Event Horizon

Event Horizon
Cerita prologue sampai di sini


__ADS_3

*****


ISI SURAT KAKEK


Untuk mu,


Cucuku


Andi


 


Maaf Andi, kakek membuat surat ini dan meninggalkanmu secara tiba-tiba dan tanpa memberitahumu. Untuk mengingatkan kondisi kakek yang sudah mau di panggil sama Sang Maha Kuasa. Kakek mau menuliskan dalam bentuk surat, kakek mau menyampaikan hal yang penting kepadamu.


Kakek punya tempat rahasia di sekitar peta itu. Sebelum menemukan letaknya, kamu harus memecahkan kode yang kakek tulis di belakang peta. Kode yang kamu pecahkan tersebut berisikan kordinat tempat rahasia kakek. Sudah itu aja, kamu pasti bisa memecahkan nih kode, aku tunggu ya…


Oh ya Andi, pesan penting dari kakek, jika kamu sudah besar nanti, ingat pesan kakek satu ini ya. Kalau ada seorang gadis meminta pertolongan, lebih baik jangan ditolak loh ya.


Dan satu lagi Andi sampai lupa ini adalah yang paling penting untuk hidupmu. Orang-orang


yang berhenti berusaha akan menjadi pemilik dari sebuah masa lalu.  Dan jika orang-orang yang masih terus berusaha, pasti akan menjadi pemilik dari sebuah masa depan. Jadi Andi masa depan hanya bisa diraih bagi orang-orang yang terus berusaha sekeras mungkin. Orang yang berhenti berusaha hanya akan berketat dengan masa lalunya saja.


 


“Selalu ada orang yang baik kok di dunia ini. Jika kamu tidak menemukannya, maka jadilah salah satu dari mereka ya Andi.”


 


Salam dari,


Kakekmu


*****


__ADS_1


Andi masih tidak tau tentang maksut tujuan dari isi surat itu, dan benar-benar tidak mengerti. dia benar-benar terlihat putus asa, entah kenapa matanya di penuhi oleh air mata. Andi bahkan belum pernah mendapatkan sebuah permintaan serius dari kakeknya. Ekspresi wajahnya sedih, bahkan serius, seolah-olah takdir dari seluruh alam semesta ini berada di tangannya.


Beberapa saat kemudian, ayah yang tidak tega melihat Andi anaknya dari sisi lain sudut ruangan ini, lalu dia berjalan pelan menuju ke arah ibu.


“Mama.”


“Iya Ayah. Ada apa?”


“Tolong hibur Andi ma! Sepertinya Andi masih sedih.”


Ibu melihat ke arah Andi, tepat yang seperti ayah katakan, ternyata Andi itu masih melihat ke arah foto kakeknya. Ibu pun memikirkan bagaimana caranya untuk mengibur Andi agar tetap tegar menerima kematian kakeknya.


“…Hmmm? Ya sudah, mama coba hibur Andi supaya lebih semangat dan mengikhlaskan kepergian kakeknya.”


“Semoga berhasil, ma.”


Ayah berdiri begitu saja sambil bernada lucu memaksa, karena sedikit kawatir, tanpa ada gerakan dari Andi, sungguh kesedian yang sungguh kejam.


Ibu melangkah diam-diam, lalu perlahan mendekati sisi samping Andi.


Kegelisahan ibu pun langsung memuncak setelah melihat wajah Andi dari sudut yang hampir sudah sedekat ini, sungguh tatapan yang sedih.


Ibu memanggil sambil memegang pundak Andi. Andi pun menengok kearah ibu, karena keadaan menagis, dia mengucapkan dengan tersendat.


“I-ibu ka-kakek!”


Andi dengan ringannya meneteskan semua air mata kesedihannya dalam pelukan ibu. Ibu mengelus pelan punggung Andi sambil mengucapkan.


“Ibu juga sedemikian. Jadi, Ibu mengerti tentang isi hati mu, Andi.”


Karena ibu ingin menghibur Andi, dia melepaskan dengan perlahan  rangkulan Andi yang lagi nangis di pundaknya, lalu dia menceritakan sesuatu.


“…Hmmm? Dahulu kala ada seorang bocah laki-laki, dia punya banyak pengetahuan yang tidak dimiliki orang lain. Semua terus memuji kemampuannya itu. Tapi, dia hanya bisa memberikan sedikit dari beberapa pengetahuan saja kepada orang lain…”


Andi perlahan-lahan menjadi tenang dan berhenti menangis sambil mengusap air yang ada di pipinya, dan suasana pun menjadi sedikit tenang.

__ADS_1


“…Jadi, dirinya itu bukanlah orang yang luar biasa, dia mulai sombong, dia merasa selalu benar karena memiliki semua pengetahuan ini. Dia menertawakan sesuatu karena iri, lalu kesalahan besar pun terjadi. Karena kesalahan itu, seorang yang telah berjuang banyak untuk dirinya saja pun mati. Mereka mati saat melindungi seseorang yang seharusnya menderita karena kesalahannya. Dia orangnya itu juga sama sepertimu Andi. Dia menyadari keterbatasannya sendiri, dia terus menyalahkan dirinya…”


Pada saat di tengah cerita ibu, dengan sengaja dia memalingkan arah wajahnya dari ibunya, lalu menghadap ke bawah lantai karena merasa malu.


“…Tapi Andi, di bagian inilah yang terpenting, itu adalah apa yang harus dia lakukan setelahnya itu. Kamu tau Andi? Dan itu seperti baja yang di perkuat seratus kali. Maksut dari kata ibu ini adalah, memperkuat pikiran dan tubuhmu berkali-kali adalah cara untuk menjadi orang hebat.”


Ibu berpikir, sepertinya Andi telah menghubungkan ceritanya itu ke ingatannya, dengan ekspresi murung. Tiba-tiba, ibu menepuk ke arah bahu Andi dengan tangannya. Dia pelan-pelan menatap kembali ke arah ibunya.


“Dengarkan Andi! Apa kamu akan membiarkan dari kesalahan membuat hidupmu akan hancur? Kamu bahkan belum memulainya, maka mulailah dari apa yang kamu bisa lakukan untuk kakekmu!”


Dia mulai tenang tapi, di dalam hatinya itu masih terasa sedikit sedih.


Setelah ibu menceritakkan sebuah perjuangan seorang anak, Andi masih melihat wajah ibunya dengan sedikit memasang wajah yang bingung.


“Tapi, apa yang aku bisa lakukan agar kakek bisa bahagia di sana?  Apa aku bisa meneruskan perjuangan kakek? Dan, apa aku bisa…?”


Andi kembali bersemangat sedikit demi sedikit, dia melihat surat yang di pegang itu sambil memikirkan maksut dan tujuan dari isi surat kakeknya.


“Tentu saja kamu pasti bisa. Karena kamu adalah putra kami dan kami adalah anak dari kakek. Dan kamu punya bakat untuk menjadi ilmuan? Selama aku ada di dunia ini, aku akan membantumu sebisaku. Lagipula aku ini adalah orang tuamu, orang tua selalu memberi dukungan pada anaknya kan.”


“Ibu! Seharusnya aku tidak boleh langsung menyerah, kan?”


Andi mempertanyakan hal sedemikian rupa itu kepada ibunya dengan perasaan senang dan percaya diri. Sedangkan di sisi ibu, dia memegang dan mengelusnya perlahan-lahan kepalanya Andi, sambil dia mengucapkan.


“Benar Andi. Semangat lah!”


Melihat ke arah ibu, mata Andi bersinar dengan tekad yang kuat,  karena merasa terhibur oleh cerita ibu, dia mengucapkan dengan semangat.


“Kalau begitu, aku…”


Awan yang awalnya tadi menangis dan penuh dengan awan gelap, sekarang menjadi terang dan berwarna biru cerah, bunga-bunga bermekaran dan burung saling bersautan seperti menyayikan sebuah lagu. Andi kembali semangat, memulai awalnya dengan mencari maksut dari isi surat sang kakek.


Dari cerita prologue di atas, novel ini menceritakan seorang anak yang ingin mencari tau benda atau sebuah peneltian apa yang di sembunyikan sang kakek. Sampai-sampai kakeknya memberikan sebuah kode rahasia yang berisikan, di mana tempat rahasianya sang kakek disembunyikan.


Awal cerita pun dimulai…

__ADS_1


 


 


__ADS_2