
Semua murid berhamburan keluar dari stadium setelah selesai dengan pembukaan penerimaan siswa-siswi murid baru dari kepala sekolah.
“Aku ingin tidur di kelas lagi dengan tenang. Capek!”
Sehabis selesai upacara pembukaan semester baru, di meja sudah ada undian tempat duduk, dan siswa mengambilnya untuk menentukan tempat duduknya masing-masing.
Andi duduk di barisan paling dekat dengan jendela, dia urutan paling belakang. Tidak tahu karena beruntung atau apa, tempat duduk Emilia berada di samping dia. Andi pun berbicara sendiri sambil melihat ke arah jendela.
“Karena hanya hal dan seperti ini yang berjalan lancar, ya.”
“Aahhh…”
Emilia mengeluh napas panjang sambil mengelus dadanya, ketika dia melihat wajah Andi yang sepertinya sudah semangat lagi.
“Apa aku melakukan hal yang salah?”
Andi mengucapkan sambil membaringkan kepalanya ke meja, dia terus melihat birunya langit, lalu menguaplah dia, ya maklum dia dibangunkan pagi-pagi oleh adiknya itu. Emila berbicara sendiri sambil melihat ke arah Andi.
“Mungkin ini memang berkah dari Tuhan untukku.”
“Kamu bicara apa sih, Emila?”
Andi langsung bangun dari mejanya. Dia yang penasaran kenapa Emilia tiba-tiba berbicara sendiri, dia mempertanyakan hal itu kepada Emilia.
“Bisakah setidaknya aku di beritahu. Kenapa aku dikomentari seperti itu oleh kamu, Emilia?”
“Tidak mau, Ahhh…”
Ditolak dengan cantik. Walau begitu, Emilia tetap terlihat senang. Dan sebelum wali kelas ibu guru masuk kelas, dia juga sempat mengobrol sama teman semasa sekolahnya dulu yang sekarang sekelas lagi.
Tak lama kemudian, lima menit tidak tiga menit kemudian, pintu kelas terbuka. Seseorang guru cantik dengan rambut sedikit di gulung ke arah samping. Ya bisa di bilang cantik sih, dia itu bernama ibu guru Anna Lestari. Dia berpakaian yang seperti keibu-ibuan, tapi umurnya itu loh masih dua puluh tujuh tahun dan paling parahnya dia masih belum menikah.
Dia datang sambil menaruh buku kehadiran siswa ke mejanya sambil menyapa ke semua muridnya. Suasana atmosfer di dalam kelas pun menjadi hening seketika, dan mata semua murid langsung terpana menuju ke arah dia.
__ADS_1
“Baiklahhh…! Silahkan kembali ke tempat duduk masing-masing!”
Dia itu ibu guru Anna yang mengajarkan pelajaran sejarah, dia mengatakan hal itu dengan nada santai dan malas.
Siswa-siswa yang menyebar berangsur-angsur, kembali ke tempat duduk mereka masing-masing di karenakan pelajaran pertama akan dimulai.
“Ahhh… Masih ada satu tempat duduk kosong, siapa yang belum mengambil undian?”
Tiba-tiba di sisi pintu lain telah terbuka, muncul seseorang murid satu lagi. Semua murid di sini sudah duduk tapi ada satu lagi bangku kosong yang berada di depannya Andi yang masih kosong, alias tidak ada penghuninya.
“Saya bu. Maaf aku telat.”
Seorang siswa berkacamata dengan sifat yang begitu sok keren di depan kelas. Berpakaian SMA yang dibilang sedikit rapi sih, dari bawah sampai atas. Dia itu berjalan maju dan berhenti tepat di depan mejanya Andi.
“Hmmm...? Silahkan duduk!”
Laki-laki itu menghiraukan perintahnya Andi. Dia yang masih berdiri sambil mengingat wajahnya Andi. Dia mengerakkan sedikit kacamatanya ke atas, sambil mengucapkan semacam perkenalan, karena ingin memastikannya.
“Ah, Ahmad yaaa… Ridwan yaaa… Aku tahu! Aku tahu!”
Wajah Andi yang begitu kesal sambil menjawab dengan nada lemas.
“Ah, Ridwan aja! Ya bro?”
Walau Andi jawabanya asal-asalan, dia tetap sadar. Tapi yang Ridwan itu loh masih tetap berdiri di depan mejanya Andi. Andi yang sudah merasa kesal, dia menjawab dengan sedikit lemas dan cuek.
“Maaf aku sedikit gak ingat.”
Andi pura-pura tidak ingat, waktu itu dia pernah ngobrol bareng pada saat ketemuan seminggu yang lalu di toko swalayan. Tapi tidak begitu panjang ngobrolnya, dan juga tidak begitu dekat.
“Ah benar ya kamu Andi?”
“Hmmmm… Iya.”
__ADS_1
Andi menjawabnya sambil menaruh kepalanya di atas tangan kanannya dan di miringkan sedikit. Tanpa di sadari, dia memalingkan arah wajahnya dari Ridwan, dia pun menjawabnya asal-asalan juga.
“Ternyata, kamu belum mengingat namaku.”
“Tidak, aku sudah ingat. Cuma gak hafal sama nama.”
“Bukannya itu berarti belum ingat?”
“Iya, kali ini aku akan mengingat namamu.”
Pandangan mata Emilia tertuju langsung ke Andi yang sedang diajak bicara oleh Ridwan. Dia pun memasang wajah yang sedikit judes dan berpikir.
“Siapa dia itu ya?”
“Oeee. Kamu yang di situ? Cepat duduk!”
Tiba-tiba terdengar suara bu Anna yang begitu besar dan membuat semua murid di kelas terkejut kaget, dia yang mengucapkan sambil mengarahkan tangannya seperti menunjukkan ke arah sesuatu di depannya.
“Maaf bu.”
Dengan cepat Ridwan membalikkan badan ke arah ibu Anna karena terkejut, lalu mengucapkan maaf. Setelah selesai, dia membalikkan badan lagi dan menyapa Andi di depannya, dengan menaruh senyuman kepadanya.
“Kalau begitu aku boleh duduk di sini?”
“Ya tentu, kenapa tidak!”
Andi menjawabnya dengan nada malas karena merasa bosan.
“Ok, terima kasih.”
Akhirnya, Ridwan duduk ke tempat duduknya, tempat duduknya itu tepat di depannya Andi yang kosong. Setelah dia selesai, Andi pun mengeluh nafas sebentar karena merasa sudah selesai, lalu dia melihat ke arah jendela.
“… Huhhh!”
__ADS_1