Event Horizon

Event Horizon
Cara mendapatkan pacar


__ADS_3

Setelah mereka berdua selesai makan, dan hanya segelas es teh yang tersisa setengah gelas di depan mereka. Ridwan pun melanjutkan perkataan Andi yang kepelosan itu, sepertinya dia merasa tertarik dan ingin memastikan.


Surabaya, 3 Juli 2018, 19:48…


Ridwan dan Andi saling berdebat, ternyata pendapat mereka berdua pun berbeda. Tak lama kemudian, dia menepuk meja sambil tertawa keras.


Andi melihat hal itu, wajahnya dia pun menjadi merah karena malu.


“Tak perlu sampai tertawa begitu juga, kan.”


Andi berbicara, sambil memalingkan pandangannya sedikit.


“Soalnya, kencan pertama tidak mungkin di kelas lain. Bukan?”


Dengan tegasnya, sambil percaya diri, Andi mempertanyakan lagi.


“Memangnya kenapa? Bisa saja dia menjadi senang dan malu, gitu.”


Ridwan melanjutkannya lagi sambil tertawa garing.


“Biar kutegaskan, itu tidak mungkin terjadi. Pasti kamu ditolak.”


Andi yang ingin meminum tehnya, dia langsung meletakkan di meja setelah mendengar kata tidak mungin dari Ridwan.


“Kalau begitu, pergi ke perpustakaan dan membaca buku bersama…”

__ADS_1


Ridwan tertawa lagi sambil menepuk keras meja makan restoran itu, soalnya dia mengira si Andi bercanda dan membuat sebuah lelucon.


“Aku serius bro.”


“Tidak, itu bagus! Itu bagus, itu kamu banget! Kalau mengatakan sebuah kata-kata cinta pasti gagal diterima kali, ya.”


“Kenapa sih, dari tadi bilang gagal terus? Kalau kamu sendiri, bagaimana? Apa kamu bisa?”


Andi memalingkan wajahnya dari Ridwan, dia sambil memasang wajah seperti orang malu. Seakan-akan, Andi selalu gagal untuk pergi kencan dengan perempuan dan tidak tau cara untuk berkencan, maklum masih polos.


“Dengar Andi, yah. Kencan atau mengatakan sebuah kata cinta itu harus di tempat yang membuat pasanganmu senang dulu…”


Seorang wanita memakai seperti pakaian gaun berwarna warna putih dan membawa tas coklat di belakangnya, wajahnya yang imut dan cantik dengan rambut lurus panjang terurai sempurna. Dia yang sedang berjalan di pinggir trotoar jalan kota, sambil dia melakukan gerakan memutar-mutarkan badannya, sampai bajunya menyilau terang terpapas sinar lampu. Lampu malam yang indah menyoroti wajahnya, seperti seseorang bidadari yang lagi melakukan sebuah pertunjukan pada saat malam hari.


Ridwan melanjutkannya lagi dengan nada dan wajah sedikit serius.


“Iya, misalnya?”


Andi berdiri dari tempat duduknya dan mendekatkan wajahnya ke Ridwan. Ridwan pun berpikir seperti orang yang tidak tau apa-apa.


 “Ehhh...? Mi-misalnya…? Hmmm…?”


Andi yang serius ingin mendengarkan tips dan trik dari Ridwan. Ternyata Ridwan juga tidak tau cara untuk berkencan. Dia pun merasa kecewa.


“Kamu sendiri juga tidak tahu tentang kencan, tuh!”

__ADS_1


Andi pun kembali ke tempat duduknya, lalu dia memegang gelasnya.


“Kalau aku tahu apa yang aku maksutkan tadi, aku tidak akan berkencan dengan seorang wanita di malam hari ini, kan.”


“Benar juga, sih.”


Ridwan tiba-tiba mendekatkan wajahnya ke Andi. Andi pun refleks seperti orang kaget. Sampai-sampai, minuman yang mau dia minum itu pun jadi tumpah. Nada penasarannya dan tersenyum aneh ke Andi pun terlukis.


“Terus? Terus? Terus?”


“A-apaaa…?”


“Gadis mana yang kamu bilang cantik itu?”


Wajah Andi menjadi malu setelah Ridwan memberi pertanyaan tentang wanita cantik yang mereka debatkan. Andi membuang muka, melihat seorang pelayan restoran yang sedang membawa makanan ke meja pelanggan lain. Wajahnya yang cantik dan dia yang sedang memakai pakaian ala maid.


“Oh. Gadis itu, ya?”


Andi melirik apa yang Ridwan lihat, dan tanpa sadar dia terkejut.


“Bukan dia.”


“Dia juga cantik, sih?”


Ridwan terus melihat wajah wanita itu, sambil mengelus sisi dagunya. Andi melihat sekali lagi, dan kali ini dengan tatapan seperti orang dewasa.

__ADS_1


“Iya sih dia cantik, tapi bukan…”


__ADS_2