
“Cih… Ada apa?”
“Tolong bantu aku keluar dari kondisi yang memanas ini, Ridwan!”
Andi mengirim pesan dengan cara memberi kode dari gerak gerik jari tangannya itu, ya kayak bahasa isarat gitu. Ridwan pun mengerti tentang kode yang Andi berikan. Mereka pun saling mengirim kode dengan gerak girik di jari tangannya, supaya Emilia dan Adinda tidak tahu apa yang mereka rencanakan.
“Gimana caranya?”
“Kamu jalan sama Emilia keluar duluan, dia membawa bekal.”
“Bekal katamu?”
Ridwan pun langsung merasa senang yang ada di dalam hatinya, setelah dia diberitahu oleh Andi, bahwa Emilia membawakan sebuah bekal.
“Iya. Kamu ajak keluar gimana caranya gitu, supaya kamu dan Emilia bisa makan bersama. Kamu belum makan, kan?”
“Hmmm...? Itu ide yang sangat bagus, kalau kamu bagaimana?”
“Aku akan ajak Adinda untuk berkeliling di sekitar sekolah ini.”
Setelah selesai dengan saling mengirim kode gerak gerik jari tangan. Di sisi lain, Adinda mulai merasa penasaran dengan kelakuan mereka berdu. Ridwan menyetujui untuk mengajak Emilia keluar dan makan bersamanya.
__ADS_1
“Hei Adinda, kamu itu jangan…”
Suara keras Emilia yang ingin merarahi Andinda.
Tapi, Ridwan punya caranya sendiri. Sambil memutari sisi Adinda, dia menuju bangkunya Emilia yang berada tepat di samping bangkunya Andi.
“Hai Emilia! Emilia! Emilia! Kamu tau sesuatu kan?”
Sambil membisikkan pelan ke telinganya Emilia. Dia yang awalnya mau akan menegur dan memarahi Adinda yang ingin mengajak Andi keluar, dia berhenti berbicara keras dan penasaran apa yang dikatakan oleh Ridwan.
“Tau tentang apa Ridwan?”
Andi berdiri dari tempat duduk menuju ke Ridwan dengan cepatnya.
“Haaaaa... Tunggu Ridwannnn...! Stttttt…!”
Andi yang hampir membungkam mulut Ridwan dengan tangannya.
Andi yang sudah merasa dirinya terancam, sambil meneriakkan agar Ridwan jangan sampai kelewatan. Di sisi lain, Ridwan sudah mengerti akan hal itu, dengan memberikan sedikit kata, Ok tenang semua akan terkendali, kan ada aku. Seperti itu, dia sambil mengedipkan mata sebelah kiri.
“Tunggu Ridwan, aku belum selesai bicara sama Adinda.”
__ADS_1
“Kita bicara di luar dulu. Oh ya bekalmu jangan lupa di bawa.”
“Hehhhhh…? Tungguuuu…!”
Ridwan menyeret Emilia keluar dari kelas, sambil memegang bekal makannya Emilia yang tadi niatnya mau makan bersama Andi. Setelah sampai di pintu belakang kelasnya, Ridwan memberi sinyal berupa kode tanggan lagi.
“Ok. Andi lanjutkan aksimu.”
“Terima kasih kawan.”
Andi meneteskan airmata semangat juang untuk Ridwan yang sudah berhasil melerai mereka, agar Andi dan Adinda bisa bergi berduaan. Adinda jadi merasa kebingungan akan hal yang dilakukan mereka berdua.
“Hufffff… Akhirnya jantungku kembali normal. Tenang! Tenang!”
“Ada apa ya mereka berdua lakukan itu?... Ya sudah, ayo Andi!”
Dengan jeda pendek, sambil merasa penasaran dengan tingkah lakunya ke mereka berdua, Adinda langsung menarik tangannya Andi dan berlari keluar dari ruang kelas, untuk menemaninya keliling sekolahan ini.
“Dewa perkencanan kayaknya sedang berpihak kepadaku kali ini.”
Mereka akhirnya bisa berkeliling, sambil menerangkan apa yang ada di sekolahan ini. Sedangkan di sisi lain, Ridwan juga telah sukses memisahkan mereka berdua, agar tidak saling berantem ke depannya, dengan cara dia mengajak keliling sambil makan bekalnya Emilia di area kantin sekolah.
__ADS_1