Event Horizon

Event Horizon
Saatnya memecahkan kode


__ADS_3

Suara bel sekolah telah berbunyi merdu, bertanda bahwa pelajaran hari ini sudah selesai. Semua murid siap-siap untuk meninggalkan kelas. Kelas sudah terasa sepi dan hanya aktifitas ekstra seperti biasanya yang berada di luar kegiatan sekolah. Ada yang sudah pulang dan ada yang menginap loh.


Surabaya, 4 Juli 2018, 15:05…


Mereka bertiga memutuskan langsung pergi ke ruangan klubnya untuk memecahkan kode itu. Sebelum itu, buku yang diberi tahu oleh bu Anna sudah didapatkan, saat mereka berada di dalam perpustakan sekolah.


Mereka berbincang sambil berjalan di koridor sekolah lantai dua.


“Andi, katanya adikmu akan datang ke sekolah hari ini?”


“Iya, hari ini adikku datang. Tapi, belum kelihatan ya?”


Tiba-tiba, seseorang anak perempuan berbaju SMP, wajahnya yang imut dengan rambut berkuncir pendek lurus, dia menghampiri Andi dengan langkah kaki yang ringan dan santai. Dia itu Ira yang ingin mengejutkan kakaknya dari belakang, sambil membawakan keresek berwarna hitam pekat.


Ira yang sudah bersiap-siap, mangambil posisi kuda-kuda lalu siap untuk menerjang dan meloncatlah dia, sambil mengeluarkan suara keras.


“Kakakkkkk...!”


Andi spontan meloncat di tempat, lalu mengeluh nafas pendek sambil mengelus dadanya, dia pun menegur Ira sambil bersuara marah.


“Ira, jangan ngagetin kakak, dong!”


“Habisnya kakak, saya lihat dari belakang kakak senyam-senyum.”


Andi menekan wajahnya sendiri, mulutnya seperti bentuk mulut ikan.


“Apa wajahku selalu seperti ini?”

__ADS_1


“Jangan gitu lah, kak? Kakak aneh.”


Tiba-tiba Andi merasa tertekan akan kata yang terucap dari mulut Ira sambil bersembunyi di balik tembok, dia pun berkata sambil berpikir.


“Apa wajahku seaneh ini?”


Tanpa arahan yang jelas, mereka berempat melanjutkan jalannya.


Setelah mereka sampai di depan ruangan klubnya, mereka langsung masuk lalu meletakkan tasnya, sambil mencari tempat duduk yang merasa nyaman. Dengan posisi, Ridwan duduk di meja komputernya, sedangkan Andi dan Ira duduk bersebelahan, lalu Emilia duduk berhadapan dengan Andi.


“Ok Ridwan, mana bukunya aku mau lihat!”


Ridwan mengambil bukunya yang sudah dia bawa di dalam tasnya, dan langsung memberikannya kepada Andi.


“Ini bukunya Dioscorides and Antipater of Mix : The World.”


“Andi, mana petanya?”


“Oh ya, sampai lupa.”


Andi yang asik membaca bukunya itu, dia mengambil peta yang ada di dalam tasnya, lalu menaruhnya di tengah meja. Emilia yang mengetahui Ridwan yang asik memainkan komputernya, dia menunjukkan wajahnya itu yang sudah berada di jarak dekat akan kemarahan, bersuara dengan keras.


“Oe! Ridwan. Sini kamu! Jangan di situ!”


Ridwan bergegas berdiri, melangkah maju, sambil memutari sisi meja lain dan berhenti tepat di sampingnya Emilia, dengan wajah gemetaran, dia pun duduk di situ. Posisi duduk yang sudah berubah, konfersi meja bundar.


“Pertama kita temukan bagian dari puisi itu, bagian ke-58.”

__ADS_1


Andi membuka bukunya secara perlahan-lahan, sambil mata mereka melihat bagian yang di baca. Setelah sekian lama, mereka mencarinya dan suasana yang makin lama semakin serius. Mereka akhirnya telah menemukan puisi bagian yang sudah dijelaskan oleh bu Anna, yups bagian puisi ke-58. Suara keras dari Ridwan, sambil jarinya mengarah ke bagian kalimat puisi itu.


“Nah ini dia, bagian ke-58.”


Setelah menemukan bagian kalimat dari puisi yang ke-58, mereka pun membacanya dengan suara lantang, puisi yang terlalu panjang dan kata-katanya sedikit sulit di pahami oleh mereka. Setelah Andi membacanya dan memahaminya dengan perlahan-lahan, pada saat yang tepat dia pun terkejut.


“Kenapa kakak?”


“Kebanyakan puisinya. Heheheh…”


Andi menjawabnya sambil berwajah tersenyum ke arah adiknya.


“Kirain ada apa? Jangan ngagettin gitu dong!”


“Iya sih. Kalau begini terus, bisa-bisa tidak ketemu dengan kode itu.”


Emilia berbicara sendiri dengan nada malasnya, karena merasa lelah, dia sambil melihat-lihat kode dan buku yang ada di atas meja. Ridwan melihat kode itu, dia pun berpikir sambil meletakkan tangannya ke ujung dagunya.


“Tunggu! Tunggu dulu! Tunggu! Mukinkah ini!”


Ridwan bersuara keras sambil memasang wajah serius memikirkan sesuatu, seakan-akan wajah seriusnya telah mencuri perhatian mereka bertiga yang dilanda kebingungan. Emilia menyapanya dengan wajah yang penasaran.


“Ada apa Ridwan, kamu menemukan sesuatu?”


“Coba sini bukunya dan petanya! Aku mau lihat sekali lagi.”


Ridwan mengambil bukunya dan membolak balikkan kertasnya secara perlahan-lahan, dia sambil melihat angka yang ada di peta IX-58. Dia yang serius mencari satu-persatu celah dari puisi dengan angka romawi itu.

__ADS_1


“Ternyata betul, angka romawi itu?”


__ADS_2