
Pelajaran terakhir, sekarang Andi sedang terserang oleh penyakit kecemburuan. Dia sedang memikirkan siapa yang ingin Adinda lindungi itu, dengan terbukti bahwa matanya yang tidak pernah meninggalkan Adinda.
Surabaya, 5 Juli 2018, 15:24…
Tanpa Andi sadari, karena dirinya yang masih bergegas merapikan buku, Andi beranjak berdiri meninggalkan bangku dan berjalan dengan cepat menemui Adinda yang baru saja pergi beberapa saat yang lalu.
Di sisi mereka berdua yang masih merapikan tempat duduknya.
“Andi mau ke mana? Bukannya kita langsung ke klub?”
“Iya Andi bukannya kita langsung ke klub? Kita kan sekarang harus…”
Andi yang tergesah-gesah berlari, dia yang sudah sampai di pintu keluar kelasnya. Dia membalikkan arah badannya, setelah Emilia dan Ridwan menyapanya. Sambil tersenyum sedikit dan ada rasa kecewa karena terpaksa.
“Maaf ya! Aku ada urusan dengan adikku. Maaf, besok saja ya!”
Tapi, sesungguhnya Andi ingin mengejar Adinda yang sudah pergi duluan meninggalkan dirinya yang ingin berbicara empat mata kepadanya.
Sebelum itu, Andi sudah ingat kalau hari ini ada acara penting.
__ADS_1
“Kakak! Kakak! Kakak!”
“Iya Ira, kakak dengar kok. Ada apa?”
“Kakak, ingat ini hari apa?”
“Hari kamis. Ada apa dengan hari kamis?”
“Nanti, kita ziarah ke makam kakek. Jadi, kakak jangan lupa datang!”
Andi yang hampir lupa sambil mengingatnya kembali, kalau hari ini dia akan pergi ziarah ke makam kakeknya bersama dengan Ira, adiknya.
“Ada apa dengan Andi?”
“Aku juga tidak tau, Emilia.”
Setelah Emilia bertanya demikian, dan tidak lama kemudian pikirannya mulai terlintas hal negatif tentang kelakuan mereka berdua yang pergi ke luar duluan sebelum dirinya. Emilia mulai berkecil hati tentang apa yang ada di dalam pikirannya itu tentang hubungannya Andi dengan Adinda.
Kembali lagi ke Andi yang mulai mencari Adinda. Ini tidak terasa benar, tapi setelah beberapa detik ada keraguan, dan akhirnya Andi menjaga kepercayaan. Kakinya masih lanjut jalan dengan tenang dan cepat.
__ADS_1
Meskipun semua gadis itu saat berjalan sendirian pasti bawahannya anggun, pelan, dan hati-hati, jadi tidak mungkin secepat ini dia menghilang.
Apa karena dia terburu-buru ketika pergi, setelah itu dia mengambil jalan yang beda-beda saat dia mau pulang, atau Andi yang merasa dibodohi.
“... Hanya apa yang aku lakukan sekarang ini, sungguh...”
Andi menggerutu kepada dirinya sendiri, saat dia melihat ke kanan-kiri dan kebingungan, sambil mencari Adinda yang lolos dari pandanganya.
Andi mulai berlari cepat sambil mencari keberadaan Anita.
Ketika Andi sampai di depan teras sekolah untuk menunggu Adinda muncul, tapi yang dia temukan hanyalah kesalahan yang disesalkan. Tiada yang dapat dia lakukan sekarang, meskipun, kesalahannya kelihatan sangat jelas. Andi mulai menggerutu di hatinya, kalau dia kehilangan jejaknya Adinda.
“Kenapa tidak besok aja aku berbicara kepada Adinda?”
Saat Andi mendesah dan menggerutu sendiri yang tak jelas intonasi nadanya, dia memikirkan satu alasan yang membuat merasa begitu rendah.
Namun untuk beberapa alasan, Andi tidak merasa bertenaga seperti sebelumnya tanpa bertemu dengan adiknya Ira dan juga Adinda setiap hari.
Dan akhirnya, Andi berjalan di trotoar jalan raya menuju ke makam kakeknya, sambil memegang dagu ketika berpikir hal-hal yang tidak berguna.
__ADS_1