Event Horizon

Event Horizon
Akhirnya ketemu


__ADS_3

“Permisiii…!”


Ridwan memanggil pelayan itu untuk kemari. Sebelum itu wanita yang memakai pakaian gaun sudah tiba di depan restoran, dimana Ridwan dan Andi makan di sana. Pelayan pun menghampirinya sambil memegang sebuah catatan buku dan pensil, dia yang siap menulis sambil menunggu pesanan.


“Aku pesan teh hangat satu! Hmmmm…? Andi pesan apa?”


“Aku sama saja deh.”


“Teh hangat dua ya, mbak?”


Saat pelayan itu sedang menulis sesuatu. Tatapan mata Ridwan yang menggoda, seakan akan dia ingin menyerang mangsannya, lalu dia pun berdiri.


“Dan, siapa namamu? Mbak yang cantik.”


“Ridwan, jangan menambah masalah!”


Andi langsung berdiri dari kursinya dan menegur Ridwan dengan kerasnya. Pelayan itu pun terkejut, tapi Ridwan berusaha menghiraukannya.


“Apa kamu sudah punya pacar? Atau…?”


Pelayan yang memakai baju ala maid itu merasa malu dan mukanya memerah, setelah Ridwan memberi pertanyaan seputar data pribadinya.


“Mbak jangan mendengarkan kata-katanya! Dia itu sedikit…”


“Mau tidak pergi berkencan denganku?”


Dengan menahan rasa malunya, tiga puluh detik, pelayan itu langsung pergi sambil berlari meneteskan air matanya menuju ke kasir.


“Kamu lihat Ridwan! Dia nangis tuh.”

__ADS_1


“Hadehhh…?”


Ridwan mengusap belakang kepalanya dan bertanya keheranan.


“Tinggg…! Klintinggg...!”


Terdengar suara bel pintu, bertanda ada seorang pelanggan yang masuk restoran ini. Seorang wanita cantik memakai pakaian gaun putih pun tiba didalam restoran. Dia melihat sekeliling sambil mencari meja yang kosong.


“Nah di situ ada tempat yang kosong.”


Meja kosong tepat di belakangnya Andi. Wanita menghampiri meja itu. Tiba-tiba, bau harum bunga yang baru saja mekar di pagi hari menyelimuti seluruh ruangan. Pandangan Andi tertuju wanita yang memakai pakaian gaun itu. Seakan dia mencuri pandangan Andi yang sedang ingin memarahi Ridwan.


Andi memandangi wanita itu terus meneru sambil mencium bau yang di keluarkan olehnya. Tapi, anehnya Ridwan kok gak sadar ya. Padahal baunya sangat harum, apa Ridwan hari ini hidungnya sakit ya. Ridwan pun duduk.


“Tunggu Andi!”


“Eh, Ada apa?”


“Kalau Emilia gimana?”


Kali ini Andi kembali duduk ke tampatnya, wajahnya jadi menegang.


“G-gimana apanya?”


“Kamu dan Emilia kan sudah berteman sejak kecil. Apa kamu punya perasaan kepada Emilia?”


“Ada sih, tapi, sedikit.”


“loh kok sedikit, kenapa?”

__ADS_1


“Karena, dia itu sudah aku anggap seperti saudaraku sendiri.”


Tidak lama kemudian, Andi melirik sedikit wanita itu, dia yang ada di belakanya Andi. Ridwan pun berbicara sendiri entah tidak jelas maksudnya.


“Nah! Aku juga sudah melihat pujaan hatimu?”


Andi mendengar sesuatu yang keluar dari mulutnya Ridwan. Dia terkejut dan kembali melihat ke depan, dan sekarang penuh tetesan keringat.


“P-pujaan h-hati kuuu…?”


Wanita yang berpakaian gaun putih itu duduk manis tepat berada di  belakang Andi, dia melipatkan kedua kakinya sambil meminum secangkir teh hangat. Andi melirik sedikit demi sedikit untuk melihat dan memastikan wajahnya yang manis itu. Ridwan terkejut tak beraturan, setelah dia melihat jam dinding yang ada di atas kasir itu. Suara keras pun menggemurung merdu.


“Wah, gawattt...!”


“Ga-gawat apanya Ridwan?”


“Se-sekarang waktunya kita pulang Andi. Sudah jam sembilan malam nih. Besok aku harus bangun pagi-pagi pergi ke sekolah bersama mbakku.”


“Kirain ada apa Ridwan, jangan ngagetin gitu ah!”


Andi pun menjadi sedikit tenang setelah melihat jam dinding yang ada atas meja kasir, jarum pendek jam sudah menunjukkan angka sembilan.


Andi dan Ridwan pun bergegas meninggalkan mejanya dan langsung bergegas pulang ke rumah. Sedangkan wanita yang ada di belakang Andi, dia tidak sengaja menguping dari belakang percakapan mereka berdua.


“Aku pergi pulang duluan, ya Andi? Dan ini uangku, tolong ya!”


Setelah Andi selesai membayar dan sudah keluar dari restoran. Tiba-tiba wanita yang ada di belakangnya Andi pun berdiri sambil tersenyum manis.


“Ketemuuu…!”

__ADS_1


__ADS_2