
Bu Anna bangun dengan keadaan setengah tertidur. Dia tidak sengaja mendengarkan perbincangan soal pengarang buku yang mereka bertiga diskusikan itu secara seriusnya. Dia yang perlahan-lahan bangun dari tidurnya, sambil menyipitkan matanya, karena ingin melihat dengan tanpa ketahuan, berdiri pelan-pelan, lalu bersiap-siap untuk menerjang dan bersuara kerasnya.
“Grrrrr…!”
“Kamprettt…!”
Suara menggema mereka pun keluar lagi, kali ini mereka bertiga.
“Bu Anna, jangan ngagettin kami dong! Kami lagi serius nih.”
Suasana yang sangat serius menyelimuti apa yang mereka pikirkan. Tiba-tiba, di sisi lain bu Anna mengagetkan mereka dari samping, supaya mereka tetap santai dan relaks dalam menjalankan apa yang mereka kerjakan.
“Maaf! Maaf! Sepertinya, kalian serius tentang buku pengarang itu.”
Andi merasa kawatir tentang kode itu, seakan bu Anna juga akan ikut campur dengan urusan mereka. Andi spontan menyembunyikan petanya lagi.
Bu Anna mengetahuinya, wajahnya seketika tersenyum lalu berkata.
“Tenang saja. Ibu tidak akan ikut campur lebih dalam lagi kok.”
Tak lama kemudian, tatapan mata mereka bertiga pun bertemu sesaat menjadi satu, lalu berdiskusilah mereka, di karena ada perkataan yang keluar dari mulut bu Anna yang masih ada keraguan di dalam hati mereka. Dan mereka pun setuju untuk memberi tau apa yang mereka diskusikan itu.
“Gini Bu Anna, kami tidak tau buku yang dikarang oleh Antipenter.”
“Hmmm...? Bukunya Antipeter ya?...”
Dengan jeda sependek itu, bu Anna mulai menjawab sedikit rasa lupa.
“… Bukunya berjudul kalau gak salah Dioscorides and Antipater of Mix : The World ke tiga, yang dikarang oleh Antipater Mix itu sendiri, tapi buku itu ditulis kembali oleh seseorang Jerry Claw. Kalau gak salah pada tahun 2002.”
Merasa sedikit mengerti, mereka bertiga hanya bisa menganggukkan kepalanya, dan dari sisi sedekat ini dengan bu Anna, Emilia berbicara.
__ADS_1
“Ohhh… Buku yang aku baca itu juga dikarang oleh Antipeter Mix.”
Dan di sisi Ridwan, dia memegang kaca matanya sambil bertanya.
“Oh ya bu Anna. Siapa Antipater Mix itu? Apa dia adalah seorang penulis? Dan kenapa bukunya ditulis ulang oleh pengarang yang berbeda?”
“Ok saya akan menjawab pertanyaanmu. Yang pertama, Antipater Mix adalah seorang penyair Yunani kuno pada paruh kedua pas di abad ke-2 SM. Dia itu menulis sebuah puisi, dan puisinya itu disimpan dalam Anthology Yunani termasuk penggabungan seni dan sastra dan beberapa batu nisan…”
Bu Anna mulai menceritakan tentang apa yang Ridwan tanyakan. Suasana atmosfer di ruangan pun menjadi tenang, hening dan serius tentunya.
“… Dan pertanyaan ke tiga, kenapa ditulis ulang oleh pengarang yang berbeda. Karena Antipater Mix itu menulis bukunya pada gulungan kertas biasa, ya maklum pada abad ke-1 SM belum ada buku yang sempurna. Jerry Claw itu hanya menulis ulang dan memperbarui kata yang sulit di pahami oleh masyarakat sekitar itu saja dan lainnya masih belum diketahui penyebabnya.”
Sambil mengingat buku yang pernah Emilia baca, dia pun bertanya.
“Lalu apa itu Greek Antropologi itu?”
Sambil melihat ke arah lain dan menggaruk kepalanya sedikit, Bu Anna menjelaskan sambil berpikir, karena kurangnya informasi yang dia dapat.
“Kumpulan sebuah puisi?”
Andi tiba-tiba berdiri lalu mengangkat tangannya dan mengarahkan ke salah satu tulisan yang ada di petanya itu, dia berkata dengan seriusnya.
“Lalu angka romawinya itu apa bu?”
“Lihat! Lihat! Sini tidak begitu jelas. Hmmm...? IX.58.”
Andi membawa peta itu dan mulai berjalan ke samping bu Anna, sambil memutari sisi meja. Di saat yang tepat, bu Anna hanya bisa menjawab.
“Angka itu adalah bagian puisi dari suatu bukunya yang ke-58. Tapi yang angka romawi, Hmmm….? Ibu tidak sebegitu mengerti juga. Maaf ya.”
“Gak apa-apa bu Anna. Terima kasih ya bu, atas penjelasannya.”
__ADS_1
“Iya sama-sama.”
Mereka bertiga pun kembali diskusi lagi tentang angka romawi itu. Sedangkan, bu Anna berdiri lalu membuka jendela karena ingin cari udara.
“Aku sekarang yang jadi kebingungan nih, tentang angka romawinya.” “Tunggu bu Anna! Aku ingin menanyakan sesuatu?”
Tidak lama kemudian, bu Anna yang lagi menghirup udara segar, dia menuju ke tempatnya Andi dengan langkah kaki yang santai. Setelah Andi menanyakan sesuatu yang membuat hatinya merasa ada yang janggal.
“Apa itu Andi?”
“Ini Ibu Anna, kata ibu buku yang dikarang oleh Antipater Mix adalah kumpulan sebuah puisi epigram. Puisi epigram apa itu bu Anna?”
“Puisinya itu adalah tentang tujuh keajaiban dunia kuno.”
Dengan jeda sependek itu sambil berpikir secara jernih, Andi berkata.
“Apa orang itu penjelajah dunia atau apa Ibu? Kok dia bisa tau ya yang namanya tujuh keajaiban dunia kuno. Pada tahun kalau tidak salah pada abad ke-1 SM, kan belum ada yang namanya teknologi modern.”
“Ibu tidak sebegitu mengerti lagi, maaf ya… Tapi, sepertinya dia itu melakukan sebuah penelitian pada tahun kalau gak salah tahun 1988.”
“Penelitian semacam apa yang dia teliti, bu?”
Suasana yang mulai mencengkan dan atmosfer udara di dalam ruangan klubnya tiba-tiba menjadi dingin dan tanpa ada rasa sedikitpun.
“Sepertinya, dia melakukan perjalanan ruang dan waktu dengan menggunakan mesin waktunya, deh. Bercanda hehehe…”
“Mesin waktu...?”
“Tingggggg...! Tingggggg...!”
Suara bel sekolah pun berbunyi dengan merdunya, bertanda pelajaran selanjutnya akan segera dimulai. Sebelum itu, Andi masih penasaran tentang mesin waktu yang diceritakan oleh bu Anna itu.
__ADS_1