
“Penjelajah ruang waktu dan mesin waktu?”
Mereka masih kebingungan tentan mesin waktu, apa mesin waktu itu benar-benar ada atau hanya cerita dari bu Anna saja. Walaupun, bu Anna di sini hanya bercanda, tapi mereka itu pasti beranggapan serius tentang hal itu.
“Wah sudah berbunyi belnya. Ya sudah, ibu jelasin sampai di sini aja. Masuk kelas sana! Dan jangan keluyuran kemana-mana!”
“Ok bu, terima kasih ya, tentang info yang ibu berikan.”
“Iya, sama-sama. Jangan di anggap serius ya, yang tadi.”
Setelah mereka keluar dari ruang klub nya. Bu Anna tiba-tiba tersenyum manis, dia sambil mengeluarkan seperti handphonenya di dalam saku celananya, lalu dia menulis sebuah pesan singkat. Pesan singkat dan tujuan masih di rahasiakan oleh penulis agar lebih menarik di depan ceritanya.
Mereka bertiga berjalan dikoridor lantai satu, menuju ke kelasnya untuk pelajaran selanjutnya. Tak lama kemudian, Ridwan pun mulai kambuh tentang penyakitnya itu, ya biasa berbicara dengan sendirinya.
“Hmmm...? Ternyata kode itu bersangkutan dengan pengarang dari buku yang bu Anna jelaskan tadi ya.”
__ADS_1
Terdengar suara yang bernada datar, sambil Andi menyentuh sisi lain kepalanya. Sedangkan di sisi lain Ridwan dan Emilia melihat langsung ke arah dirinya Andi yang sudah berwajah seperti orang yang tidak tau apa-apa.
“Kalau begitu, Andi! Setelah pelajaran ini kan ada istirahat ke dua. Kita langsung aja menuju ke perpustakaan sekolah?”
“Perpustakaan sekolah, apa ada?”
Andi memiringkan kepalanya, karena merasa tidak yakin kalau ada. Tapi, Emilia yang mengetahuinya dulu, dengan tegasnya, dia pun menjawab.
“Pasti ada tentang buku itu. Menurut rumor yang beredar sekolahan kita diduduki perpustakaan paling lengkap se-jawa timur loh.”
Andi pun berpikir, dia harus mencari buku tentang mesin waktu itu, tapi dia ingin mencarinya sendiri tanpa ketahuan oleh mereka berdua.
“Oh ya Emilia buka nya apa tiap hari atau hanya jam-jam tertentu?”
“Kamu ingin tau atau mau tau banget?”
__ADS_1
Andi hanya diam saja, karena ada rasa sedikit emosi di dalam dirinya.
Dengan jeda singkat ini, Emilia mulai menggerakkan bibir lembutnya itu, dia akan mengucapkan sesuatu kata sambil tersenyum manis ke arah Andi.
“Perpustakaan sekolah kita itu sifatnya umum, Andi. Jadi, pasti buka setiap hari dan bukanya jam 08.00 sampai dengan 20.00 saja.”
“Ok kalau begitu. Setelah pelajaran ini selesai, kita langsung menuju perpustakaan sekolah untuk cari buku itu! Gimana?”
“Asiyappp…”
Mereka pun memutuskan, kalau selesai pelajaran berakhir, mereka langsung menuju perustakaan sekolah untuk mancari sebuah buku. Buku itu yang berjudul Dioscorides and Antipater of Mix : The World yang jilit ketiga.
Dari semua epigrammatis Yunani, Dioscorides dan Antipater Mix mungkin yang paling setia mewakili reaksi masyarakat Helenistik terhadap dunia yang berubah dengan cepat. Epigram-epigram mereka, yang dibedakan dengan keringkasan dan berbagai tema, mengungkapkan sifat kebahagiaan yang singkat dan kematian yang tak terelakkan. Dengan ruang lingkup mereka yang singkat, materi pelajaran yang menarik, retorik yang berkembang, dan variasi tematik yang rumit, puisi-puisi ini menawarkan pengenalan yang menyenangkan dan dapat dijangkau oleh epigram Helenistik.
Menurut info yang beredar, buku itu hanya di cetak sebanyak seratus saja. Di karenakan buku itu masih dalam tahap perkembangan dan masih di tindak lanjuti oleh pengarang. Apa mungkin isi dari bukunya dari pengarang lama atau pendahulunya masih dianggap mistik kali ya? Tentu saja tidak.
__ADS_1
Mereka berharap perpustakannya masih menyimpan buku itu.