang keluar, dia yang sedang seriusnya berpikir, seakan-akan dia mengetahui sesuatu. Mereka bertiga memperhatikan sambil mengucapkan secara bersamaan dan serentak.
“Iya… Dia…? Dia…?”
__ADS_1
Setelah mereka serius akan sesuatu hal yang keluar dari mulut Ridwan, dia yang sangat seriusnya memikirkan tiba-tiba mengucapkan.
“Dia itu, saya. Hehehehe…”
“Eaaaaa…”
Dengan wajah konyolnya dan tanpa bersalah. Ternyata Ridwan hanya membuat sebuah candaan kepada mereka. Dia tahu bahwa mereka sangat serius dengan apa yang di sebut dengan kode rahasia. Jadi, Ridwan hanya ingin menghibur pikirannya yang serius itu, agar tetap relaks dan tenang, karena merasa sedikit bersalah dia langsung meminta maaf kepada mereka.
“Ridwan jangan bercanda dong.”
“Maaf, soalnya wajah kalian serius sekali.”
Secara kebetulan atau tidak ternyata Ridwan juga tidak pernah lihat ini peta, dia hanya membuat candaan kecil saja. Setelah itu Ridwan kembali lagi penasaran dengan sebuah kode yang dibalik peta itu.
“Kode Ini…292-280…353-351…550 ? dan semacam bentuk segitiga lalu ada kata…? Kata apa itu? Tidak kelihatan!”
Sebuah kata yang kecil dengan bertulisan huruf latin. Sepertinya Ridwan juga tidak kelihatan, padahal dia sudah memakai sebuah kacamata.
“Coba sini aku baca… Hmmmm…? Antipenter, Greek Antropologi terus itu sejenis romawi ya Andi?”
Setelah Emilia membacanya dengan cara mengambil paksa peta dari tangan Ridwan, ya bisa di bilang dia masih merasa kesal, kali ya. Setelah di baca kata yang bertulis latin, Emilia masih tidak tau tulisan setelahnya. Dia pun langsung memberikannya ke Andi untuk sekedar memastikannya saja.
“Yup itu IX.58.”
“Coba kakak aku mau lihat?”
“292-280, 353-351, 550 terus ada bentuk segitiga lalu ada semacam nama Antipenter, Greek Antropologi dan IX.58.”
Sambil berpikir dengan seriusnya. Tidak lama kemudian, Andi memberikan sebuah pertanyaan lagi karena merasa ragu kepada Ridwan.
“Gimana Ridwan apa bisa?”
Atmosfer udara tiba-tiba menjadi hening dengan perpaduan suasana keseriusan, Ini adalah suasana yang pas di rasakan oleh pembaca tentunya.
“Hmmm…? Gimana ya? Ok kalau begitu, saya akan usahakan agar kita bisa buat klub sendiri. Dan menyakinkan Ketua OSIS kita agar menyetujui.”
Dengan jeda pendek, Ridwan pun berpikir lagi. Tak lama kemudian, kali ini Emilia mengajukan pertanyaan ke Ridwan, karena masih ada keraguan.
“Apa bisa?”
“Tentu saja, itu pasti bisa. Tapiii…? Tapiii…?”
Wajah Ridwan yang sedikit serius, sepertinya dia akan mengucapkan seperti ada sebuah rintangan sendiri yang harus mereka hadapi. Dengan wajah seriusnya mereka pun rela menunggu dengan sabar, di karenakan mereka ingin mendengarkan perkataan yang akan keluar dari mulut Ridwan.
“Iya Ridwan. Tapi apa?”
Ridwan tersenyum sedikit, dia sambil mengucapkan kata kecil.
“Tapi ini… Rahasia.”
__ADS_1
Mengucapkan dengan kata yang dieja sedikit demi sedikit. Andi pun mengeluh nafas sebentar. Dengan nada cueknya, Emilia berkata.
“Awas loh ya, kalau kamu gak bisa.”
Di sisi yang lain, Ira menarik-narik baju kakaknya dengan pelan, dia sambil memasang wajah manisnya ke Andi. Andi pun menengok ke arah Ira, dia yang menarik baju, lalu mengucapkan sesuatu dengan nada manjanya.
“Hey kakak. Aku boleh gabung ke klub sekolah kakak, kan?”
Andi melihat wajah adiknya yang begitu manisnya. Dia pun menjawab sambil memegang kepalanya Ira dan mengelusnya pelan-pelan.
“Tentu saja boleh.”
Sambil mengelus kepalanya Ira, dia melihat lagi ke arah mereka berdua. Lalu Dia mengajukan permohonan dengan bentuk wajah yang sama.
“Oh ya, kalau bisa kumpulnya pas pulang sekolah aja, ya. Agar nih adikku bisa hadir ke klub kita nanti. Apa bisa Ridwan?”
Sepertinya Ridwan juga setuju, di karenakan hatinya Ridwan itu sudah luluh setelah melihat adiknya Andi. Dia yang memasang wajah manis kemanja-manjaan gitu, pada saat memohon ke kakaknya. Entah kenapa mata Ridwan penuh dengan gemerlapan cahaya, lalu dia berkata kata pelan.
“Manisnya, dia seperti malaikat.”
Setelah Ridwan sadar dari imajinasinya, dia kembali berbicara.
“Oh, kalau itu bisa di atur. Tenang saja ada aku.”
Ridwan mengangkat kacamatanya sedikit dan berbunyi Tingg… Kali ini kacamatanya dia bersinar menyilau sambil mengeluarkan bunyi, ya supaya dramatis gitu. Ridwan yang sangat percaya diri dengan berdirinya klub, sampai adiknya Andi, Ira agar bisa ikut menjadi anggota dari klubnya.
“Ok Ridwan. Aku mengandalkanmu loh.”
“Ohhhh…”
“Asik…Aku sayang kakak.”
Iramemeluk kakaknya sambil bentuk wajah tersenyum manis.
“…Hmmm kamu itu sayang ke aku itu berapa gram sih…?”
Melepaskanpelukannya sambil mengucapkan sedikit manjanya.
“Pertanyaan itu lagi kakak?”
Kali ini mereka berempat tertawa bersama karena merasa bahagia.
“Wkwkwkwkwk…”
Akhirnya mereka akan bisa mendirikan klub sekolah sendiri dengan bantuan si Ridwan. Tapi, mereka gak tau Ridwan rencanakan apa kedepannya terhadap ketua OSIS, agar mereka bisa mendirikan klub sekolah sendiri.
Hari ini, berahir dengan kenyang makan hamberger, setelah itu mereka pulang kerumahnya masing-masing, Ira melihat wajah kakaknya.
“Kakak, terima kasih banyak. Aku sayang kakak.”
__ADS_1