Event Horizon

Event Horizon
Melindungi senyummu


__ADS_3

“… Hmmmm… Maaf.”


Andi mendekatkan badannya ke arah Adinda, sedikit demi sedikit sambil memasang perasaan yang malu dan hal itu sangatlah sempurna, kan.


“Lebih dekat lagi!”


Andi yang mendengarkan itu, dia langsung spontan kaget dan suara menggema merdu pun jadi. Lalu dia mengucapkan kalimat sedikit tersendat-sendat, karena dia merasa malu kalau dekat dengan seorang yang di sukainya.


“Hehhhhhh… A-apa kamu tidak merasa malu? J-jika melakukan ini bersama laki-laki? A-apa lagi laki-laki ba-baru kamu kenal ini.”


“Tidak juga, soalnya tidak ada yang melihat, sih.”


Malahan yang Adinda, menjawabnya dengan nada yang amat datar.


 “T-tapi, bagaimana jika ada laki-laki yang kamu sukai sampai melihat kita berdua jalan bersama?”


“Tidak ada laki-laki yang aku sukai, sih.”


Adinda menjawabnya dengan wajah santai dan datar, seperti tidak ada perasaan malu sedikitpun. Andi memalingkan wajahnya lagi dari Adinda, sedangkan Adinda yang masih mempertahankan memegang bahunya Andi.


“Jadi, aku tidak begitu paham mengenai percintaan.”

__ADS_1


“Kalau begitu, bagaimana jika ada yang menembakmu?”


Andi mempertanyakan dengan perasaan yang penuh malu ke dia.


“Tidak ada orang yang mau.”


“Itu hanya kemungkinan, jika seseorang menembakmu?”


“… Hmmmm? Kurasa aku akan menolaknya.”


Hatinya Andi seketika terkena satu panah, setelah Adinda menjawab pertanyaannya, jadi dia merasa tidak yakin bahwa ingin menembak Adinda.


“Ke-kenapa?”


Adinda menghubungkan ingatannya kemarin dengan pertanyaan ini.


“Maaf! kejadian kemarin ya. Tapi I-itu tidak benar.”


Andi mengira dia telah melakukan hal yang jahat kepadanya atas penghinaan kemarin lusa, bahwa Adinda tidak imut dan wajahnya suram. Ya pas kejadian di atas jembatan penyerbangan pada saat malam hari.


“Karena itu, akuuu…”

__ADS_1


Dengan jeda pendek, tanpa di sadari Adinda berhenti melangkahkan kakinya di suatu halte bus dan bus pun sudah datang. Adinda berjalan maju sambil memutari sisi lain dari Andi, dengan awal langkah kakinya yang santai.


“Aku sampai di sini aja. Terima kasih.”


Andi mengeluh nafas pendek penyesalan, dia yang belum selesai mengungkapkan perasaannya kepada Adinda. Adinda membalikkan badannya.


“Apa ada sesuatu yang ingin kamu sampaikan tadi?”


“Eh? Tidak, tidak ada.”


“Begitu ya? Sampai jumpa.”


Adinda pun langsung menaiki bus sambil sedikit tersenyum manis.


“Percintaan ya, kurasa aku tidak akan bisa malakukannya. Karena aku mempunyai misi yang sangat penting.”


Andi yang masih memikirkan tentang hal itu. Tanpa di sadari, Andi medengarkan perkataan Adinda yang tidak sebegitu jelas di telinganya, dia yang masih penasaran, lalu dia ingin mengulangi dari perkataan Adinda itu.


“Misi apa?”


Seketika itu, bus menutup pintunya, sebelum Adinda memberikan jawaban tentang apa itu misinya kepada Andi. Andi yang merasa sedikit penasaran dan menyesal, karena dia memikirkan apa misinya Adinda itu.

__ADS_1


Pintu bus yang sudah menutup dan mau akan berangkat. Adinda mengucapkan lagi yang tidak sebegitu jelas saat di dalam bus. Dia yang sedang mengucapkan kata yang pelan sambil memasang wajah tersenyum manis.


“Aku akan melindungi senyummu itu…”


__ADS_2