
Di bagian Ini, si penulis mengajak pembacanya agar tidak terlalu tegang dengan cerita sebelumnya yang sampai menguras pikiran sih. Di bagian ini di tambah sedikit adegan romance dan komedi lah. Jadi, ada kayak manis-manisnya, ok kita mulai. Sebelumnya, bagian ini sudah cocok dan nyambung kok dengan cerita bagian sebelumnya dan selanjutnya, jadi tenang saja ya.
Surabaya, 5 Juli 2018, 06:42…
Andi membuka pintu dan memasuki kelas dengan sedikit menguap, di papan tulis di dekat pintu tertulis sesuatu yang ditulis oleh teman sekelasnya.
“Aku berpikir mengapa kamu berbeda dari yang lainnya ya?”
Andi mengatakan dengan wajah sedih. kapur yang berada di tangan temannya menggambar sebuah gambaran cinta dan tertulis nama seseorang.
“Apa kamu seorang idola kelas?”
Andi tertawa garing. Namun Ridwan
menunjukkan sebuah ekspresi yang sangat bermasalah, melihat-lihat ke arah Andi dan
teman sekelasnya.
“Hei kamu yang di situ!”
Andi menatap wajahnya Ridwan sambil memberikan sedikit senyuman senam wajah di pagi hari. Dan Ridwan membalasnya dengan senyuman yang manis dan sedikit mencurigakan lalu memalingkan wajahnya.
__ADS_1
“Apa kamu tidak bisa melakukan sesuatu tentang hal itu Ridwan?”
Jika Andi akan marah melihat hal itu, Emilia akan menjadi sangat sedih. Dengan tanpa sindiran yang tajam dan candaan, dengan polosnya Ridwan mengatakannya dan di balik pandangan yang polos itu Ridwan akan.
“T-Terkutuklah kauuuuu…!”
Ridwan berteriak dengan kerasnya dan berlari menuju teras kelas. Dan teman sebelahnya Ridwan melihat sambil mengucapkan heran.
“Apa. Ridwan itu…”
Andi mengeluh nafas pendek, setelah melihat dia berlari keluar kelas.
“Yah, lupakan saja, jangan pikirkan dia! Dia akan kembali sebentar lagi kok. Jadi, tenang saja ya.”
kepang dua yang sedang duduk manis di sana.
Kulit yang berwarna putih dengan ekspresi seperti sebuah boneka, gadis itu membuat sebuah atmosfir yang nampaknya tidak ada di dunia ini.
“S-selamat pagi…!”
“Oh, selamat pagi Emilia.”
__ADS_1
Seperti yang akan diulanginya lagi, gadis itu ya siapa lagi dia itu Emilia teman masa kecilnya Andi, meresponnya dengan menganggukkan kepalanya sedikit, sambutan hangat yang seperti biasanya. Namun, hari ini tidak akan berakhir dengan senang atau dengan kata lain, tidak semuda itu ferguso.
“Anooo…? Andi!”
Mustahil untuk tidak memperhatikan atmosfir semacam itu. Di tempat duduk sebelah kanan Emilia, dia melihat kalau Andi tidak membawa bekal. Bekalnya Andi tertinggal di rumah saat dia terburu-buru ke sekolah. Emilia memandang Andi setelah menaruh makan siangnya dan bukunya.
“Bekalku kayaknya tertinggal di rumah.”
Emilia menawarkan bekalnya dengan perasaan sedikit gugub.
“A-apa kamu mau sesuatu?”
“Tidak ada. Terima kasih, Emilia.”
“… Huhhh.”
Sambil mengeluh nafas pendek Emilia tidak menyembunyikan ketidak senangannya, sambil dia membuat sebuah suara. Itu benar, normalnya Emilia tidak akan memperlakukan seseorang dengan sikap permusuhan. Tapi, gadis ini adalah special di matanya Andi, ya sangat special seperti saudara sendiri.
Siswa-siswa yang menyebar berangsur-angsur kembali ke tempat duduk mereka. Satu catatan lagi ya, Ridwan juga telah kembali ke dalam kelas lewat pintu belakang dengan menyelinap pelan-pelan. Anehnya dia adalah seseorang yang patuh pada peraturan sekolah yang ada.
“Kreeeekkkkk…!”
__ADS_1
Tidak lama kemudian, pintu kelas terbuka. Seorang perempuan yang mengenakan jas putih, berambut di ikat ke arah samping sedang berjalan ke dalam kelas. Dia yang sedang menirukan seorang murid bagaimanapun Andi melihatnya, tapi dalam tubuhnya dia sebenarnya adalah seorang guru cantik. bu guru Anna yang umurnya sudah mencapai dua puluh tujuh tahun. Dan yang paling penting dia itu masih jomblo loh, jadi siapa yang mau dengannya.