
Tapi… Di sisi lain yang Emilia rasakan hanyalah ingin cepat tau tentang kode itu dengan semua yang mereka sedang diskusikan ini, udah itu saja.
“Lalu Andi. Apa hubungannya puisi ini dengan kode milik kakekmu.”
“Nah itu, aku masih belum mengerti.”
Namun sesungguhnya Andi sekarang tidak memikirkan tentang kode itu sekarang. Tapi, malah sebaliknya dia memikirkan hal tentang bu Anna.
Tunggu dulu, bu Anna pernah bilang. Kalau puisi ini berisi tentang tujuh keajaiban dunia kuno dan buku kakek mengatakan demikian juga…
Begitulah apa yang ada di dalam pikirannya Andi, sambil memikirkan tujuh keajaiban dunia dengan sebuah buku puisi yang dia pegang itu.
Andi mulai bicara pelan sambil melihat buku yang dia bawa itu.
“Satu… Dua… Tiga…, …, Tujuh…?”
Emilia mulai berdiri dan melangkah maju ke Andi, dia yang sedang serius menghitung sesuatu yang dapat membuat Emilia bertanya keheranan.
“Ada apa Andi, kenapa kamu malah menghitung di setiap baris di puisi itu? Apa kamu menemukan sesuatu di puisi itu?”
“Sepertinya masih belum. Tunggu! Coba saya tulis di papan dulu ya?”
__ADS_1
Tidak lama kemudian, setelah Andi membacakan sebuah kalimat pendek sambil dihitung di setiap baris puisi itu. Tanpa disadari, dia langsung melangkah maju ke papan sambil membawakan sebuah sepidol hitam di tangannya. Dia menuliskan kalimat yang dia baca itu ke papan putih bersih, dia sambil berpikir dan membuat jeda di antara kalimat yang ditulisnya itu.
Mereka bertiga hanya diam saja sambil melihat Andi menuliskan sebuah kalimat pendek, tulisan yang berwarna hitam pekat dipapan putih, lalu dengan tangan lihainya, dia menuliskan garis miring di antara kalimatnya itu.
… Aku telah menyaksikan tembok Babilonia yang perkasa yang di atasnya terbentang jalanan untuk kereta-kereta perang / dan patung Zeus di tepi sungai Alfeus / aku telah melihat taman gantung / dan Kolosus patung kolosal Dewa Matahari / dan gunung buatan dari piramida yang menjulang tinggi / serta makam raya Raja Mausolus / namun ketika aku melihat kuil Artemis yang menjulang ke awan-awan / yang lain itu semuanya kehilangan keindahannya, dan aku berkata, 'Tengoklah, selain Olympus, Matahari tidak pernah lagi melihat apapun yang sedemikian agung…
Di tengah Andi sedang menulis puisi ini, dia sempat berpikir sambil mengerutkan dahinya. Mungkin ini ya, atau yang ini. Begitulah pikirannya.
Sedangkan mereka bertiga hanya bisa diam sambil berpikir ke Andi.
Tidak lama kemudia, setelah Andi selesai menulis puisi dan juga diberi jeda, dia pun melanjutkan penjelasannya itu dengan mengetuk papan tulis.
“Kalau aku beri jeda seperti ini, jadi total ada tujuh. Dan mungkin di setiap jeda ini terdapat kata yang dapat mewakili tujuh keajaiban dunia kuno.”
“Iya Ridwan. Tapi, di sini kan ada tulisan piramida, mungkin kata-kata itu yang aku beri jeda ini memiliki maksut dari tujuh keajaiban dunia kuno.”
Setelah Andi berkata demikian, Ridwan tidak mendengarkannya tapi, malah membuka cemilan yang dia bawa sendiri di tasnya, lalu dia berkata.
“Hmmm… Terus Andi?”
“Jadi, kalau kita mencari kata yang sudah aku beri jeda ini pasti ada hubungannya dengan tujuh keajaiban dunia kuno. Aku hanya memprediksi saja sih… Soalnya ada kata piramida dan jumlah jedaku hanya ada tujuh saja…”
__ADS_1
“Hmmm… Terus Andi?”
Tidak lama kemudian, setelah hampir selesai menjelaskan semuanya kepada Ridwan dengan seriusnya. Andi seketika berhenti sesaat dan melihat ke arah Ridwan yang sangat akrap sedang makan cemilannya itu.
Andi hanya bisa melihat Ridwan dengan tatapan ingin menerjang mangsa diam-diam. Tapi, saat menegukkan air liurnya karena ingin mencicipi juga, dia pun sadar lalu memulai bicara lagi dengan awal batuk dulu, dan…
“Terus… Ridwan! Kamu tuh dengerin aku gak sih, aku capek-capek jelasin semua ini ke kamu. Kamu malah asik makan cemilan, sendirian lagi…”
“Maaf Andi! Jangan marah di sini, tidak baik sama adikmu tuh!”
“Kamu itu ya, Ridwan… Sini cemilannya aku juga mau minta!”
“Kamu akhirnya ujung-ujungnya minta juga tuh.”
Saat Ridwan mengangkat tangannya ke arah Andi, dia melirik sekilas. Tidak lama kemudian, dia mengambil paksa makanannya Ridwan sambil sedikit malu dan sempat ada rasa emosi, lalu saat makan dia berkata cuek.
“Diam kamu. Brisik!”
“Iya… Iya…”
Atmosfer abnormal ini berlangsung selama 2 sampai 3 menit. Dan…
__ADS_1
Andi berpikir lagi, sambil mencocokkan kode peta yang dia pegang ke tulisannya. Secara perlahan dan berulang, sambil arah pengelihatan matanya melihat-lihat, lalu terfokus ke kode yang di petanya dengan apa yang dia tulis di papan, dia mencari satu-persatu celah dari isi puisi dengan kodenya itu.