Gadis Buta Yang Ditumbalkan

Gadis Buta Yang Ditumbalkan
Part 34


__ADS_3

Untuk menyelesaikan beberapa kasus di luar kota London Aaron dan Siska pun harus pergi ke luar kota agar bisa menyelesaikan beberapa kasus yang masih menjadi misteri. Aaron serta Siska sudah berada di bandara untuk bertolak ke Liverpool. Karena di sana terdapat beberapa pembunuhan berantai dan mayatnya ditemukan dalam keadaan organ tubuh yang sudah tidak ada di dalam tubuh mereka.


Tentunya pembunuhan itu sangat misterius dan juga sadis. Dari pihak polisi serta badan intelijen negara saling mendukung untuk mengungkap pembunuhan tersebut dan apa motifnya melakukan hal itu. Siska dan Aaron memiliki kesimpulan mereka sendiri bahwa hal tersebut dilakukan untuk menjalankan bisnis ilegal. Bahkan mereka sudah mengantongi nama salah satu dari pembunuhan sadis itu yang diyakini sebagai ketuanya.


Namun Siska dan juga Aaron belum bisa mengungkapkannya ke hadapan publik. Akan tetapi ia sudah mengatakan kepada beberapa anggota dan juga dari pihak penyidik lainnya. Hak asasi manusia pun sudah turun untuk mengecek dan memantau jalannya penyelidikan tersebut.


Siska sendiri tak bisa lagi banyak berpartisipasi. Mungkin ini akibat karena beberapa orang sudah mengetahui bahwa ia berperan penting dalam pengungkapan kasus tersebut sehingga orang-orang yang dikirimkan oleh pihak Anthoni untuk menyelinap ke organisasi mereka menghalang-halangi agar Siska tak bisa membantu penyelidikan tersebut. Sangat disayangkan padahal Aaron membutuhkan Siska.


Apalagi Siska memiliki rekor yang sangat buruk. Wanita itu pernah dipenjara dan tentunya ia selalu saja disulitkan karena masa lalunya tersebut. Maka dari itu Aaron tak bisa berbuat banyak karena disudutkan oleh mereka-mereka yang berkhianat.


"Apakah kau yakin untuk melakukan perjalanan ini Siska? Aku dengar kau semalam sedang dalam keadaan demam tinggi."


Siska yang belum sepenuhnya sembuh pun hanya bisa menghirup nafas panjang. Tapi ia sangat yakin dengan kondisi tubuhnya dan berharap tidak akan terjadi sesuatu yang tidak diinginkan.


"Semoga saja tidak terjadi sesuatu yang buruk. Kalau menurut pribadiku sendiri aku sanggup," Ucap Siska meyakinkan Aaron sehingga laki-laki itu bisa merasa lebih tenang sedikit.


"Baiklah aku mau memegang kata-katamu itu."


Siska menghela nafas panjang dan menganggukkan kepalanya. Ia menggunakan tongkatnya tersebut untuk masuk ke dalam pesawat. Aaron memperhatikan segala sesuatu yang dilakukan oleh Siska. Melihat perjuangan wanita itu yang sangat gigih untuk bisa bersaing seperti orang pada umumnya membuatnya merasa sangat begitu terharu.


Apalagi Siska melakukan semua ini untuk balas budi terhadap Aaron seperti yang dikatakan oleh laki-laki itu jika Siska harus memberikan yang terbaik kepada dirinya karena ia telah menolong wanita itu.


Padahal jauh di dalam lubuk hati Siska ia ikhlas melakukan hal tersebut untuk Aaron. Tapi juga terdapat rasa sakit karena Aaron hanya menganggap dirinya sebagai media balas dendam serta Aaron benar-benar tak membutuhkannya. Mungkin jika nanti suatu saat semua masalah dan dendamnya sudah terbalaskan, Siska bisa saja dibuang oleh laki-laki tersebut.


"Aaron apa yang kau lakukan!" teriak Siska saat ia merasakan jika tubuhnya melayang dan orang yang membuatnya seperti itu adalah Aaron.


"Kau terlalu memaksakan dirimu. Aku tahu jika kau tak akan sanggup naik ke dalam pesawat menggunakan tongkatmu itu. Maka dari itu janganlah sok kuat di depanku."

__ADS_1


Siska termenung mendengar kata-kata Aaron. Ia tak tahu apakah itu adalah bentuk perhatian Aaron terhadapnya atau karena hal lain. Tapi Siska sungguh merasa sangat bahagia karena Aaron melakukan hal tersebut kepadanya. Bahkan dadanya berdetak dua kali lipat dari biasanya. Siska tak mengerti dengan respon tubuhnya yang selalu seperti ini jika terlalu dekat dengan Aaron.


"Ada apa dengan ku? Kenapa jantung ku terus berdebar jika dekat dengan Aaron? Aku tak yakin aku akan hidup dengan lama jika misalnya terserang penyakit jantung," ucap Siska di dalam hatinya dan mulai merasa pesimis dengan hidupnya.


"Hey!"


Siska terkejut ketika Aaron menyadarkan dirinya. Wanita itu pun memandang ke arah Aaron walaupun di matanya hanyalah kehampaan.


"Kenapa kau dari tadi terus saja melamun?"


"Entahlah."


Siska membuang wajahnya. Namun aaran menarik wajah wanita itu dan kemudian mengusap tanda kemerahan yang muncul di pipi Siska. Aaron pun meletakkan telapak tangannya di kening wanita itu.


"Apakah kau sedang sakit? Wajahmu memerah."


"Hah?" Siska merasa salah tingkah ketika dekat dengan laki-laki tersebut.


Siska tak bisa berkata-kata lagi. Entah kenapa ketika laki-laki tersebut berbicara kepadanya membuat jantungnya berdetak lebih kencang dan sebelumnya. Siska sangat khawatir dengan kondisinya tersebut.


"Hm."


"Nanti di kota Liverpool kau akan mendapatkan teman. Kebetulan dia adalah salah satu orang yang menjadi teman seperjuangan ku. Ia juga seorang wanita dan aku yakin kalian pasti akan cocok. Apalagi dia sekarang sudah bergabung dengan badan intelijen negara. Aku harap kau dapat berteman dengannya karena aku sangat kasihan kepadamu yang selalu saja sendirian."


Siska tak mengerti kenapa Aaron melakukan hal tersebut. Dikatakan kesepian mungkin bisa jadi. Tapi ia tak pernah berharap jika Aaron akan memberikannya seorang teman.


"Terima kasih."

__ADS_1


"Hm."


Setelah berbincang cukup lama akhirnya mereka pun telah melakukan penerbangan ke kota Liverpool. Pesawat telah meninggalkan bandara dan Siska baru kali ini ia memasuki pesawat karena biasanya Aaron tak membawa wanita itu keluar kota jita ada urusan.


Siska merasakan sangat pusing karena ini adalah pertama kalinya ia berpergian menggunakan pesawat. Hingga pada akhirnya ia tak bisa menahan gejolak yang ada di dalam perutnya dan Siska pun memuntahkan semua isi perutnya ke baju Aaron.


Aaron yang awalnya sangat tenang mengerjakan semua berkas-berkas di dalam pesawat tersebut pun langsung terkejut. Ia memandang ke arah Siska dan menatap wanita itu tidak percaya.


"Siska."


"Maafkan aku."


"Kau benar-benar keterlaluan karena telah muntah di baju majikan mu sendiri. Sepertinya kau harus diberikan sebuah hukuman."


Kontan mata Siska langsung terbelalak dan wanita itu seolah-olah sangat tak percaya dengan apa yang didengar olehnya.


"Maafkan aku."


Aaron pun menarik nafas panjang lalu menghembuskannya secara perlahan. Ia memanggil pramugari agar bisa membantu Siska untuk pergi ke toilet dan membersihkan bekas muntah Siska.


Dengan sangat cepat pramugari pun datang dan Siska langsung dibawa ke toilet oleh pramugari tersebut.


"Bantu dia membersihkan bekas muntah di tubuhnya. Ini adalah pertama kalinya dia bepergian menggunakan pesawat, mungkin ia sedang mabuk perjalanan."


Pramugari tersebut pun sudah mengerti. Setelah Siska pergi ke dalam toilet ia pun juga pergi ke toilet pria untuk membersihkan bekas muntah sisa yang ada di tubuhnya dan juga berganti baju.


___________

__ADS_1


TBC


JANGAN LUPA LIKE DAN KOMEN SETELAH MEMBACA.


__ADS_2