Event Horizon

Event Horizon
Isi janjiku kepadanya


__ADS_3

Berperangan dengan penglihatannya yang semakin kabur, wajahnya juga terlihat sedikit lesu. Sambil mengeluh, Andi menuruni tangga dan memasuki ruang keluarga. Oh ya ruang keluarga dan ruang makan menjadi satu. Kalau dia ingin memasak untuk adiknya, dia langsung ke ruang keluarga.


“...Huh?”


Pemandangan yang sedikit aneh lah dari biasanya untuk menyambut Andi dari bangun tidurnya.


Kursi kayu yang ada di tengah ruang keluarga sekarang dimiringkan ke samping, seperti menjadi sebuah tameng. Di baliknya, terlihat kepala seorang gadis kecil dengan rambut pendek yang sedang gemetaran di sana.


“Aku sudah tau siapa di situ.”


Andi melangkah diam-diam, dia langsung mendekati sisi meja lain.


Pastinya, Ira sedang duduk di situ memeluk lututnya dan gemetar ketakutan. Andi menyiapkan kuda-kuda yang siap mengejutkan dari belakang.


“Graaaaahhh…!”


“Kyaaa…! Kyaaa…!”


Saat Andi memegangi bahu adiknya, Ira meneriakkan jeritan ketakutan dan putus asa bersamaan dengan melemaskan kaki dan tangannya.


“Tenang! Tenang Ira! Ini kakakmu yang seperti biasanya yang semangat dan suka tersenyum.”


“Gyaaa…! Gyaaa…? Huhhh…? Ka-kakkk…?”


Sambil memeluk kakaknya, Ira yang ketakutan sambil mengeluarkan air mata. Andi merasa kasihan, dia langsung memegang kepalanya Ira dan mengelus pelan-pelan. Dia mengucapkan sesuatu dengan nada yang lucu.


“Cuppp…! Cuppp...! Ya.”


“Kakak. Gak seram lagi?”


“Udah tidak apa-apa sekarang. Aku, kakanya Ira sekarang.”


“Oh, ohhhhhh…?”


Setelah Andi berbicara dengan nada lucu, wajah tegang Ira adiknya perlahan-lahan tenang dan bentuk wajahnya mulai tersenyum manis.


Bagaikan kucing garong liar yang telah membuka hatinya.


“Maaf! Maaf! Aku akan membuat sarapan sekarang.”


Setelah melepas tangan dari kepala Ira dan berdiri, Andi menaruh kembali kursi yang dimiringkan oleh adiknya itu ke posisi asalnya dan pergi menuju  ke dapur, dia memulai memasak sarapan buat adiknya.


Karena bekerja di luar negeri untuk keperluan bisnis mengembangkan alat elektronik, kedua orang tua Andi sering bepergian dari rumah.


Pada saat-saat itulah, Andi selalu bertanggung jawab untuk menyiapkan makanan, jadi dia sudah terbiasa. Malah kenyataannya, Andi yakin bahwa dia dapat menggunakan peralatan memasak yang ada di dapur lebih baik daripada ibunya.


Ketika Andi sedang mengambil beberapa telur dari kulkas, dia mendengar suara TV dari belakang. Sepertinya Ira sudah menenangkan diri sambil menyalakan TV.


Mengambil remote dan menyalakan TV di depannya.


“…Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika (BMKG) mengklarifikasi kabar yang marak beredar di jejaring media sosial tentang ramalan gempa di Surabaya dan Madura, Jawa Timur…”


“…Kepala BMKG, Dwikorita Karnawati mengatakan, sebenarnya potensi gempa bukan hanya ada di wilayah Surabaya dan Madura, tapi juga di sebagian besar wilayah Indonesia yang berada dalam lingkaran Cincin Api Pasifik yang terbentuk oleh gerak lempeng tektonik aktif…”


“Bukankah kelihatannya di daerah sekitar sana banyak terjadi gempa bumi ya? Terutama tsunami tahun lalu.”


“…Cincin Api Pasifik adalah zona berbentuk tapal kuda dan menjadi zona sabuk gempa paling aktif di dunia. Bukan hanya Indonesia, wilayah lain, seperti Jepang, Taiwan, dan Selandia Baru juga masuk dalam Cincin Api Pasifik tersebut, kata Dwikorita, Senin tanggal 02-07-2018…”


“…Karena itu, dia mengimbau masyarakat bersama pemerintah dan pemangku kepentingan lainnya lebih baik bersikap pro-aktif mempersiapkan upaya mitigasi bencana gempa bumi dan tsunami ketimbang meributkan ramalan dan prediksi gempa…”


“…Hmmm, kelihatannya begitu, huh. Mungkin sedikit terlalu cepat…”

__ADS_1


“…Ia mengatakan, mitigasi bencana yang dapat dilakukan, antara lain mengedukasi masyarakat tentang cara penyiapan perlindungan dan keselamatan sebelum, saat dan setelah gempa bumi…”


“…Hal lain yang bisa dilakukan adalah mendirikan bangunan dan infrastruktur yang sesuai building code atau persyaratan bangunan tahan gempa, menetapkan tata ruang wilayah berbasis peta rawan bencana, menyiapkan jalur evakuasi, dan membangun tempat berlindung sementara untuk evakuasi vertikal dari ancaman tsunami di daerah pantai…”


Ira berbicara sendiri, sambil menyandarkan tubuhnya ke lengan sofa. Andi yang sedang melihat tayangan TV yang berada di depan masih menyala.


“Terlalu cepat? Apa yang terlalu cepat?”


“Nnn.... gak kenaha-aha. Daeyah panyainya.”


Kali ini Andilah yang memiringkan kepalanya, karena merasa heran.


Bukan karena apa yang Ira katakan, namun karena setengah kalimatnya terdengar sedikit tidak jelas, di karenakan dia memakan sebatang permen kesukaannya, yaitu permen lollipop.


Diam-diam Andi memutari sisi meja makan, lalu berjalan menuju sisi sofa yang disandari oleh Ira.


Mungkin Ira telah menyadarinya, selagi Andi mendekat, tapi dia sudah tau dan perlahan-lahan mulai memalingkan wajahnya.


“Ira. Coba lihat ke arah sini sebentar, deh!”


Andi mengucapkan sambil tersenyum kepada Ira. Dia mendengarkan suara aneh yang terdengar dari dalam mulut Ira adiknya.


“Iyaaayayayaa… Kyakyakkkk…”


Melihat apa yang ada di dalam mulutnya seperti yang dia kira, Andi mengeluh pendek sambil mengucapkan nada melasnya.


“…Hmmm. Sudah kuduga.”


Meskipun saat itu tepat sebelum sarapan tiba, Ira sudah menikmati permen favoritnya yaitu permen lollipop yang sudah masuk di mulutnya.


“Hey! Aku sudah bilang kan jangan buka permen sebelum makan?”


“NNNnnn…! NNNnnnnn…!”


Wajah Andi yang menegang sambil melihat-lihat tempat yang harus dia pukul, karena Andi sebenarnya benar-benar tidak ingin memukul orang dengan wajah semanis itu sebelumnya, dia memikirkan ke dua kalinya.


“...Benar-benar deh. Sebaiknya kamu makan dulu sebelum ngemil!”


Pada akhirnya Andilah yang mengalah. Dia langsung mengelus kepala Ira, dan kembali ke dapur.


“Ohh! Aku sayang kakak…!”


“…Hmmm kamu itu sayang ke kakak itu berapa gram sih…?”


Andi membalasnya dengan memasang wajah darat, sambil dia melangkah kembali pada pekerjaannya di dapur dengan langkah kaki santai.


“…Kalau dipikir-pikir, hari ini upacara pembukaan SMP mu, kan?”


Ira pun spontan menjawabnya dengan semangat.


“Yap betul, kakak.”


“Berarti kamu pulang saat makan siang, ya. Ira, kamu minta apa untuk makan siang nanti?”


“Hmmmm...?”


Ira berpikir sejenak sambil memiringkan kepala sedikit, lalu tiba-tiba Ira menghampiri kakaknya di dapur dan menarik tangan Andi ke luar rumah.


“Hambergerrrrr…!”


Mengucapkan dengan suara keras dengan wajah semangat, sambil mengarahkan arah jarinya ke restoran di seberang jalan rumahnya itu.

__ADS_1


Andi menegakkan badan, dan setelah itu, menunduk menyesal.


“Restoran Itu kannn...?”


“Ehhh… Kenapaaa…?”


Sambil menghisap lolipop, Ira membalasnya dengan suara kecewa. Dan di sisi lain Andi mengeluh keras-keras, lalu mengangkat bahunya.


“Ya sudah lah, kesempatan ini cuma sekali saja ya. Jadi, pas pulang sekolah ayo kita makan siang hamburger di restoran itu.”


“Ohhh…! Benarkah?”


“Ya. Kalau begitu, kita bertemu di restoran keluarga yang itu ya sepulang sekolah.”


Andi berkata sedemikian rupa sambil bernada malas, dan di sisi lain Ira mengusap-usap ke dua tangannya dengan bersemangat.


“Ok kakak. Asikkkkk…!”


Sambil kegirangan dia langsung mengatakan sesuatu ke kakaknya.


“Jangan menarik kata-katamu ya kak! Janji! Kakak harus ada di sana meskipun ada gempa bumi atau kebakaran atau terjadi tsunami atau bahkan kalau restoran itu diduduki teroris atau…!”


Tanpa di sengaja, dia memotong perkataan adiknya yang hampir ngelantur itu. Dengan sedikit melakukan gerakan pukulan kecil ke kepala Ira.


“Aduhhhh…!”


Keluarlah suara yang begitu merdu dari mulut Ira.


“Tidak. Kalau ada teroris di sana kita tidak bisa makan.”


“Iya, iya, aku tahu.”


Mendengar Andi mengatakan hal itu, Ira dengan bersemangat mengangkat ke dua tangannya ke atas sambil berteriak.


“Whoooo… Asikkk…!”


Andi bahkan tidak pikir-pikir lagi apakah ini terlalu mewah atau tidak.


“Yah, untuk hari ini kali saja ya.”


“Ohh! Ok…! Aku sayang Kakak…!”


“…Hmmm sebenarnya kamu sayang ke kakak itu berapa gram sih?”


Dari malam ini kedepannya mereka harus menyantap makanan di rumah untuk sementara, tapi hari ini adalah perayaan pembuka untuk mereka berdua. Bersenang-senang sedikit seharusnya tidak masalah untuk keluarga.


Yah, lagipula menu hamberger untuk anak-anak seharga Rp.25000 dan harga semacam itu tidak bisa di bilang foya-foya juga sih.


"Nnnnn...?"


Andi sedikit meregangkan badannya karena merasa tidak apa-apa, lalu dia membuka jendela kecil yang ada di dapur.


Setelah selesai makan Andi pun bergegas membersihkan piring dan merapaikan meja makan. Adiknya, Ira langsung bergegas berangkat sekolah, dia mengambil tas yang sudah dia taruh di sofa. Sambil mengucapkan ke kakaknya yang sedang membersihkan piring.


“Kakak aku berangkat dulu ya? Jangan lupa janji kita ya?”


“Ok! Kakak tidak akan lupa dengan hal itu.”


Andi menjawab dengan nada lemas. Setelah selesai dia langsung bergegas berangkat dengan melewati pintu rumahnya. Sesampai di teras rumah dia sempat melihat ke atas langit. Sambil dia mengucapkan sesuatu.


“Hari yang cerah ya.”

__ADS_1


Langit yang begitu cerah dan biru. Sepertinya hari ini akan jadi hari yang menyenangkan. Tapi, Andi sedikit mengantuk sambil menguap panjang.


“Yosss…! Semangat!”


__ADS_2