
"Entah kenapa aku akhir-akhir ini sering melihat mu melamun. Apa yang sebenarnya tengah kau pikirkan, apakah kau masih memikirkan pria itu lagi?" tanya Daniel sembari duduk di samping Siska.
Ya sebentar lagi saatnya Siska menjalani operasi mata di mana ia akan melakukan sel-sel jaringan pada matanya yang telah rusak.
Jujur saja saat ini Siska sangat gugup karena dirinya baru pertama kalinya berada di situasi yang sangat menegangkan setelah 3 tahun belakangan. Melakukan operasi pada matanya tentu hal tersebut bukanlah sesuatu yang bisa dikatakan main-main. Ini adalah pertaruhan di mana dirinya bisa melihat atau tidak nanti. Siska sangat berharap jika operasi itu berjalan dengan lancar dan dirinya kembali bisa melihat.
Jantungnya berdegup antara takut untuk melakukan operasi dan juga guguk untuk menyambut dirinya yang bisa melihat kembali seperti di umurnya yang 10 tahun. Siska menarik nafas panjang lalu menghembuskannya secara perlahan. Hal tersebut terus ia lakukan agar bisa memberikan rangsangan yang baik bagi jantungnya. Iya tombolnya terlalu gugup karena itu bisa mempengaruhi kepercayaan dirinya.
Daniel pun turut menguatkan Siska dengan mengusap bahu wanita itu. Siska pun perlahan mulai merasa tenang dan memandang ke arah Daniel sembari tersenyum lebar. Seolah-olah ia tengah berterima kasih kepada laki-laki tersebut yang selalu saja memberikan dukungan kepada dirinya.
"Kau tidak perlu sungkan dengan apa yang telah aku lakukan. Kita adalah teman dekat dan juga hal seperti ini memang seharusnya aku berada di sampingmu untuk menguatkanmu."
"Aku hanyalah seorang imigran yang begitu keterlaluan kepada diri mu. Jika suatu hari nanti aku telah berhasil aku akan menggantinya lebih dari ini," ucap Siska seolah-oleh tengah melakukan sebuah janji kepada Daniel.
Daniel yang mendengar kata-kata Siska pun hanya bisa terkekeh. Siska terlalu naif tanpa mengetahui Jika dia dinyatakan pernah mengharapkan balas budi dari wanita itu. Apa yang ia lakukan murni karena dirinya merasa tersentuh dengan setiap perjuangan Siska yang tidak ada habisnya.
"Kau adalah orang yang hebat Siska. Aku begitu salut kepada dirimu. Kau jangan pernah menyerah sama sekali. Tenanglah sebentar lagi kau akan bisa melewati ini semua ini. Kau adalah anak yang hebat dan aku percaya akan hal itu." Setiap kata yang dikeluarkan oleh Daniel begitu meyakinkan.
Siska yang awalnya sangat ragu-ragu perlahan itu kepercayaan dirinya mulai kembali. Ini semua demi kebaikan Peter dan juga dirinya. Ya walaupun selama ini Daniel tidak mengetahui bagaimana masa lalunya karena Siska sendiri tidak ingin mengatakan masa lalunya yang begitu suram kepada laki-laki tersebut.
"Aku hanya bisa mengucapkan banyak-banyak terima kasih kepada dirimu. Kamu begitu banyak telah membantuku tembakan kau sekarang kau menguatkan diri ku."
"Hem."
Daniel dan juga Siska saling memandang. Dari tatapan mereka begitu tulus terutama Daniel. Nama-nama Siska pun dipanggil oleh dokter sebab ia akan melakukan operasi selanjutnya. Siska begitu merasa gugup dan tangannya kembali bergetar. Akan tetapi Daniel langsung meraih tangan tersebut dan menggenggamnya untuk menguatkan wanita itu.
__ADS_1
"Hei jangan terlalu menuruti rasa gugup mu itu. Sebentar saja dan kau akan bisa melewati ini semua. Mungkin beberapa hari lagi kau akan bisa melihat dunia ini. Maka dari itu janganlah kau menyerah."
Siska melakukan kepala dan lalu ia pun mengikuti dokter ke ruang operasi. Di luar sana Daniel juga turut mendoakan kebaikan Siska Dan semoga saja operasi tersebut berjalan dengan lancar. Harapan Daniel terhadap keselamatan Siska begitu besar. Ia peduli kepada wanita itu dan oleh sebab itu ia selalu merasakan khawatir.
___________
1 Minggu Kemudian
Siska pun perlahan bisa mulai membaik setelah pasca melakukan operasi. Setelah melakukan operasi ia belum bisa membuka penutup matanya dan Siska sendiri merasa sangat penasaran bagaimana dunia ini namun dokter dan juga dirinya sendiri masih belum sanggup untuk membuka penutup matanya.
Ia masih dirawat di rumah sakit demi kebaikan dirinya. Daniel selalu datang untuk menyemangati Siska. Beberapa hari ini tugas untuk mengantar jemput ke tempat bermain selalu dilakukan oleh Daniel. Daniel menjadi sosok paman yang begitu dicintai oleh Peter. Karena sosok Daniel begitu sempurna di matanya.
Peter pun membuka pintu kamar rumah sakit dan melihat sang ibu yang masih termenung di ranjang rumah sakit sambil memikirkan banyak hal.
Peter pun langsung berteriak memanggil ibunya membuat Siska langsung menoleh ke arah pintu kamar. Senyum Siska terbit ketika mendengar suara celotehan anak itu. Ia pun menunggu Peter berlari ke arah dirinya.
"Peter kau baik-baik saja di luar, bukan?"
"Ya tentu saja. Aku baru saja mendapatkan teman baru di lingkungan rumah sakit ini. Paman begitu baik dan mengajakku untuk makan enak. Kau pasti akan merasa iri denganku," ucap Peter seolah-olah setengah berusaha untuk membuat Siska merasakan iri.
"Wah kau begitu hebat. Aku merasa bangga kepadamu." Siska pun mengusap kepala Peter dan lalu kemudian mengecup kening anak tersebut.
"Mama, apakah setelah kau melakukan operasi ini kau akan bisa melihat diriku?" Pertanyaan polos itu meluncur begitu saja dari mulut Peter.
Siska yang mendengar pertanyaan dari anaknya itu lantas mengusap kepala Peter dengan penuh perasaan sayang. Dia sendiri juga sangat tidak sabar untuk menunggu dirinya bisa melihat.
__ADS_1
"Ya kata dokter dan juga Pak man Daniel seharusnya aku bisa melihat dirimu. Kau doakan saja yang terbaik semoga operasi ini berhasil."
"Mama Apakah kau masih sering merasakan sakit pada matamu?"
Siska pun mengirimkan kepalanya sebagai bentuk jawaban kepada anaknya tersebut. Anaknya sangat mengkhawatirkan dirinya dan ia merasa senang ketika Peter mencoba untuk mempertanyakan kondisinya.
"Aku pasti akan baik-baik saja, kau tenanglah."
Daniel yang dari tadi hanya memperhatikan interaksi antara Siska dan juga Peter tersebut menghampiri mereka. Daniel lantas mengucap-ngacak rambut Peter dengan perasaan gemes.
"Pengetahuanmu begitu sangat luas. Kau bener-bener pintar dan aku merasa jika kau berpotensi untuk menjadi orang hebat di masa depan. Dan kau juga memiliki perasaan yang sangat tulus Padahal aku masih di usia 3 tahun. Tenanglah ibumu pasti akan baik-baik saja dan kau tak perlu khawatir kepada dirinya."
"Paman apakah benar ibu akan baik-baik?"
"Ya tentu saja."
Daniel pun tersenyum lebar dan lalu kemudian duduk di samping Siska. Iya marai dengan wanita itu terlalu menggenggamnya serta mengusapnya.
"Sebentar lagi, kau akan bisa melihat. Dokter menuju ke sini dan katanya kau sudah boleh membuka penutup matamu."
Jantung Siska berdetak dua kali lipat. Sungguh dirinya tak bisa mengontrol perasaannya sendiri yang begitu menggebu-gebu.
__________
TBC
__ADS_1
JANGAN LUPA LIKE DAN KOMEN SETELAH MEMBACA.