
Tak lama kemudian, mereka bertiga pun terkejut, lalu Andi menegur Ridwan, yang sepertinya, dia sudah menemukan sesuatu yang luar biasa.
“Ada apa Ridwan? Kamu sudah menemukan sesuatu?”
Meletakkan kembali buku dan peta ke tengah meja bundar, secara bersamaan, mereka bertiga saling mendekat dirinya, karena ada rasa ingin tau.
“Ok, saya jelaskan. Pertama, jumlah paragraph dari puisi di bagian ke-58 ada sebanyak 26 paragraph, kan? lalu...”
Entah kenapa, suasana di dalam menjadi sangat serius dan semuanya ingin tau penjelasan selanjutnya. Ridwan melanjutan penjelasannya sambil menunjuk jarinya ke sisi buku dan peta, mata mereka mengikuti arah jarinya.
“… Dan di balik peta ini terdapat tulisan angka IX-58. Angka dari 58 adalah bagian dari puisi ini. Dan terakhir, angka romawi itu adalah paragraph ke IX dari XXVI. Lalu, ternyata Isi dari IX adalah…”
Setelah Ridwan menunjukkan paragraph puisi dan dibaca bersama-sama. Tak lama kemudian, tiba-tiba Andi mengingat sesuatu tentang puisi itu, dia pun terkejut, badannya bergemetar dan wajahnya menegang ketakutan.
“Puisi itu kan?”
Andi bersuara lantang, dia sambil memasang wajah seperti orang melihat hal yang luar biasa. Mereka bertiga melihat ke arah Andi, pengelihatan mereka terhanyut seketika, sambil merasakan suasana yang diciptakan oleh Andi itu sendiri. Tak lama kemudia Ridwan berkata dengan wajah yang sama.
“Ada apa Andi? Apa ada yang aneh dengan puisi ini?”
“Iya, sepertinya aku mengenal dan pernah mendengar puisi ini.”
“Di mana itu Andi?”
__ADS_1
Dengan jeda sesingkat ini, Ridwan mulai menegukkan air liurnya. Dan Andi mulai bercerita sambil menghubungkan ingatannya saat dia masih kecil.
“Kalau gak salah, tepat lima tahun yang lalu… Aku pernah dibacakan buku yang tebal dan sedikit kusut oleh kakekku sebelum beliau meninggal. Beliau pernah bercerita padaku kalau isi bukunya itu kalau gak salah… Ada seorang pemuda yang ingin menemukan arti sejarah dari sebuah keajaiban dunia kuno, sambil mencari pesan tersembunyi untuk umat manusia dengan menjelajahi waktu ke waktu menggunakan mesin penemuannya itu. Lalu hubungannya puisi ini dengan buku milik kakek adalah…”
“Tunggu Andi, apa kakekmu yang mengarang buku itu?”
“Aku juga tidak tau, Ridwan. Waktu itu aku hanya…”
Suara Andi tiba-tiba melemah, lalu berhenti dan diam. Dia mengingat masa kecilnya dengan pertanyaannya Ridwan. Andi terlihat putus asa dan benar-benar tidak mau menceritakan kenangannya bersama kakeknya.
“Hanya apa, Andi?”
Atmosfer keheningan berlangsung selama 1 sampai 2 menit. Dan…
“Ah, okay. Yuk lanjutkan… Oh ya kita tadi sampai mana ya?”
Pura-pura batuk untuk mengembalikan keadaan. Di bawah perintah Emilia, Andi pun kembali ke topik semula, walaupun di sini dia kelihatan seperti ingin mengubur dirinya sendiri ke dalam buku yang sedang dia pegang.
“Kakak kita tadi sampai hubungan buku dengan puisi itu.”
“Oh ya, hubungan buku milik kakek dengan puisi ini adalah bertujuan untuk ingin mengetahui pesan tersembunyi dari cerita berdirinya tujuh bangunan dari keajaiban dunia kuno, kalau gak salah dengan menjelajahi ke seluruh penjuru dunia hanya memakai mesinnya itu saja, iya hanya itu aja.”
Dengan jeda pendek, Ridwan telah menemukan hal yang luar biasa.
__ADS_1
“Memakai mesin? Mungkinkah itu, mesin waktu yang di ceritakan oleh bu Anna saat penjelasan tadi siang? Tapi, seperti terdengar rekayasa sih.”
“Iya dia itu menggunakan semacam mesin waktu.”
“Kok kebetulan ya, ceritanya bu Anna dengan ceritamu ini ya Andi?”
“Aku ya juga sependapat dengan dirimu, Ridwan. Bukankah ini aneh.”
Setelah mendapatkan sedikit pengelihatan yang terlintas di dalam pikiran Andi tentang masa lalunya. Dia pun mulai berkata dan terkejut.
“Hmm… Oh ya aku baru ingat, kakek pernah berkata kalau orang yang membuat mesin waktu bermotifasi dari orang yang membuat puisi ini, loh.”
“Antipater Mix…”
“Tapi, aku di sini masih bingung tentang…”
Setelah Andi berkata seperti itu, dia pun mulai bertanya-tanya apa yang ada di dalam hatinya tentang bu Anna itu, walaupun tidak kuat sih.
Apakah bu Anna itu pernah membaca buku milik kakekku ya? Atau bu Anna ada hubungannya dengan kakekku ya? Tidak mungkin lah dia kan hanya guru sejarah di sekolahku. Tapi… Aku merasa sedikit curiga kepada bu Anna.
Begitulah yang ada di pikiran Andi kepada bu Anna, tapi tetap dia akan menjaga citra baiknya dan bersifat positif kepada bu Anna, karena semua itu belum ada bukti yang kuat dan pasti tentang semua pemikirannya itu.
“Masih kebingungan tentang apa Andi, apa tentang puisi ini?”
__ADS_1
Andi masih berpikir tentang bu Anna dan menghiraukan Ridwan.