
Ridwan tidam merasa kesakitan. Tapi, Ridwan malah berteriak keras sambil wajahnya terukir tersenyum, sepertinya dia telah menikmatinya.
“Hahhhhh… Terima kasihhh…”
Ridwan terpental jauh, sejauh dia membuat hati Emilia kembali marah ke tenang lagi. Setelah merasa tenang, Emilia berubah berwajah datar.
“Maaf, sepertinya tanganku bergerak sendiri.”
“Pukulah saja aku sampai puas!”
“Hahhh…?”
Emilia bersuara menggema sambil merasa keheranan kepada Ridwan.
Perlahan-lahan, Ridwan bangkit dari terjangan pukulan Emilia yang begitu kuat. Dia tersenyum, sambil memberikan hiburan sedikit untuk Emilia.
“Tapi, sebenarnya kamu hanya ingin memukul dirimu sendiri, kan?”
Emilia semakin kesal, lalu dia menendang keras lagi ke arah wajanya Ridwan. Kali ini dia memakai kaki bukan memakai tangan lagi. Setelah selesai, dia mengucapkan dengan nada keras sambil menggenggam tangannya.
“Apa kau benar-benar mengejekku ya, Ridwan.”
Wajah Ridwan kali ini ketakutan dan menua, bersuara tersendatnya.
“T-tidak.”
Ridwan perlahan-lahan berdiri dari terjangan tendangan Emilia yang begitu kuat. Dia tersenyum sambil meminta maaf kepadanya. Ya sepertinya, ini yang terakhir untuk menghibur hatinya Emilia yang lagi kacau galau gitu.
“Selain itu, kamu sudah merasa lebih baik setelah memukulku, kan?”
__ADS_1
Emilia pun sadar, ternyata Riwan ingin menghibur hatinya, Emilia yang sedang kesal, karena Adinda tiba-tiba kenal akrab dengan Andi. Dengan sedikit kesal, Emilia tidak ingin mengucapkan terima kasih kepada Ridwan.
“Jika terjadi sesuatu, katakan saja padaku ya.”
“Tidak, aku sudah cukup. Selain itu, kenapa kamu melakukan ini?”
Emilia sedikit merasa kesal. Ridwan, tiba-tiba mengeluarkan gerakan anehnya lagi, tapi kali ini gerakan yang keren, dengan kacamatanya di angkat sedikit dan bersuara Ting…! lalu terdapat silauan terkena sinar matahari.
“Kamu ya kamu! Aku ya aku! Understand?”
Setelah Emilia melihat gerakan Ridwan yang begitu tidak mengerti di matanya, karena dia ingin menghiburnya. Emilia yang sudah merasa di ujung kesal, lalu mengeluarkan suara menggerang sambil dia melihat ke arah bawah.
“Kamu! Kamu! Kamu ya Ridwan!”
“Bagus! Bagus! Dengan ini, kamu pasti bisa ikut kegiatan klub kan.”
Setelah mendengar kata itu, Emilia jadi memikirkan lagi kedepanya.
Ridwan itu sangat menyebalkan, tapi sifatnya dia itu baik kok, jadi Emilia tidak jadi meledakkan seluruh isi sekolah dengan amarahnya itu.
Emilia tersenyun sedikit manis. Ridwan yang mengetahui hal itu, dia langsung menghadap balik badan dari Emilia sambil berteriak kecil.
“Shukurlah, aku bisa. Aku bisa. Andi aku berhasil.”
“Nyebelin.”
Wajah Emilia yang cemberut, sambil menengok kepalanya ke kanan.
Dan tidak lama kemudian, Ridwan yang mengetahui ada sesuatu hal, kalau Emilia berbicara sendiri, dia membalikkan badannya lagi ke arah Emilia.
__ADS_1
“Eh, ada apa Emilia?”
“Tidak jadi.”
Ridwan langsung melihat ke arah bekal yang sudah di pegang oleh Emilia. Sepertinya bekal itu untuk Andi, tapi Andinya sudah sama Adinda.
“… Hehhh? Bekalmu tidak kamu makan,
nanti keburu dingin loh.”
Emilia melihat ke arah bekal yang dia bawa. Dia berjalan ke arah taman lalu duduk manis di bawah pohon. Pohon yang sejuk dan segarnya itu.
“… Huh! Ya sudah ayo kita makan bersama!”
“Assikkkkk.”
“Tunggu dulu Ridwan! Kamu tadi mau bicara apa pas di kelas tadi?”
“Oh yang Itu. Andi ingin…?”
Kali ini, Emilia memasang wajah yang serius. Arah matanya dia melihat ke arah wajah Ridwan, karena dia ingin tahu alasannya itu semua. dia yang sedang seriusnya berpikir, seakan-akan dia ingin mengatakan rahasianya Andi. Emilia merasa penasaran sambil mengucapkan dengan suara tergesah.
“Iyaaa… Andi ingin apa Ridwan?
Setelah wajah Emilia serius akan sesuatu hal yang keluar dari mulut Ridwan, dia yang sangat seriusnya memikirkan langsung mengucapkan.
“Andi ingin menghiburmu saja kok. Hahahaha…”
Mengucapkan seperti itu sambil menyembunyikan semua alasannya itu dengan tersenyum, seperti tidak tau apa yang Emila rasakan sekarang ini.
__ADS_1
Emilia pun mengeluh nafas panjang, setelah dia merasa kesal dengan Ridwan, sebagai balasnya dia telah menghibur Emilia yang lagi kesal, dia pun mengiijinkan makan bekalnya itu secara bersama-sama.
“Andi selamat berjuang ya. Kali ini aku berhasil.”