
Dan pelajaran pertama di mulai. Bu Anna langsung memulai pelajarannya dengan pembagian struktur organisani kelas dulu.
“Ok apa sudah lengkap? Sebelum itu, kita perlu memutuskan siapa yang akan menjadi ketua kelas. Ada relawan?”
Awalnya semua pada ramai, ada yang ngombrol sama temannya dan ada yang memainkan handponenya. Setelah bu Anna memberi pertanyaan tentang menjadi relawan, semuanya pada diam dan kejam. Atmosfer di dalam kelas yang begitu sempurna, sunyi seketika dan tidak ada jawaban sama sekali.
“Ada yang bisa jadi relawan? Hmmm… Kok diam?”
Beberapa saat kemudian, seorang wanita tiba-tiba berdiri. Semua murid di kelas ini melihat ke arah murid perempuan yang baru saja berdiri itu.
“Jika tidak ada yang mau melakukannya, biar aku saja bu!”
“Apa kamu yakin menginginkannya yang ini juga?”
“Ya. Aku tak punya banyak kerjaan dan pada saat SMP tahun lalu aku juga pernah jadi ketua kelas. Jadi…”
“Ok kalau begitu, kamu saja yang jadi ketua kelas. Selanjutnya siapa yang akan jadi wakil kelas?”
Mendengar kata dari bu Anna untuk pembagian struktur organisasi kelas, Andi menguap lagi, sambil menyandarkan wajahnya ke tangan dan melihat birunya langit, dia pun mulai berpikir dengan bermacam deretan kata.
“Hmmm…!”
Andi memikirkan bagimana caranya memecahkan ini kode? Apa dia harus ke perpustakaan sendiri. Atau perlu membuat klub sekolah agar dia bisa memecahkan bersama dengan temannya agar lebih realistis kedepannya. Tapi, sebelum itu dia harus mencari anggota dulu agar klubnya diakui.
“Apa aku harus membuat klub sendiri ya?”
Andaikan, Andi setelah selesai memecahkan ini kode, dia yang masih penasaran, apa yang di sembunyikan kakeknya dari Andi. Sampai si kakek membuat surat sangat penting, apa sebuah penelitiannya ataukan sebuah harta yang berupa benda peninggalannya yang sangat penting.
Sambil memandangi ke arah Emilia yang berada di sampingnya dan Ridwan teman sebangkunya itu, Andi pun memutuskan untuk membuat klub dengan beranggota tiga orang saja. Tenang saja sama Ridwan itu, dia itu orangnya baik kok, Andi hanya pura-pura cuek saja. Di karenakan di hari pertamanya sekolah dia kurang semangat aja.
Sebelum itu, Andi harus berdiskusi dengan mereka berdua, tentang alasan kanapa dia ingin mendirikan klub sekolah sendiri.
“Ada apa dengan Andi, ya?”
Emilia berbicara sendiri sambil memegang ke arah dadanya, sebab dia mengawatirkan keadaan Andi. Di karenakan Andi memikirkan sesuatu yang membuatnya merasa cemas dan hal itu sudah di maklumi.
Setelah sekitar siang hari, bu Anna mengakhiri pelajaran pada sekolah pertama. Dengan mengetuk keras buku yang dibawahnya ke arah meja.
“Ok… Sampai di sini aja ibu mengajar, sekarang kalian boleh pulang.”
__ADS_1
“Terima kasih, bu.”
Setelah selesai, dengan pembagian struktur organisai kelas pada pertemuan pertama sekolah, semuanya murid pada siap-siap untuk langsung keluar dari kelas dan kembali ke rumahnya masing-masing.
Suasana atmosfer kelas yang perlahan-lahan mulai hening. Emilia akan memberanikan dirinya untuk melangkah maju ke mejanya Andi, dia sambil mengucapkan sesuatu kepadanya dengan nada tersendat-sendat.
“Anoooo…! A-andi kamu ada jadwal tidak hari ini?”
Andi yang sedang melihat ke arah jendela. Dia mulai bangun karena ada yang memanggilnya, lalu melihat ke arah Emilia yang sudah berdiri di sampingnya sambil berwajah malu, dengan sedikit terkejutnya, dia menjawab.
“Aku?”
Tiba-tiba Ridwan langsung berdiri dari mejanya sambil menjawab.
“Kalau aku tidak ada.”
Emilia memberikan pertanyaan ke Andi dengan wajah yang malu dan penuh keberaniannya. Tapi, pertanyaan itu
langsung di jawab oleh Ridwan. Dia yang sedang sedikit kesal kepada Ridwan, dia menegurnya dengan nada cuek.
“Ohhh…? Perkenalkan namaku Ahmad Ridwan.”
Emilia yang sedang berwajah judes, dia akan berusaha menghiraukan tingkah lakunya Ridwan. Dia membuang mukanya sambil bernada yang sama.
“Iya sudah tau. Andi, a-aku boleh mampir ke rumahmu?”
Dengan jeda yang pendek, Emilia mengganti pertanyaannya.
“Lah aku malah di cuekin.”
“Hmmm…?”
Sambil memalingkan wajahnya dari Emilia, Andi memikirkan sejenak. Soalnya, dia ada janji sama adiknya untuk makan siang bersamanya di restoran keluarga dekat rumahnya itu. Emilia mengetahui isi hatinya Andi, dia yang sepertinya lagi ada halangan dengan sebuah janji. Emilia pun langsung drop perasaan yang ada di hatinya, ya seperti kehilangan semangatnya gitu.
“Ada apa Andi, gak bisa ya?”
Emilia mengucapkan sedemikian dengan nada yang sedikit sedih.
__ADS_1
“Bisa sih. Tapi, aku mau mampir dulu ke restotan keluarga untuk memenuhi janjiku ke adikku. Soalnya aku sudah janji ke adikku untuk membelikannya hamburger siang hari ini.”
Emilia yang mengetahui hal itu, dia bangkit lagi dan semangat dari yang namanya drop hati, akan seperti ajakan dia akan ditolak. Dia mengatakan dengan semangatnya untuk mengajaknya agar dia bisa berduaan bersama Andi. Dan sekalian Emilia ingin bertemu dan mengobrol bersama adiknya Andi.
“Ya sudah, sekalian aku sudah mulai lapar dan ingin makan hamberger juga. Hamberger yang di restoran dekat dengan rumahmu, kan?”
“Iya. Dan tunggu dulu, kenapa kamu bisa tau?”
Ridwan yang menguburkan dirinya, sambil dia memasang wajah sedih melihat ke arah bawah, ya lebih tepatnya orang yang lagi di tolak mentah-mentah isi hatinya itu loh. Dan akhirnya dia bangkit dari keterpurukan yang lama, setelah mendengarkan kata makan bersama di restoran. Mengucapkan dengan mengambil nafas dalam-dalam, lalu mengungkapkan isi hatinya.
“Aku ikut ya Andi? Aku juga lapar!”
Ridwan mengatakan sedemikian, sambil dia memukul keras meja yang di depan Andi dengan telapak tangannya, Andi terkejut lalu berpikir.
“…Hmmm?”
“Apa boleh Andi?”
Tanpa di sadari di sisi lain, Emilia mengucapkan dengan kerasnya.
“Gak bolehhh…!”
Andi yang sedang memikirkan sebuah rencana. Emilia yang awalnya semangat, dia langsung memasang wajah cemberut, karena dia melarang Ridwan untuk ikut. Andi yang sudah selesai memikirkan, dia perlahan-lahan wajahnya tersenyum mencurigakan, sepertinya rencananya itu sudah selesai.
“Ya sudah, Ridwan juga ikut. Sippp… Yang bayar Ridwan!”
Setelah Andi mengucapkan persetujuan untuk makan bersama. Emilia dan Ridwan langsung drop hatinya, di tambah sedikit ada rasa kesal dan cuek.
“Lohhh…?”
“lah, kok aku yang bayar! Huhhhh…”
Tak lama kemudian akhirnya Andi, Emilia dan Ridwan, mereka bertiga memutuskan untuk keluar dari ruang kelasnya, dan sekalian makan bersama di restoran keluarga, di karenakan Andi ingin menepati janji itu kepada adiknya.
Suasana sekolah SMA sudah mulai terasa sepi, sebab hari ini hanya ada acara pembukaan pertama sekolah dan pembagian struktur organisasi kelas saja, sehingga semua siswa dan siswinya di pulangkan lebih awal. Dan besok mulai masuk sekolah dan beraktifitas pembelajaran seperti biasanya.
__ADS_1