
*****Lima Tahun Kemudian*****
_________________________
Suara seseorang yang sedang berlari di tangga, dia mengintip sedikit di balik pintu kamar tidurnya. Dengan senyuman yang mencurigakan, dia pun masuk, sambil mengucapkan dengan bentuk wajah yang cemberut sempurna.
“Ihhh…? Kakak masih tidur, apa dia lupa. Kalau hari ini dia harus menyiapkan sarapan, kakakkkk…!"
Dirinya yang belum sepenuhnya terbangun, dia telah melihat sedikit gambaran pantat putih dan sorotan cahaya kecil. Dia berpikir sepertinya ini adalah seekor kucing peliharaannya itu, dan dia berusaha menghiraukannnya.
“Aduhhh…!”
Bangun pagi terburuk yang pernah dia rasasan di pagi hari ini.
“Meaungggg…!”
Suara kucing yang duduk di wajahnya dengan pantat putih yang menghadap ke atas. Terdengar suara adik perempuan memanggil namanya, dia sambil menarik-narik selimut kamar tidur dengan pelan.
“Kakak bangun! Kakak bangun! Udah pagi kakak!”
Lagipula, ketika dia mulai terbangun dan menemukan adiknya sedang semangat menarik-narik selimut tidurnya, sedangkan si kucing yang sedang menari-narikan ekor ke arah wajahnya sambil menginjak-injak perut dan dada.
Surabaya, 2 Juli 2018, 05:46…
Kemarin adalah hari terakhir libur sekolah. Jadi, hari ini waktunya mereka berdua masuk sekolah.
Sambil mengusap matanya yang masih mengantuk, dia mendengar suara adik perempuan yang imut, dia itu namanya Ira Parwati.
“Hadehhh…! Adikku yang lucu, Ira.”
“Meaungggg…!”
Kucing melompat dari perutnya, dia pun mulai merasa terbangun.
“Aduhhh...?”
Saat itu akhirnya Ira menyadari bahwa kakaknya sudah terbangun, tapi adiknya masih menarik-narik selimut dengan semangat juang tinggi.
Seragam sekolah SMP yang rapi dan imut, dengan rambut pendek lurus ke depan. Tapi anehnya, meskipun dia baru saja tertangkap basah sedang menarik-narik selimut seseorang di pagi-pagi buta.
__ADS_1
“Kakak! Kakak! Kakak!”
Dia tidak membalas dengan kata sepeti Gawat! atau Ketahuan deh!. Tapi kenyataannya, dia terang-terangan terlihat gembira, karena kakaknya telah bangun pagi dari tempat tidurnya.
Dia menarik selimut lagi ke kepalanya secara diam-diam.
“Ahhh…! Heiii…! Kenapa tidur lagi!”
Ira mengeraskan suaranya, dengan pelan-pelannya menarik selimut sambil menggeser-geser tubuh kakaknya.
“Sepuluh menit lagi ya, Ira. kakak masih ngantuk, nih.”
“Gak boleh! Cepat bangun!”
Setelah duduk dan mengusap matanya sambil tertawa kecil, dia memiringkan kepalanya sediki karena merasa sedikit pusing. Dia mulai tersenyum lalu membuka mulutnya perlahan-lahan sambil mengucapkan.
“Cepat lariii… Iraaa…!”
“Ehhh…? Ada apa kakak?”
Wajah Ira langsung terkejut setelah kakaknya mengucapkan sesuatu.
“…Sebenarnya, aku telah menemukan surat misterius di bawah ranjang kamarku Ira. Kalau aku sampai membacanya ke dua kalinya atau ke tiga kalinya aku akan menjadi…”
“Apaaa…?”
“Lari…! Ira…! Selagi aku masih belum bisa menemukan surat itu...”
“T-tapi, bagaimana dengan k-kakak?”
“Jangan khawatirkan aku, selagi kau aman-aman saja.”
Andi menjawabnya pertanyaan Ira tanpa ada masalah. Sedangkan, Ira memberi pertanyaan lagi kepada kakaknya, dengan perasaannya dia yang mau akan lari keluar sambil memasang wajah yang sangat ketakutan.
“Gak mungkin! Kakakkk…!”
Dia sudah menyiapkan kuda-kuda lalu mengeluarkan suara sekeras.
“Gaaaahhh…!”
“Kyaaa….!”
“Gaaaahhh....! Hahahaha.…”
__ADS_1
Dia yang tertawa keras, langsung menarik selimutnya dari adiknya. Dengan gerakan liarnya dia menggerakan kedua tangannya dan meraung, membuat Ira kabur keluar dari kamarnya sambil berteriak ketakutan.
“...Hah.”
Sambil mengeluh nafas pendek karena merasa sudah tenang, dia menyelimuti dirinya lagi. Dan melihat jam, masih belum pukul enam.
“Masih jam segini sudah membangunkanku. Hadehhh… semangat sekail nih adikku, Ira.”
Saat Andi mengusap matanya, dia tiba-tiba mengingat sesuatu. Pikirannya yang setengah tertidur sambil menguap, perlahan-lahan pikirannya telah tersadarkan diri, muncul ingatan dari malam sebelumnya.
Dia melangkah maju dan mengambil sesuatu seperti kertas yang ada di atas meja belajarnya. Dia melihat dengan
keadaan yang sedikit kabur.
“Oh ya. Surat kakek dan aku harus pecahkan nih kodenya.”
Setelah selesai membaca sedikit, dia memasukkan surat ke dalam tasnya agar tidak kelupaan. Tiga puluh detik dia mulai kembali tidur lagi.
“Haduh, sampai lupa lagi? Kalau ibu dan ayah, kan lagi keluar negeri.”
Ceritanya itu, ke dua orang tuanya telah berangkat melakukan perjalanan untuk keperluan bisnis ke luar negeri kemarin pagi, jadi…
“Ohhh…? Pantasan adikku kok membangunkan aku pagi-pagi buta. Aku kan yang harus menyiapkan sarapan paginya.”
Karena itulah dia untuk sementara bertanggung jawab atas urusan dapur, maka dari itu dia yang susah bangun tidur, ibu meminta Ira adiknya itu untuk membangunkannya pagi-pagi buta.
“Ahhh…!”
Sambil mengeluh nafas dalam-dalam, karena merasa bersalah, seakan sudah melakukan sesuatu yang jahat kepada adiknya, dia terburu-buru bangkit lagi dari tempat tidurnya sambil menguap panjang.
Merapikan rambutnya yang acak-acakan sambil menahan kantuknya, dia sambil menguap dengan lesu berjalan keluar dari ruang kamar tidurnnya menuju ke kamar mandi untuk sekedar cuci muka.
Pada saat itu, cermin kecil yang berbentuk oval yang tergantung di dinding menarik perhatiannya.
“Waouuu…? Panjang sekali ini rambutku.”
Seorang anak laki-laki yang lesu, berponi yang hampir menutupi pandangannya dengan rambut terurai berantakan, anak itu bernama Andi Reynand. Mungkin karena dia sudah cukup lama tidak potong rambut.
“Aku harus cepat-cepat nih.”
Kembali ke kamarnya lagi dengan menganti pakaian tidurnya ke seragam sekolah SMA. Setelah selesai, dia sempat melihat foto kakek dan keluarga Andi yang terpajang di sisi sudut meja belajarnya.
“Kakek, tunggu aku ya.”
__ADS_1