Gadis Buta Yang Ditumbalkan

Gadis Buta Yang Ditumbalkan
Part 10


__ADS_3

Setelah mengantarkan Siska ke kamarnya Aaron pun kembali dan berniat ingin menjauhi tempat ini secepatnya. Baru saja ia selangkah keluar dari ruangan tersebut sudah disambut oleh sang ayah dengan tatapan yang sangat tajam. Aaron berusaha untuk mengabaikan ayahnya tapi tampaknya ia tak akan bisa memiliki hubungan yang baik dengan sang ayah mengingat permasalahan di antara keduanya yang sangat besar dan tak terselesaikan.


"Siapa yang menyuruh mu untuk menyentuh milik ku?"


Aaron pun menarik napas panjang dan menatap ke arah ayahnya dengan tatapan yang benar-benar tajam dan penuh akan intimidasi. Walaupun orang ini lebih tua dari dirinya tak akan pernah membuat nyali Siska menciut. Ayahnya adalah orang tak tahu malu dan juga sangat memalukan.


"Aku tak tahu jika diri mu ini benar-benar memalukan ayah. Ingat umur mu, kau sangat tidak pantas dan juga kau tahu dia adalah wanita yang polos dan tak tahu apapun. Kau tak takut ketika polisi akan datang ke rumah mu mengingat begitu banyak kejahatan yang telah kau perbuat. Tidak kah kau merasa takut sama sekali?"


Antoni pun tersenyum miring. Anaknya ini sok bijak di depan dirinya dan tak tahukah jika ia adalah orang yang tak akan mendengarkan sama sekali ocehan sang anak.


"Kau terlalu berlebihan. Aku rasa kau bukanlah orang yang baik untuk kau nasehati karena aku tak akan mendengarkan mu sama sekali. Kau terlalu sok berkuasa tanpa tahu jika kau adalah orang yang sangat memalukan. Karena seorang kesayangan negara pergi ke tempat ku yang merupakan sumber masalah tanpa bisa melakukan apapun dan hanya diam." Sepertinya ayahnya ini tengah menyindir dirinya. Ia memang saat ini tak bisa melakukan apapun kepada kejahatan yang ayahnya telah lakukan. Sesungguhnya Aaron pun sangat ingin menghentikan semua hal yang dilakukan oleh ayahnya. Tapi laki-laki dirinya masih kalah power dengan sang ayah.


"Aku tahu aku belum bisa melakukan apapun. Tapi setidaknya aku akan berusaha suatu hari nanti. Kau pikir aku akan tinggal diam saja?" tanya Aaron lalu kemudian melewati ayahnya begitu saja.


Anthoni yang tengah melipat tangan di dada pun hanya tersenyum simpul. Aaron memang seperti dirinya yang sangat keras kepala dan juga penuh perjuangan. Tapi entah kenapa Antoni tak merasa senang karena menurut dirinya justru hal tersebut adalah sebagai ancaman baginya. Ia masih kesal kepada Ibu dari Aaron yang dulu membiarkan Aaron hidup di dalam rahimnya dan lalu kemudian berkembang seperti sekarang dan mengancam dirinya.

__ADS_1


Anthoni pun menarik nafas panjang lalu menghembuskannya perlahan. Ia memandang ke arah kamar Siska. Ada hal yang membuat dirinya menahan diri untuk tak menemui Siska. Padahal jauh di dalam hatinya yang paling dalam ia sangat merindukan wanita tersebut. Tampaknya Aaron ada benarnya bahwa dirinya adalah orang tergila yang pernah ada. Wajar jika Aaron sangat membencinya.


Anthoni pun memejamkan matanya sekilas lalu kemudian pergi meninggalkan tempat tersebut. Ia kembali datang kepada temannya yang tadi. Tampak wajah Anthoni penuh dengan amarah. Laki-laki tersebut melampiaskannya dengan cara meminum arak yang ada di depannya sampai tandas. Bahkan temannya sampai keheranan melihat Antoni yang tampak sangat frustasi.


"Ada apa dengan mu? Tampaknya kau sedang tidak baik-baik saja. Apakah ada masalah yang sangat besar yang membuat mu seperti ini?"


"Diamlah."


__________


Aaron menarik napas panjang dan menatap ke arah depan dengan pandangan yang sangat lemah. Pria tersebut tak akan pernah bisa sanggup melihat ibunya yang menjalani kehidupan yang sangat suram. Hidup terkurung dan juga depresi yang membuat ia tak bisa menikmati keindahan dunia yang sangat luar biasa.


"Kau tahu jika dunia ini sangat indah tapi kau tak akan pernah lupa jika orang yang telah menyakiti mu masih berkeliaran. Aku rasa membalaskan dendam mu dengan sangat cepat adalah pilihan terbaik untuk ku."


Dan pada akhirnya Aaron pun meneteskan air mata yang sudah lama ia pendam. Dia terharu dengan apa yang dilakukan oleh ibunya di depan. Ia menimang sebuah guling yang ia anggap jika itu adalah Aaron. Padahal dia tak tahu jika anak yang saat ini ia jaga tengah berdiri di dekatnya dan sudah sangat besar.

__ADS_1


Aaron lantas mendekati ibunya dan memeluk tubuh wanita itulah dengan sangat erat dan mengecup kening wanita itu. Melanie terdiam saat merasakan kecupan yang sangat membekas di keningnya. Ia pun mengabaikan anak yang ada di dalam pelukannya dan beralih menyentuh wajah Aaron yang sangat tampan dan juga tak bisa ia tolak kenyataan jika anaknya adalah orang yang sangat tampan.


"Kau Aaron? Kau sangat tampan. Kenapa kau bisa sebesar ini?"


Aaron pun menarik napas panjang dan menyeka air matanya yang dari tadi terus mengalir ke pipinya. Lantas hal apa yang harus membuat ia diam dan tak bisa berbuat apa-apa bak orang bodoh.


"Aku baru saja datang ke rumahnya. Tenang saja aku bukan hanya berdiam diri saja di sana tapi aku akan mencari celah dan kelemahannya agar bisa aku menyerang dirinya. Aku akan membalaskan dendam mu yang sangat dalam itu. Dan tak akan ada orang yang bisa menghentikan diri ku. Kau adalah segalanya untuk ku. Tidak akan ada yang bisa menggantikan mu di hati ku."


Aaron kemudian mengecup kembali kening ibunya sebelum pada akhirnya ia meninggalkan sang ibu. Melanie pun langsung bersikap seperti di awal di kana dirinya tak sadarkan diri dan melakukan hal-hal yang di luar dugaan. Saat keluar Aaron menutup pintunya dan menangis sambil bersandar ke pintu kamar orang tuanya. Ia tak bisa menahan perasannya dan pria itu mencengkram senjata yang ia rakit dan ia anggap ampuh untuk melumpuhkan Antoni tersebut.


"Kau akan mati di tangan ku dan aku akan memastikan hal tersebut akan benar-benar terjadi."


______


TBC

__ADS_1



__ADS_2