
Tapi, sebenarnya di hatinya Andi berkata malah sebaliknya, sekarang dia ini sedang memikirkan tentang, bagaimana caranya meminta maaf kepada seorang gadis yang baik dan benar saat dia sedang sebal kepada laki-laki.
“Kolosus di Rodos, Mausoleum Mausolus, Kuil Artemis...”
Andi berbicara sendiri dan berpikir, dia sambil melihat tulisan yang sudah dia corat-coret di papannya itu. Tanpa menunggu lama dia berkata.
“Yosss….! Sekarang coba kamu, Ridwan cari tempat itu yang paling akurat di internet lagi, lalu kita hubungkan ke dalam peta ini.”
“Ashiappp…”
Secepat kilat, Ridwan kembali ke tempat duduknya yang ada di depan komputer. Oh ya komputernya sudah menyala, jadi siap di gunakan. Mereka berdua serentak mendekat ke komputer untuk mencari tempat dari peta itu.
“Pertama apa Andi?”
Jari tangannya Ridwan yang sudah mulai terasa gatal, dia yang siap untuk mengetik dengan cepatnya dan lihai tangannya menyentuh mouse kecil.
“Hmmm…? Kolosus di Rodos - patung Helios.”
“… Kolosus di Rodos Yunani. Terletak di kordinat 36°27′4″LU 28°13′40″BT…”
“Yang kedua Mercusuar Iskandariyah – mercusuar.”
“… Mausoleum Mausolus Turki. Terletak di kordinat 37°02′16,6″LU 27°25′26,6″BT... Dan yang terakir Andi.”
“Iya, yang terakhir Kuil Artemis.”
__ADS_1
“Hmmm… Turki lagi ya? Ada apa ya di Turki?”
“Mungkin di situ ada kata-kata indah buat meminta maaf.”
Suara Andi tiba-tiba melemah, seperti terhanyut akan kesalahan dan berusaha menutupinya agar tidak terdengar kalau dia sedang memikirkan ini.
“Tadi kamu bilang apa Andi? Aku tidak dengar.”
“Ah gak usah, gak penting. Lanjutkan aja pencariannya itu, cepat!”
“… Kuil Artemis Turki. Terletak di kordinat 37°56′59″LU 27°21′50″BT..”
Setelah Ridwan selesai menemukan letaknya dan dia menandai di sebuah map digital yang ada di komputernya. Andi berpikir keheranan.
“… Hmmm? Jadi, begitu ya? Walaupun ini tidaklah muda. Tapi…”
Andi memberikan petanya yang dia pegang itu ke Ridwan. Sambil menunggu Ridwan melakukan proses scaning petanya ke dalam komputer, mereka pun terkejut kaget, setelah melihat apa yang dilakukan oleh Ridwan.
“Jadi, kita harus menghubungkan lokasinya dan hasilnya seperti ini.”
“Bagus Ridwan, Lanjutkan sekali lagi.”
Ridwan mengerakkan mouse komputernya lagi dengan lihainya.
“Lalu kita sesuaikan dengan map ke petanya, terus kita atur skalanya yang ada di map komputer sesuai dengan petanya dan hasilnya taraaa…!”
__ADS_1
Setelah Ridwan berkata penuh dengan semangatnya, tapi di sisi Andi masih dalam keadaan bingung dan tidak tau selanjutnya. Ridwan pun berkata.
“Ada apa Andi kamu masih kebingungan ya?”
“Iya Ridwan, kita sudah mendapatkan garis lurus di petanya kakek. Tapi, tetap ini sedikit kesulitan menemukan di mana letaknya. Apa kita harus mencarinya satu-persatu di dalam daerah segitiga itu, atau pasrah akan…”
Setelah Andi berkata panjang lebar tak bermakna, seperti seseorang akan pasrah dan putusasa bila dia sudah di ambang ujung keberhasilannya. Dan di saat yang tepat Emilia mulai menghampiri Andi, dia berjalan sambil melihat ke bawah dan menyembunyikan ekspresi wajahnya dari yang lain.
“Andi…?”
“Cplesss…!”
Emilia menampar tepat ke arah pipinya Andi, dan membekas merah.
Ridwan dan Ira hanya bisa diam saja tanpa ada perlawanan melihat Andi terluka. Sedangkan Andi mengubah kebingungannya menjadi rasa luapan penuh emosi yang ingin memarahi Emilia. Dia melihat Emilia lalu bicara.
“Kenapa kamu menamparku, Emilia? Ada apa denganmu ini?”
“Kali ini aku sangat tidak suka kamu dengan keadaan seperti itu.”
“Keadaan seperti itu? Apa mungkin aku salah minta maaf kepadamu, sampai kamu marah dan ingin menampar aku sampai merah seperti ini?”
“Itu adalah alasan ke dua aku yang ingin menamparmu.”
“Lalu apa alasan pertamamu sampai-sampai kamu menamparku?”
__ADS_1
“Kamu itu tidak seperti biasanya, kamu sekarang terlihat seperti putus asa. Kamu tuh harus memikirkan matang-matang sebelum mengatakan kata keputusasaan. Kalau kamu tetap tidak bisa, rundingkanlah! Andi!”
“Rundingkan katamu Emilia? Kamu itu…”