
Suara dari atmosfer bumi yang sudah menjadi bergemuruh ramai, langit awan yang awalnya jingga sudah berubah menjadi hitam sambil mengeluarkan rintisan air hujan yang terus menerus datang. Udara yang di sekitar sudah menjadi terasa begitu dingin dan hangat pun mulai berkurang.
Surabaya, 4 Juli 2018, 17:14…
Andi berbicara sendiri sambil berjalan santainya dengan langkah kaki pelan. Arah dagunya yang di angkat sedikit, dia sedang memikirkan apa yang bu Anna jelaskan, tentang lompatan waktu di perpustakaan sekolah tadi, dia yang berjalan santainya sambil berteduh di bawah kepakan payung hitam.
“Hmmmm…? Teori kuantum balackhole. Aku sedikit kebingungan…?”
Pas di tengah perjalanan Andi tidak sengaja melihat seseorang wanita yang sedang berteduh di toko sewalayan yang sedang tutup. Dia yang lagi sedih sambil menunggu hujan reda, bajunya yang sudah setengah kebasahan. Andi melihat dari arah kejauhan dan sudut pandang berbeda ke wanita itu.
“Siapa dia itu ya…? Apa dia itu Adinda ya?”
Sambil berpikir, tanpa di sadari Andi yang tidak tega melihatnya, dia langsung menghampirinya sambil berwajah resah. Dia terkejut, ternyata yang berteduh di sewalayan sambil menunggu hujan reda itu adalah Adinda.
“Hai Adinda?”
“Kamu kan yang…?”
“Maaf atas kejadian kemarin.”
__ADS_1
Dengan spontan Andi memotong pembicaraan sambil bersuara keras.
Andi meminta maaf sambil membungkukkan badannya, atas kejadian kemarin yang membuat Adinda, tiba-tiba pergi sambil memasang wajah masam. Lalu, Andi menawarkan payung ke Adinda dengan perasaan malu.
“Da-dari pada kamu di sini saja. Y-yuk pulang be-bersamaku.”
“Kalau kamu yang memaksa. Ok lah, aku akan bersamamu.”
Mereka berdua memutuskan untuk pulang bersama, berduaan di bawah satu payung, keberuntungan atau apalah dia pulang bersama Adinda. Andi juga sedikit merasa senang dan bercampur dengan perasaan malu. Ya masa mudanya dia pun bersinar cerah di bawah rintisan hujan deras.
Pada saat selama perjalanan, Andi dan Adinda saling berpaling arah pandangan dan ada jarak dua spasi badan di antara mereka, dengan perasaan yang sedikit malu, pipi mereka yang memerah, wajah yang lucu dan manis.
“Oh tidak usah di pikirkan, tenang saja.”
Andi menjawabnya dengan nada tergesah-gesah, sambil perasaannya yang malu tapi manis, dan dia masih memalingkan wajahnya dari Adinda.
“Oh ya, aku juga minta maaf. Pulang bersama seorang gadis yang baru kenal. Itu pasti memalukan, bukan?
“Ti-tidak juga. Jika bersamamu, ti-tidak masalah.”
__ADS_1
Jadi, kalau Adinda jalan bersama dengan Andi, dia tidak merasa kawatir kalau ada rumor tersebar di sekitar wilayah ini. Tapi, Andi tetap mengkawatirkan hal itu, wajahnya perlahan-lahan menjadi penuh malu.
“Kalau begitu, sukurlah.”
Adinda melihat bahu sebelah kanannya Andi yang sudah terkena air hujan, ya jadinya basah sedikit deh baju sebelah kanannya, dia yang terkejut.
“Bahumu kehujanan?”
“Ti-tidak usah memikirkan aku. Aku sudah biasa seperti ini.”
Andi menolak tawarannya Adinda dengan cara yang sudah dijelaskan.
“Kalau begitu, mendekatlah!”
Suara yang tidak sebegitu jelas di mulut Andinda karena suara hujan.
“Apa?”
“Mendekatlah!”
__ADS_1