
Ira yang sudah merasa sedikit kawatir akan kemarahan kakaknya, dia pun seketika itu menyelah pembicaraan sambil menggenggam tangan Andi.
“Kakak jangan marah-marah! Kakak!”
“Ira kamu diam dulu! Kakak ini sedang berbicara kepada Emilia…”
Andi hanya bisa marah tanpa ada tekanan emosi. setelah selesai bicara kepada Ira, dia lanjut bicara kepada Emilia sambil menatap langsung, tapi Emilia tidak bisa menatap mata Andi, dia hanya bisa menunduk sedih.
“… Kamu dari tadi selama sejam, kamu terus menyendiri di pojok dan tidak mau bicara sama sekali, dan lagi tak mau menatapku. Bagaimana aku bisa berunding kalau kamu seperti itu duluan, aku kan jadi bingung Emilia?”
“Itu… Aku…? Aku…?”
“Iya kamu sedang kenapa…? Dasar kamu itu ya…”
Andi melangkah maju, lalu tangannya mulai diangkat sambil berpikir tempat mana yang ingin dia pukul. Tapi, saat Andi melihat ke arah Emilia, dia sadar atas kesalahannya dan akhirnya tangannya mendarat di kepala Emilia.
“… Maafkan aku ya Emilia, aku ini orangnya sangat jelek dan buruk kalau berhubungan dengan seorang gadis apa lagi dalam hal meminta maaf. Jadi, aku hanya bisa meminta maaf dengan cara begini. Apa kamu suka dielus-elus di kepala? Dan apa kamu mau memaafkanku kali ini, Emilia?”
Saat Andi mengelus secara lembut di atas kepalanya Emilia, dia hanya bisa diam saja sambil menganggukkan kepalanya saat dia ditanya. Lalu…
“Hey Andi sampai kapan kamu menyentuh kepalaku?”
“Maaf…!”
Andi hanya bisa mengucapkan kata itu sambil menjauhkan tangannya dari kepalanya Emilia secara cepat. Lalu dia mulai tersenyum dan bicara.
“Gini kan lebih baik. Lebih baik marah dari pada diam tanpa kata.”
“Dasar ya kamu itu Andi, sangat lemah. Sini kita diskusikan lagi!”
__ADS_1
“Maaf kalau aku lemah.”
“Coba kamu perhatikan lagi lebih seksama, Andi! Mungkin ada celah di dalam peta kakekmu setelah kode, garis dan semacam segitiga.”
“Kode… Garis… Segitiga… Peta… Dan…?”
“Gimana Andi sudah ketemu celahnya?”
“Segitiganya ada di angka 550, sedangkan 550 itu ada di Kuil Artemis. Kalau aku lihat di sini, tepatnya ada di ujung segitiga ini, mungkinkah…”
Andi mengangkat alisnya seperti telah menemukan hal yang luar biasa di depannya, mengalihkan pandangannya dari peta ke arah Ridwan. Dia yang sudah siap tempur dengan komputernya sambil memegang keyboard.
“… Ridwan tolong kamu cek dimana tempat ini.”
“Kita cek di map, sekitar 200 meter dari belakang sekolah kita.”
“Aku masih belum yakin tentang apa yang aku rasakan ini, Emilia.”
“Andi yakinlah kepada dirimu sendiri kalau ini adalah benar!”
“Kalau begitu kita cek sekarang saja, kan dekat dari sini?”
Perasaan hatinya Andi yang senang, sambil memikirkan tentang buku yang ada di perpustakaan. Andi membuat sebuah alasan sambil arah pandangannya melihat-lihat ke arah sesuatu, dia pun bergegas mencari celah.
“Hmmm...? Mungkin besok aja deh.”
“Kenapa besok, Andi? Lebih cepat tau kan lebih baik.”
“Iya tapi lihat! Sudah jam setengah enam sore.”
__ADS_1
“Ya ampun sudah jam segini ya, enggak kerasa.”
Mereka pun kaget serentak, setelah melihat jam yang tergantung di atas pintu masuk. Jadi, hari ini mereka hanya memecahkan kode itu saja, besok mereka melanjutkan untuk mencari tempat yang udah di tandai di peta.
Andi pun mencari alasan lagi dari mereka, supaya dia bisa kembali ke perpustakaan sekolah untuk meminjam buku yang sudah dibaca dia tadi siang.
“Maaf Ira. Kamu pulang duluan ya! Kakak ada urusan sebentar.”
“Kakak, mau kemana?”
“Ada urusan bentar, kalian bertiga pulang duluan ya!”
Andi mempercepat langkah kakinya, lalu dia keluar dengan tergesah.
“Kakakkk…! Tungguuu...!”
Setelah hampir, ya sekitar lima meter dari pintu keluar ruangan, dia kembali lagi, dia mengucapkan sesuatu dengan nada sedikit tergesah.
“Oh dia kembali lagi”
“Oh ya Ira, aku nanti sekalian pulang membawa beberapa makanan, buat makan malam nanti. Jadi, kamu pulang duluan sama Ridwan dan Emilia.”
“Kakakkk…!”
“Apa dia sekarang sudah benar-benar pergi.”
Adiknya, Ira memasang wajah cemberut, karena kesal di suruh oleh kakaknya pulang duluan. Sedangkan di sisi lain, Emilia dan Ridwan juga memasang wajah curiga kepada Andi, kenapa mereka di suruh pulang duluan.
“Saya mulai merasa curiga, nih. Mungkinkah, dia sedang…?”
__ADS_1