Event Horizon

Event Horizon
Alasan membuat klub sekolah


__ADS_3

Aura atmosfer udara di sekitar mereka perlahan-lahan mulai terasa hening dan suasana di dalam ruangan mulai mengayun ke arah kekawatiran. Tapi, malah sebaliknya karena akan ada diskusi yang dapat menekan batinnya.


Emilia melihat ke arah Andi sambil meminum teh dinginnya. Dia yang mengetahui sesuatu hal dari bentuk wajahnya Andi, karena dia melihat seperti orang yang lagi kebingungan, lalu dia perlahan mengajukan pertayaan ke Andi.


“Andi kenapa kamu kok terlihat sedikit bingung?”


Tanpa sadar Ira ikutan merasa kawatir kepada kakaknya, lalu berkata.


“Iya, kakak ada apa?”


“Hey Andi ada apa? Ada yang perlu di bantu?”


 Setelah Andi selesai meminum tehnya, dan meletakkan kembali ke tempat asalnya. Andi meminta bantuan kepada mereka dengan wajah yang serius, dia sempat melakukan mengeluh nafas panjang sebelum mengatakan.


“Ayo kita buat klub sekolah sendiri.”


Andi mengajukan keinginannya itu ke Emilia, Ridwan, dan adiknya Ira. Dan tanpa di sadari, mereka bertiga terkejut dengan permintaan Andi itu.


Di sisi lain, Emilia yang awalnya sedang minum teh dinginnya, dia tidak sengaja menyemburkan minumannya ke arah wajahnya Ridwan.


“Burrrrrr...”


Wajahnya Ridwan penuh dengan air es teh yang diminum oleh Emilia.


“Maaf! Maaf! Tidak sengaja.”


Mereka bertiga melihat ke wajah Ridwan, dengan wajah mereka yang mulai menegang, dan sepertinya mereka mengira Ridwan akan marah. Tapi sebaliknya, Ridwan malah mengambil kacamatanya, lalu bentuk wajahnya melakukan gerakan tersenyum, sambil dia mengucapkan dengan nada lucu.


“Terima kasih.”


Mereka bertiga terkejut dan spontan bersama mengeluarkan suara.


“… HHHHHHEEEEEEEEHHHHHHH…”

__ADS_1


Suara pun menggema keras di restoran itu. Semua orang yang awalnya makan dengan santainya, tiba-tiba berhenti makan dan melihat ke arah mereka berempat dengan perasaan aneh dan sedikit terkejut.


Emilia memasang wajah yang sangat heran. kenapa bisa, padahal tadi dia menyemburkan minumannya ke arah Ridwan, dia menyangka Ridwan akan marah, tapi kenyataannya senang, tersenyum, dan mengucapkan terima kasih.


“Hmmmm…? Ingin membuat klub sendiri ya? Kirain ada apa?”


Mengatakan sedemikian sambil meletakkan kacamatanya kembali ke wajahnya dan menggoyangkan kacamatanya sedikit. Ridwan sepertinya sedikit setuju dengan Andi, karena Ridwan punya alasan sendiri. Sedangkan Emilia masih penasaran, kenapa Andi ingin membuat klub sekolah. Lalu Ira yang ingin mengatakan sesuatu ke kakaknya, dia sempat menengok ke arah mereka.


“Lah, kakak ingin buat klub sekolah, buat apa kak?”


“Iya, Andi buat apa meminta kami untuk mendirikan klub sekolah?”


Bentuk wajah Andi mulai menegang, sambil membuat seperti lingkaran kecil di tangannya. Setelah merasa tenang, dia memberikan alasan dengan suara tersendat-sendat, di karenakan hal itu tidak akan terwujutkan.


“A-aku ingin mendirikan klub. Supaya… Supaya…”


Andi memberikan alasanya dengan sedikit tidak percaya diri. Emilia yang mengetahui hal itu dari bentuk wajahnya, tiba-tiba dia bersuara keras.


“Alasannya adalah kita bisa bersama-sama memecahkan isi kode yang kakek berikan ke aku. Dan ada alasan lain juga, tapi yang terpenting kalau sudah terpecahkan pasti selanjutnya akan kita selalu bersama, kan? Maka dari itu, kita harus mendirikan klub sendiri, berempat aja anggotanya!”


Karena sedikit terkejut dan sempat bingung, Andi memberi alasan ke mereka tanpa memperhatikan logat bicara, dia sempat juga sedikit kesulitan mengendalikan sebuah kata-kata yang sedang keluar dari mulutnya sendiri.


Setelah Emilia mengetahui akan hal itu, dia perlahan-lahan memasang wajah yang kecewa, lalu dia mengatakan dengan nada sedikit lemas.


“Tapi Andi, kode itu kan, untuk kamu? Kalau kami ikutan akan…”


Secara tidak sengaja isi pikiran Andi langsung menghilang, setelah mendengarkan sebuah kalimat seakan hal itu tidak akan terwujud. Dia mengambil nafas dalam-dalam, lalu mengeluarkan kata dengan nada santai.


“Tidak Emilia. Begini, lebih baik bergerak sebagai kelompok dari pada bertindak atas keinginan sediri. Dan hal


seperti itu akan lebih mudah.”


Dengan jeda pendek, Andi memberikan sedikit kata mutiaranya, awalnya suasana yang tegang dan akan hal tidak akan terwujutkan olehnya.

__ADS_1


“Ok, kalau begitu.”


Dengan jeda pendek, setelah di pikirkan secara matang-matang, akhirnya Emilia bersedia membantu Andi untuk


mendirikan klub sekolah sendiri. Suasana hatinya Andi pun perlahan menjadi rileks dan sedikit tenang.


“Hmmm…? Betul juga.”


Ridwan masih berpikir tentang kata yang di ucapkan Andi. Ira mengajukan pertanyaan kepada mereka, sepertinya dia tidak mendengarkan.


“Siapa saja anggotanya, kakak?”


Di waktu yang tidak tepat, Emilia mengucapkan sesuatu ke Andi. Andi menghiraukan pertanyaan adiknya. Ira mulai merasa cemberut dan cuek.


“Tapi Andi membuat klub itu sedikit sulit. Sebab, kita harus mempunyai minimal lima anggota dan satu guru


pembimbing loh, agar klub kita di setujui oleh pihak ketua OSIS.”


Setelah Emilia memberi sebuah sarannya. Andi pun berpikir lagi.


“Hmmmm…? Tapi aku…”


Tiba-tiba Ridwan berdiri dari tempat duduknya, dia menuju ke samping Andi, lalu menepuk bahu Andi dengan kerasnya. Dia memberikan alasan lain, supaya mereka penasaran terhadap rencana Ridwan ke depannya.


“Ok. Aku usahakan agar kita bisa mendirikan klub sekolah sendiri.”


“Hmmmm… Apa bisa Ridwan?”


Ridwan spontan langsung menjawab dengan penuh percaya dirinya.


“Tentu saja, itu bisa.”


Ridwan memasang wajah seperti orang yang sedang melancarkan sebuah hal yang berbau rahasia kepada mereka, dengan wajah tersenyumnya yang mencurigakan itu. Tapi, Emilia sedikit tidak yakin kepada Ridwan.

__ADS_1


__ADS_2