
Setelah berhasil menangkap Antoni, rombongan Aaron akan segera pulang ke Inggris untuk menyerahkan buronan tersebut kepada negara. Hanya saja saat ini Siska tak bisa berbuat apapun padahal itu artinya Aaron semakin dekat untuk menyerahkan dirinya ke penjara.
Wanita itu meneguk ludahnya dengan kasar. Jujur saja saat ini Siska tengah dilanda rasa delima yang cukup membuat dirinya tak bisa berkutik. Siska tetapi kebodohannya tersebut dengan senyum tipis di wajahnya. Senyuman itu bermaksud untuk menyindir dirinya yang tidak bisa melakukan apapun.
Siska menarik nafas panjang lalu menghembuskannya secara perlahan. Lalu kemudian ia memandang ke depan di mana Cessy juga tengah menatap dirinya dengan tajam. Siska pun langsung menelan salivanya. Ia melemparkan sebuah senyum tipis kepada Cessy. Namun wanita itu sama sekali tak membalas senyum yang diberikan oleh Siska.
Siska pun merasa sangat bersalah kepada Cessy. Wanita itu tahu jika saat ini Cessy tengah merasa kecewa kepada dirinya. Seharusnya Siska bisa menghentikan Aaron untuk menyerahkan dirinya, tapi balik lagi kepada Siska yang mau atau tidak memaafkan Aaron dengan segala kesalahannya. Cessy ingin marah tapi ia juga tak berhak karena di sini yang korban adalah Siska jadi wajar saja misal wanita itu tak ingin memaafkan Aaron.
Aaron pun memandang ke arah bandara Hawaii dengan tatapan yang cukup tajam. Sebelum pada akhirnya ia pun masuk ke dalam pesawat. Setelah Aaron telah masuk ke dalam pesawat, Siska pun berjalan menghampiri Cessy yang hendak masuk ke dalam pesawat juga.
Cessy merasa jika pundaknya disentuh. Wanita itu langsung membalikkan tubuhnya dan lalu kemudian memandang ke arah Siska dengan mengangkat satu alisnya.
"Siska ada apa kau menahanku? Apalagi yang ingin kau katakan, katakanlah dari sekarang agar aku bisa mendengarkannya."
Siska memandang ke arah Cessy dengan tatapan yang ragu. Jelas terlihat di wajah wanita itu sebuah harapan tipis dan juga tatapan sendu. Ia melirik ke arah jendela pesawat yang memperlihatkan Aaron yang tengah duduk dengan hawa dingin yang selalu menyertai pria itu.
"Cessy."
"Apalagi yang kau inginkan."
Air mata Siska pun jatuh dan wanita itu langsung menyekanya. Ia memandang sekali lagi ke arah Aaron dengan tatapan yang cukup ragu.
"Cessy, aku ingin bertemu dengannya. Sekali saja."
Siska tampak tengah memohon membuat Cessy sedikit terharu melihat betapa wanita itu berharap besar untuk bertemu dengan Aaron.
Cessy pun mengangguk dan kemudian masuk ke dalam pesawat. Ia berjalan ke arah Aaron yang tengah termenung.
"Aaron."
"Hm?"
"Turunlah sebentar."
"What?"
"Turunlah!"
Aaron pun memandang ke bawah dan matanya bertatapan dengan Siska yang dengan menunggu di bawah bersama Peter.
__ADS_1
"Ada apa lagi? Kenapa dengan wanita itu? Apakah dia membuat masalah lagi?"
"Turunlah, jika kau tak ingin menyesal. Temui dia."
"Tidak. Aku tak punya waktu."
"Kau akan menyesal seumur hidup mu."
"Aku tidak akan pernah menyesal. Kau jangan terlalu bisa menerka kehidupanku."
"Kau mengatakan Jika kau tak pernah menyesal. Bagaimana seandainya kau akan menyesal seperti kau kehilangan dia?" Aaron memandang ke arah Siska dan lalu kemudian menarik napas panjang.
Ia pun sudah memilih keputusannya. "Kau terlalu cerewet, Cessy. Baiklah aku akan menemuinya."
Aaron pun keluar dari dalam pesawat dan lalu turun menemui Siska. Dihadapkan secara langsung dengan Aaron membuat tubuh Siska bergetar hebat.
"Apa yang ingin kau bicarakan denganku? Katakanlah dari sekarang. Waktuku di sini hanya sebentar, dan sebentar lagi kami akan lepas landas. Jangan membuang waktuku."
"Aaron."
Seketika itu juga tubuh akan menegang. Ia merasa familiar dengan panggilan tersebut, namun dirinya tak ingin berharap lebih dan juga tak mungkin di depannya adalah Siska.
"Semua orang juga mengetahuinya. Tidak hanya kau yang mengetahuinya."
"Oh, rupanya aku sudah seterkenal itu."
Aaron pun kemudian menaikkan satu bibirnya. Laki-laki tersebut menarik napas panjang dan lalu kemudian memandang ke arah Siska dengan tatapan yang tajam.
"Dia ingin bertemu denganmu. Dia selalu membicarakanmu setiap hari dan bertanya tentang mu. Bolehkah kau memeluknya sebentar?" tanya Siska kepada aaran sembari memandang ke arah anaknya yang tampak keheranan.
"Apa hak ku untuk memeluknya? Aku bukanlah artis."
Siska pun menundukkan kepalanya dan kemudian terdiam cukup lama sebelum akhirnya ia pun memandang ke arah Aaron dengan tatapan yang sangat sendu.
"Kau tidak mengerti dengan perasaan kami, peluklah dia sebentar."
Aaron memandang ke arah Peter dengan tatapan yang awalnya sangat keheranan. Namun akan tetapi lelaki tersebut terpaku dengan rupa Peter yang menurutnya sangat familiar. Selain itu ia merasakan jika ada daya magnet antara dirinya dan juga Peter.
"Siapa kau? Kenapa aku merasakan perasaan yang berbeda."
__ADS_1
Aaron pun dengan nalurinya lantas memeluk tubuh Peter. Peter sendiri merasa terkejut dengan pelukan tiba-tiba dari Aaron. Namun ia teringat dengan apa yang dikatakan oleh ibunya tadi pagi. Jika ada pria yang memeluk tubuhnya pagi ini maka orang tersebutlah ayahnya.
"Papa."
Seluruh tubuh Aaron bergetar. Ia merasa dejavu yang tidak biasa saat anak itu memanggil dirinya dengan sebutan papa. Aaron pun melepaskan pelukannya dari Peter dan lalu kemudian melirik ke arah Siska.
"Siapa anak ini? Aku tidak mengenalnya dan Kenapa ia memanggilku papa."
"Karena kau memang ayahnya," ucap Siska sembari melepaskan seluruh penyamarannya. Aaron pun langsung tak bisa berkutik saat dengan jelas ia melihat jika orang di depannya adalah Siska merupakan wanita yang selama ini ia cari.
"Siska?" gumam Aaron seakan tidak percaya. Laki-laki tersebut pun memandang ke arah Siska dengan tatapan dari atas hingga ke bawah lalu beralih memandang ke arah Peter.
Itu artinya jika Peter anaknya perbuatannya saat itu cukup hebat sehingga menghasilkan seorang anak pada cetakan pertama.
Aaron pun tertawa sembari mengeluarkan air matanya. Laki-laki tersebut merasa sangat terharu. Iya pun kemudian langsung memeluk tubuh Siska dengan cukup erat. Pelukannya begitu sangat hikmat seakan laki-laki tersebut tak ingin melepaskannya.
"Siska. Aku merindukan mu."
"Aku juga."
"Maafkan aku."
"Aku sudah memaafkan mu."
Mereka pun melepas rindu sehingga Aaron pun melepaskan pelukannya dari Siska. Ia memandang ke arah Peter dan lalu menggendong anak tersebut dan mencium seluruh wajah Peter dengan sangat senang.
"Aku tak menyangka jika aku sehebat ini sehingga berhasil mencetak Peter dengan sekali buat. Aku memang sangat hebat."
Peter tampaknya cukup bahagia bertemu Aaron, begitu pula dengan Aaron yang sangat bahagia melihat anak kandungnya di depan mata.
"Apa yang kau bicarakan Aaron."
Aaron pun kemudian tersenyum miring dan lalu menarik tubuh sisa dan mencium bibir wanita itu dengan cukup hikmat.
_________
TBC
JANGAN LUPA LIKE DAN KOMEN SETELAH MEMBACA.
__ADS_1