
Bulan Juli adalah waktu ketika sebagian besar murid-murid SMA di Surabaya, Jawa Timur, Indonesia kembali ke kehidupan mereka yang biasa setelah liburan panjang mereka yang luar biasa.
Surabaya, 2 Juli 2018, 06:48…
SMA Negeri Surabaya tertelak di sudut kota Surabaya. Sekolah itu terkenal karena ke riangannya terhadap pembelajaran lingkungan dan murid yang mempertahankan nilai sekolah yang bagus. Di sini murid-murid biasanya memulai dengan tenang dan kembali ke pelajaran mereka masing-masing. Walaupun demikian, di SMA Negeri Surabaya, disana ada sebuah festival kultur yang di meriahkan setiap tahun pada saat pertengahan Juni. Karenanya, sekolah selalu dianut dalam suasana yang gembira dan atmosfer yang menakjubkan pada saat penutupan maupun pembukaan sebuah festival.
Pada awal bulan juli, suasana sekolah mulai memudar dan mulai digantikan menjadi tenang, namun riuh, seperti kehidupan sekolah yang biasa.
Andi Reynand, iya itu dia adalah salah satu dari orang-orang yang hidup di lingkungan sekolah ini. Dan itu memang yang seharusnya. Setelah melalui semua dari pelajaran tanpa tertidur, dia harus menyelesaikan tugas rumah bersama adiknya. Kemudian, dia berjalan menuju sekolah.
“…Hahhh!”
Andi mengeluh napas sambil menunduk lesu. Tiba-tiba ada seorang wanita cantik berpakaian seragam SMA yang rapi dari atas sampai ke bawah, dan dia berlari menghampiri Andi. Dia yang sudah menyiapkan kuda-kuda untuk mengagetkan Andi dari belakang, dia berteriak keras sambil melompat.
“Andi!”
Seseorang memanggil Andi dengan menepuk keras pundaknya. Andi pun kaget dan langsung menengok ke belakang. Dia melihat sesosok wanita dengan rambut lurus berkuncir kepang dua ke arah depan. Ya, dia melihat seseorang yang tidak asing baginya, dia itu Emilia Latinka teman semasa kecilnya, dan sekali lagi dia itu adalah sesosok manusia yang selalu semangat.
“Uhhhhk…? Emilia! Kirain siapa tadi?”
Dengan jeda yang pendek, Andi yang begitu lemas lesu, badannya seperti orang telah kehilangan semangat di hari pertamanya, senin ini. Emilia pun menyapanya dan mengatakan dengan nada garing.
“Ihhh…! Andi, kenapa kok lemas, hari pertama ke sekolah. kenapa seperti itu? Jangan sampai lesu begitu dong. Semangat!”
“Memang benar, sih.”
Andi kehilangan semangat untuk hari pertama sekolahnya.
Andi dan Emilia, mereka berdua berjalan bersama ke sekolah yang saat itu merupakan tahun pertama bagi mereka.
Menggunakan seragam SMA seperti ini, sambil berjalan ke sekolah, mengingatkan Andi bahwa sekolah sudah benar-benar di mulai. Dan di saat yang sama, Andi mulai rindu pada liburan musim panas yang baru di mulai.
Sambil mengangkat kepala dan melihat ke arah langit, langit yang begitu biru dan indah itu terasa kontras sekali dengan suasana hati Andi.
“Apa karena adikmu ya Andi, kamu jadi lemas begini? Hehehe…”
“Yah, sebagian, tapiii… Ah, sudahlah, sudah tidak apa-apa sekarang.”
Dengan jeda pendek, walau tidak terpikir dia bisa bakal berhasil saat ujian masuk, karena tiap hari dia berada di meja belajar. Juga walau keberuntungannya tinggi, harusnya ujian masuk SMA Negeri Surabaya bukan sesuatu yang bisa dilewati dengan keberuntungan saja.
“Kalau tidak, kenapa tadi kamu mengeluh napas dalam-dalam?”
“Cuma merasa kalau dari awal sampai akhir aku tidak melakukan apa-apa. Dan liburan sekolah sudah berakhir begitu saja.”
__ADS_1
Awalnya, sebenarnya dia sudah menyiapkan semangat untuk awal liburan sekolah selama dua minggu. Tapi, saat memasuki akhir bulan juli, Andi tiba-tiba jatuh sakit, dan terus merasakan pusing di kepalanya. Di saat itu dia kira demamnya sudah sembuh, tapi Ira yang menjaga Andi kakaknya saat demam malah ikutan jatuh demam juga. Kali itu Emilia yang menjaga Andi dan Ira, dan liburan sekolah yang pendek pun berakhir begitu saja.
“Karena tidak enak badan, itu juga wajar saja. Tapi kok adikku juga bisa kena ya sih? Hmmmm…?”
Dia menyentuh dagunya dan di angkat ke atas sedikit sambil berpikir. Emilia yang melihatnya, dia malah tertawa sedikit manis, karena merasa lucu.
“Andi begitu lemah.”
“Bukannya kamu juga ikut jatuh demam ya, saat itu?”
“Itu salah Andi, karena sudah menulariku.”
Andi yang sudah mengerti tentang situasinya. Dia merasa bersalah dan segera meminta maaf ke Emilia. Emilia yang awalnya memasang wajah sedikit masam, dia memasang wajah yang malu ketika Andi meminta maaf. Secara sengaja, dia memalingkan wajahnya dari Andi, itu malu yang manis.
“Maaf kalau begitu.”
“Siapa suruh kamu melakukan hal yang seperti itu.”
Orang yang berjalan di sekitar Andi dan Emilia, melihat ke arah mereka dengan penuh kecurigaan. Orang di sekitar pada gosib membicarakan.
“Dia melakukan apa?”
“Aku juga tidak tahu?”
“Apa dia tadi melakukan hal yang mesum?”
Andi yang mendengarkan hal seperti itu, wajahnya menegang dan di penuh dengan keringat, dia pun spontan jadi panik yang tidak ada tujuan.
“Gawattt…! Tatapan mereka sungguh menyakitkan.”
Dia harus segera meminta maaf kepada orang di sekitarnya, agar gosip tentang mereka tidak menyebar luas ke seluruh sekolah.
“Maafffff! Maaafffff!”
Setelah Andi selesai meminta maaf. Emilia sepertinya mendengarkan hal itu, dia berhenti dan menengok ke arah Andi, lalu mengucapkan.
“Ada apa Andi kok minta maaf?”
“…Huhhh?”
Andi mengeluh napas sebentar, dia menegakkan badannya sambil mengambil nafas dalam-dalam, lalu mengeluarkan suara dengan kerasnya.
“Jangan bicara sesuatu yang akan membuat orang lain salah mengerti! Emilia.”
__ADS_1
Emilia yang berpura-pura tidak tahu, Andi sedang berbicara apa. Dia memikirkan sambil memiringkan sedikit kepalanya dan menyentuh pipinya.
“Hmmmm…? Jadi begitu ya Hmmmm…?”
Andi juga kebingungan dan tidak mengerti Emilia berbicara apa.
“Jadi begitu apanya? Emilia kamu…”
Wajah Andi yang sedikit kesal itu. Terdengar suara yang tidak asing bagi mereka. Pembicaraan mereka jadi terpotong ditengah, saat Andi ingin menanyakan sesuatu kepada Emilia yang tidak jelasnya itu saat berbicara.
“Tinggg…! Tinggg…!”
Saat sudah hampir di pintu gerbang sekolah, bel masuk berbunyi dengan merdu. Sampai merdunya Emilia menghiraukan pertanyaan Andi.
Emilia berlari sambil memanggil Andi, karena merasa semangat. Tapi, di sisi lain Andi malah masih berjalan dengan santainya.
“Kita harus cepat masuk kelas.”
Saat Emilia berlari, Andi bergegas berlari ke arah Emilia, memasang wajah yang masam ke arahnya sambil mengucapkan dengan suara lantang.
“Hey tunggu, aku belum selesai bicara. Emilia!”
Mereka berdua mulai berlari bersama-sama masuk ke kelas.
“Ayo Andi! Cepat lari!”
Pandangan mereka teralihkan oleh sebuah kertas besar putih yang berisikan tulisan daftar nama, tertempel di papan hijau depan pintu masuk kelasnya itu. Semua murid berkumpul melihat sesuatu.
“Ayo kita lihat di sana dulu Andi!”
Setelah itu mereka melihat pengumuman pembagian kelas yang ada di papan pengumuman yang sudah di tempel tadi pagi oleh guru. Emilia dan Andi sangat senang melihat pengumuman pembagian kelasnya.
“Yesss… Akhirnya kita sekelas ya, Emilia?”
Emilia menjawab dengan perasaan senang dan sempat sedikit malu.
“Iyaaa…”
Setelah menaruh barang di kelas, semuanya langsung terburu-buru menuju ke stadium untuk upacara pembukaan murid baru.
Mendengar kata sambutan dari kepala sekolah, Andi menguap sekitar lima kali dan hal itu sudah pasti terjadi.
Hari ini kepala sekolah menyampaikan pidatonya untuk semua murid-murid baru. Dia mengucapkan selamat kesemua murid yang telah hadir di sini dengan atas di terimanya di sekolah SMA Negeri Surabaya Ini.
__ADS_1
“Selamat datang murid-murid ku…”