
Cessy masih tak percaya dengan apa yang dikatakan oleh Aaron tadi. Pengakuan pria itu bak bumerang bagi dirinya. Cessy hanya bisa menelan ludah dan berjalan ke dalam kamar dengan tatapan yang sangat sendu dan penuh dengan kekecewaan yang besar.
Cessy tak pernah menyangka laki-laki yang hampir seumur hidup bersama dirinya itu melekat kesalahan yang sangat besar terhadap Siska. Ia tahu jika itu adalah hal yang tak asing lagi di dunia Eropa. Tapi dalam kasus ini adalah pemerkosaan yang artinya tak bisa ditoleransi, dan apalagi orang yang melakukan hal tersebut adalah Aaron yang notabennya memiliki jabatan yang cukup penting.
Air mata pun jatuh ke pipinya dengan tatapan yang sangat sedih. Wanita itu pun menarik napas panjang dan lalu menghembuskannya secara perlahan.
Ia membuka pintu kamarnya dengan langkah kaki yang gontai seolah tak ada harapan hidup lagi di dalam diri wanita itu. Ia pun lalu mengunci pintu tersebut dan kemudian bersandar di balik pintu. Tubuhnya merosot ke lantai dan mata wanita itu penuh dengan air mata yang berkaca-kaca.
"Apakah kau tahu jika dunia ini sangat luas. Aku adalah seorang wanita dan aku bisa merasakan kesedihan dan kekecewaan yang kau rasakan Siska. Kau adalah wanita yang memiliki seribu kekurangan tapi puluhan ribu kelebihan. Aku yakin kau bisa kuat. Aku tak akan mengatakan jika kau ada di sini." Cessy pun baru sadar bahwa Siska pernah bertanya tentang Hawaii dan itu artinya tak salah lagi bisa saja Siska ada di sini.
Kenapa ia baru menyadari hal tersebut? Ia rasad dirinya sudah terlambat untuk menyadari hal itu. Tapi tak apa ia merasa sedikit bahagia setelah tahu jika Siska ada di sini dan apalagi wanita itu bersama dengan seorang laki-laki yang ia anggap laki-laki tersebut bertanggung jawab terhadap Siska.
"Semoga saja kau bahagia dengan pilihanmu. Jangan pernah menyesali apa yang sudah kau tentukan sendiri," ucap Cessy dalam hati lalu menarik napas panjang dan menghembuskannya secara perlahan.
Sementara itu di dalam kamar Aaron hanya bisa menatap ke depan dengan pandangan yang sangat kosong. Tak ada sama sekali gairah kehidupan pada pria tersebut. Ia pun menghela napas panjang dan kemudian menyentuh kepalanya yang sedikit pening.
"Aku akan menyerahkan diri setelah aku sudah berhasil melakukan semuanya. Aku akan membalaskan dendam ku dan lalu kemudian mencari mu barulah aku bisa tenang dan menyerahkan diri kepada negara."
Senyum Aaron pun terukir. Senyum yang penuh dengan kepalsuan dan menyimpan seribu penderitaan yang hanya bisa dirasakan oleh laki-laki itu sendiri.
__ADS_1
Aaron pun menutup laptop nya dan lalu kemudian keluar dari dalam kamarnya. Ia pun berjalan ke luar dari markasnya tersebut dan menatap ke sekitar yang sangat mencurigakan. Entah kenapa ia merasakan jika ada yang aneh.
Aaron pun menatap ke arah seluruh ruangan tersebut dan berpura-pura tak mengetahui persembunyian mereka. Hal itu ia lakukan agar bisa menangkap mata-mata yang dikirimkan.
"Sudah tidak sama lagi mengirimkan mata-mata. Mereka terlalu payah dalam menangani kasus." Aaron pun tersenyum miring dan lalu kemudian berjalan santai melewati setiap lorong yang ada di rumah tersebut.
Sengaja ia memancing ke suatu tempat yang lebih sunyi agar dirinya bisa mengatasi para penyusup itu sendiri.
Para penyusup itu tak menyadari dengan jebakan yang diberikan oleh Aaron. Alhasil mereka pun terperangkap dan haram sudah menemukan persembunyian mereka. Aaron mengacungkan pistol ke kepala para mata-mata tersebut yang jumlahnya ada dua orang.
"Kau pikir aku orang yang bodoh? Jangan mengira aku tak mengetahui kalian."
Siska langsung membuka matanya dengan wajah yang sangat terkejut. Tangannya terkekal dan keringat dingin keluar dari keningnya. Siska pun merusak keringat tersebut dan memandang ke depan dengan tatapan cukup ketakutan. Ia telah bermimpi buruk di mana mimpinya bertemu dengan Aaron. Namun bukan hal tersebut yang membuat dirinya ketakutan akan tetapi ia melihat di dalam mimpinya Aaron berusaha untuk membunuh Peter.
Hal tersebutlah yang membuat Siska ketakutan. Di dalam mimpinya ia bisa melihat laki-laki itu hanya saja ia tak bisa melihat wajah pria itu dengan jelas. Siska pun mendesah panjang dan kemudian menarik nafas beberapa kali lalu menembuskannya secara perlahan untuk mengurangi rasa gugupnya yang begitu hebat.
"Tak akan aku biarkan orang itu kembali lagi. Aku akan membunuhnya sebelum dia menyentuh anak ku. Aku tidak main-main dengan ucapan ku," ucap Siska dengan penuh tantangan. Tangan wanita itu mengepal erat dan kukunya yang tajam melukai telapak tangannya.
Siska menatap ke arah tangannya yang mengeluarkan banyak cairan tersebut. Ia pun menarik napas panjang dan lalu menatap ke arah luka yang ada di telapak tangannya. Ini bukanlah apa-apa dan rasa sakit tak sebanding dengan sakitnya saat ia melihat di mana anaknya hendak ditembak oleh laki-laki tersebut.
__ADS_1
Siska pun langsung keluar dari dalam selimutnya dan wnaita itu pun keluar dari dalam kamarnya dan menunju ke kamar anaknya. Ia membuka pintu kamar anaknya secara perlahan dan Siska bisa melihat anak itu yang tertidur sangat damai. Sungguh tidak tega melihat Peter yang harus menanggung semua perbuatannya di masa lalu.
Siska pun masuk dan lalu kemudian duduk di samping anaknya yang sedang tertidur. Lalu kemudian ia mengusap pipi anak laki-laki itu penuh dengan kasih sayang. Siska menghembuskan nafas lega ketika apa yang ia lakukan tak membuat anaknya terbangun.
"Hiduplah dengan tenang aku pasti akan menjaga dirimu. Kau adalah kebanggaanku dan selamanya akan menjadi orang yang aku banggakan," ucap Siska lalu kemudian mengecup anak tersebut.
Sempat terlintas di pikiran Siska untuk mengajarkan anaknya itu bela diri dan juga bagaimana cara melindungi dirinya. Apalagi mimpi malam tadi telah menyadarkan Siska bahwa ia harus bisa memikirkan cara agar bisa menyelamatkan anaknya.
"Cara terbaiknya adalah memang mengajarkanmu bela diri. Aku pasti akan melakukan itu," ucap Siksa dan lalu kemudian tersenyum lebar dan mengusap kepala anaknya.
Ia pun menatap beberapa menit anaknya baru ia keluar dari dalam kamar. Siska mengunci pintu anaknya dan lalu kemudian menetap ke arah pintu luar. Semenjak ia bisa melihat Siska tak takut lagi dengan apapun.
Bahkan mungkin tak disadari Daniel Siska memiliki senjata api. Hal tersebut ia gunakan untuk melindungi dirinya. Siska menuju ke dalam kamarnya dan menutup pintu kamarnya. Tapi baru saja ia merasa lebih baik tiba-tiba dirinya mendengar suara benda jatuh yang berasal dari luar rumahnya.
_______
TBC
JANGAN LUPA LIKE DAN KOMEN SETELAH MEMBACA.
__ADS_1