
Andi menggaruk-garuk belakang kepalanya sambil berpikir heran, dia masih bingung, wajahnya yang menegang sambil melihat gambar garis di peta.
“Kakak?... Kakak?”
“Iya ada apa Ira, kakak masih berpikir tentang kode ini nih.”
“Kakak, Emilia lagi cemberut kak.”
Saat Andi melihat ke arah Emilia, dia hanya bisa mengangkat alis dan melihat dengan jelas ke arahnya. Emilia yang masih berdiri dengan posisi masih marah dan tidak mau lagi melihat ke arah Andi, dia pun berpikir.
Apa aku biarkan saja, walau menurutku, aku yang salah karena PHPin dia. Lalu, walau aku sudah sepenuh hati mencoba untuk meminta maaf pada untuk saat ini, bagaimanapun juga reaksinya tetap tidak baik dan marah.
Andi mulai melangkah ke arah Emilia dan mulai mengucapkan kata.
“Emilia maafkan aku! Maafkan aku yang sempat mencuekin kamu.”
Emilia tersipu malu, saat Andi meminta maaf sungguh-sungguh. Dia marah sambil membuang muka secara manis lalu berkatalah dia.
“Hmph… Udah aku mau duduk saja.”
Tak lama kemudian setelah bersuara tadi, dia langsung duduk dengan cara yang sama seperti tadi yang sudah saya jelaskan, masih saja sebal.
“Gimana nih, suasana tidak mendukung lagi.”
“Kamu sih, kenapa coba enggak memberi tau lebih awal.”
__ADS_1
“Sudah terlambat, Ridwan.”
Hanya kata pasrah yang terucap melemah dari mulut Andi.
Setelah sekian lamanya, suasana di dalam ruangan pun mulai terasa sedikit dingin, karena matahari sudah hampir terbenam dan berwarna jingga.
Bahkan jarum pendek jam sudah tepat di angka limabelas.
Kecapekan dan keputusasaan sudah mulai menyelimuti mereka bertiga, kecuali satu orang yang masih tetap merasa sebal, dia itu Emilia.
Jadi, dia masih dalam bentuk wajah yang sama, udah satu jam nih.
“Kakak ini sudah hampir malam kak, sudah waktunya kita pulang.”
“Haaaa… Pikiranku mulai tidak seimbang.”
“Emangnya kita lagi bergadang malam apa sampai ada pandanya?”
Andi terus memikirkan tentang perasaan Emilia yang selalu membuang muka dari Andi. Saat dia melihat dirinya, di saat itulah Emilia selalu menunjukkan wajah yang tidak ingin di dekati, Jangan dekati aku lagi! Gitu.
Di dalam hati Andi selalu berkata, kenapa dia hanya diam saja dan tidak mau bicara sedikitpun, padahal aku sudah meminta maaf, tapi hari ini.
Dan tidak lama kemudian, terdengarlah suara yang sangat sombong.
“Kenapa coba, kalian tidak memasukkan tempat itu ke peta?”
__ADS_1
“Heee…?”
Suara menggema muncul dari mulut mereka bertiga.
Namun, sekarang hatinya Andi seperti tertabur bunga yang sangat indah, akhirnya Emilia berbicara. Walaupun dia hanya diam satu jam saja, tapi satu jam saja tanpa kata terucap dari mulutnya, hati Andi seperti sudah pecah.
Mereka semua pun seketika terkejut oleh perkataan Emilia, wajah serius mereka terhanyut oleh suaranya. Setelah sadar akan kesalahannya yang dia buat, dengan langkah cepat Andi pun menghampirinya, lalu bicara.
“Kamu tadi bilang apa Emilia? Tolong kamu ulangi lagi!”
“Kenapa kalian tidak memasukkan aja tempatnya itu ke dalam peta.”
Andi melihat peta itu lagi, lalu dia melangkah maju, dengan lihainya dia berhenti di depan papan tulis, dia melihat kode dari tahun dengan garis lurus yang di peta. Dia berpikir sambil mencari satu-persatu celah dari gambar.
“Coba saya gambar kasaran di papan dulu, apa betul.”
Ridwan yang sudah tau maksut Andi, dia langsung menyempurnakan.
“Jadi, lokasi dari tujuh keajaiban dunia yang ada di kode tahun itu adalah tempat dari peta, terus kita menghubungkannya gitu sesuai lokasinya.”
“Betul juga. Hmmm….? Kok aku tidak berpikiran seperti itu ya?”
“Mungkin kamu memikirkan tentang Emilia ya, Andi?”
“Enggak lah… Hahaha…”
__ADS_1
Andi berpura-pura tertawa untuk membuat alasannya itu benar.