Event Horizon

Event Horizon
Rencana mereka berdua


__ADS_3

Berjalan berduaan sama Emilia, Andi berwajah malu-malu saat keluar dari kelasnya karena di kira berkencan. Andi dan Emilia berjalan di koridor lantai tiga sekolah menuju ke ruang klub sejarah. Sebenarnya, ruang klub sejarah itu adalah ruang klub yang sudah di dirikan oleh Ridwan sejak tadi.


Untuk mengejutkan Andi, Ridwan dan Emilia menyuruh salah satu anak dari kelas lain agar berpura-pura menjadi salah satu anggota OSIS. Dia menyuruh anak itu untuk memberitahukan kepada Andi, agar dia datang ke ruang klub sejarah sehabis pelajaran ke dua selesai atau jam istirahat pertama.


Ceritanya begini. Pada pagi hari, tepat di depan pintu masuk gedung utama sekolah. Ridwan menghampiri Emilia sambil berlari tergesa-gesa.


“Emilia! Emilia! Tunggu!”


Emilia mendengar suara menggema keras, sepertinya dia sudah kenal yang sedang memanggilnya, dia spontan berhenti dan menengok ke belakang.


“Eh, Ridwan ada apa?”


Ridwan berhenti tepat di depannya Emilia. Sambil menarik nafas sebentar, dia mengucapkan dengan nada tergesa dan sedikit memaksakan.


“Emilia aku punya kabar gembira!”


Emilia yang mendengarkan seperti ada hal yang luar biasa, dia hanya bisa memasang wajah seperti orang ingin tau dan penasaran karena terkejut.


“Kabar gembira apa?”

__ADS_1


“Pihak ketua OSIS sudah menyetujui kalau kita bisa buat klub.”


Wajah Emilia berubah menjadi keget, karena ingin merasa tenang, dia menarik nafas sebentar lalu membuka mulutnya selebar.


“Apaaa…? Tapi gimana caranya?”


Dengan jeda pendek dan sempat ada suara menggema keras karena infonya mendadak kaget tidak menentu. Emilia mempertanyakan lagi dengan wajah seperti orang yang penasaran dan ingin tau bagaimana caranya.


“Caranya…”


Ridwan yang tidak ingin Emilia tahu bagaimana caranya. Dia memasang wajah tersenyum lalu mengedipkan mata sebelah, meletakkan jarinya ke dagunya, dan memiringkan kepalanya sedikit sambil mengucapkan.


Wajah Emilia serius memperhatikan, seakan sesuatu hal yang keluar dari mulut Ridwan. Lalu dia pun berwajah sedikit kecewa, setelah mengetahui sesuatu yang berbau masih rahasia itu yang keluar dari mulutnya Ridwan lagi.


“Yaelah. Rahasia segala, tapi itu beneran kan?”


“Iya Emilia, masa aku bohong. Emangnya wajahku itu mencurigakan.”


Emilia yang sudah mengetahui berita dari Ridwan, kalau klubnya sudah berdiri, dia perlahan-lahan hatinya berubah tersenyum karena bahagia.

__ADS_1


“Ya sudah kalau begitu. Aku beri tahu Andi dulu ya?”


Emilia membalikkan badan dari Ridwan, dia yang hampir melangkah cepat kilat. Lalu tangan Ridwan spontan menarik tasnya Emilia dari belakang.


“Tunggu Emilia!”


Emilia mendengar suara sambil ditarik tasnya dari belakang, karena sedikit penasaran dan terkejut, dia berhenti lalu menengok ke arah belakang.


“Ada apa Ridwan?”


“Tapi, tolong dirahasiakan sama Andi dulu! Biasa, membuat sebuah kejutan ke dia. Agar dia mikir-mikir dulu gitu, hehehe…”


Dengan wajah jahat mereka berdua, mereka merencanakan sesuatu.


“Ya sudah, terima kasih ya Ridwan. Kamu sudah repot-repot bicara sama ketua OSIS kita. Terima kasih ya Ridwan!”


Emilia berbicara sambil menepuk keras punggungnya Ridwan.


“Sakit Emilia! Sakit!”

__ADS_1


Sebelum itu Emilia sudah tahu bahwa Ridwan sudah mendirikan klubnya tadi pagi. Emilia pura-pura tidak tahu, supaya mereka ingin melihat betapa terkejutnya Andi, bahwa klubnya sudah jadi sejak saat tadi pagi.


__ADS_2