Event Horizon

Event Horizon
Ketepatan janji sang kakak


__ADS_3

Mereka bertiga berjalan, ya kira-kira setengah perjalanan memuju restoran. Andi berjalan dengan santainya, sambil yang ada di dalam hatinya itu pun ikut tersenyum juga, posisi dia berada di depannya Emilia dan Ridwan.


“Asik dapat traktiran makan. Heheh…”


Sedangkan di sisi lain, Emiliaberjalan di belakang Andi, dia yang sedang memasang wajah yang kesal, berbicara sendiri gak jelas bentuknya.


“Kenapa Ridwan juga ikut. Padahal aku ingin bertiga aja.”


Dan di sisi lainnya juga, Ridwan yang berada di sampingnya Emilia dan mundur ke belakang sedikit, dia malah sedikit sedih, sambil berjalan bukannya menghadap ke depan, malah dia menghadap ke bawah sambi bersedih karena memikirkan masalah yang namanya uang jajannya, apa cukup atau tidak ya.


“Uang jajanku kali ini akan bangkrut.”


Surabaya, 2 Juli 2018, 11:26…


Andi, Emilia dan Ridwan, berjalan menuju restoran yang ada di dekat seberang jalan rumah Andi. Setelah sampai di sana, terlihat seorang gadis manis berpakaian seragam SMP yang terlihat tidak akrap dengan sedotan minumannya. Dia duduk sendirian di belakang samping dekat jendela, bentuk wajahnya yang mulai cemberut sambil dia memainkan sehelai rambutnya.


“Kakak, lama sekali. Apa dia itu sudah lupa ya, sama janjinya.”


 Dia itu adalah Ira adiknya Andi. Tak lama kemudian, dia yang lagi menunggu kakaknya datang, setelah dia melihat kakaknya sudah masuk di dalam restoran. Tiba-tiba, dia langsung berdiri, memasang wajah tersenyum sambil melambaikan tangan ke arah kakaknya, suara keras menggema muncul.


“Kakak! Kakakkkk… Sini!”


Ira sangat senang sambil melambaikan tangannya ke arah Andi, karena Andi kakaknya telah menepati janjinya yang dia buat itu.


“Kenapa kakak membawa Emilia dan seorang laki-laki ke sini?”


Memiringkan kepalanya, dan perlahan-lahan Ira merasa kesal lagi, dia mengira kakaknya datang sendiri. Eh malah sebaliknya, ternyata kakaknya membawa Emilia dan seorang temannya laki-laki yang memakai kacamata.

__ADS_1


“Hei Ira?”


Emilia juga melambaikan tangannya ke arah Ira, setelah dia melihat ada seorang adiknya Andi, Ira yang lagi melambaikan tangannya itu. Dengan wajah yang senang, tanpa menunggu mereka bersama-sama menghampirinya.


“Iya Emilia. Dan akhirnya kakak menepati janjimu ke aku. Kirain kakak tadi tidak bakalan datang?”


“Maaf kakak datangnya lama. Kakak pasti menepati janji kok, laki-laki tidak boleh melanggar janjinya kan?”


Andi mengucapkan sambil melakukan gerakan mengedipkan mata kirinya ke Ira. Sedangkan di sisi lain, Ira penasaran sama laki-laki yang berada di belakang kakaknya. Dia melihat seperti, Andi kakaknya itu membawa seorang teman teroris untuk makan bersama. Padahal dia adalah teman sekelasnya Andi yang baik hati dan tentunya dia sok keren. Dirinya yang merasa terancam, Ira mempertanyakan ke kakaknya dengan sedikit takut.


“Iya. Oh, k-kakak siapa anak yang berkacamata itu?”


“Siapa? Oh iniii…?”


Andi yang ingin mengerjain Ira, dia perlahan mulai tersenyum sadis.


“… Dia adalah teroris yang akan mentraktir kita.”


Emilia yang mengetahui candaan Andi, dia mulai tersenyum manis.


“Hey, Andiii...!”


“Hahahah… Maaf! Dia adalah teman sekelasku yang namanya Ahmad Ridwan. Aku pertama bertemu dia di toko swalayan minggu yang lalu. Tenang Ira, dia itu orangnya baik kok.”


Dengan jeda pendek karena merasa bersalah, Andi menjelaskan ke Ira yang sedang ketakutan. Wajahnya Ira perlahan-lahan mulai tenang, setelah kakaknya menjelaskan dan sedikit mengelus kepalanya Ira. Dia yang sudah mulai tenang, tidak lama kemudian, Ira menawarkan ke kakaknya untuk duduk di dekatnya sambil menepuk kursi yang berada di sebelahnya itu.


“Hmmmm…? Ya sudah sini kak, duduk sini!”

__ADS_1


Dengan candaan kecil, mereka pun duduk, dengan posisi Andi duduk di samping Ira sedangkan Emilia dan Ridwan duduk berhadapan dengannya.


Andi mulai memanggil seorang pelayan untuk menuju ke mejanya, dia sambil melambaikan tangannya ke arah salah satu pelayan di sini.


“Permisiii… Mbak?”


Salah satu dari yang lainnya, ternyata ada pelayan yang langsung menghampirinya dengan langkah kaki yang lemai gemulai sambil memegang sebuah catatan buku kecil dan pensil, dia yang siap menulis dan menunggu sebuah pesanan, dia sambil memasang wajah tersenyum manis ke pelanggan.


“Iya mau pesan apa dan minum apa?”


Tiba-tiba, mereka berempat bicara keras, serentak dan kompak.


“Kami mau pesan hamberger dan minum segelas es teh.”


Pelayan itu bingung, lalu pergi sambil memasang senyuman kecil.


“Tunggu sebentar ya?”


Tidak lama pelayan itu pergi, kemudian datanglah pelayan lain yang mengatarkan makanan dan minuman yang di pesan ke mejanya Andi.


“Ok silahkan menikmati.”


Mereka bersama-sama mulai memakan hamberger dan meminum es teh yang di pesan oleh mereka dengan perasaan yang senang.


“Hahhh… Kenyang!”


lima bukan sepuluh menit kemudian, setelah makanan hambergernya habis dan tinggal setengah gelas minuman teh dingin yang tersisa.

__ADS_1


 


 


__ADS_2