
Siska pun keluar dari dalam pesawat dan mereka saat ini sudah sampai di bandara Inggris. Siska memutuskan untuk ikut dengan Aaron setelah pria itu menyatakan perasaannya dan juga ingin membawa dirinya ke Inggris. Siska sempat merasa ragu dan ia pun menelepon Daniel, Daniel sendiri merasa sangat tidak rela Siska pergi ke Inggris.
Namun Ia pun terpaksa melepaskannya dan mengatakan jika hari esok ia akan menyusun Siska ke Inggris. Jujur saja Siska merasa tidak enak kepada pria itu. Apalagi Daniel sudah banyak melakukan hal untuk dirinya. Lantas sopan kah ia pergi begitu saja meninggalkan laki-laki tersebut sendirian.
"Kenapa dari tadi aku merasa jika kau terus melamun. Apa yang sebenarnya tengah kau pikirkan?" Siska pun menarik napas panjang dan menatap ke arah Aaron yang saat ini tengah mendekap tubuhnya.
"Aku memiliki teman baik, dia adalah pria yang selama ini membantuku. Aku merasa tidak enak karena telah meninggalkannya," ucap Siksa yang jujur kepada Aaron.
Aaron pun menarik napas panjang dan kemudian memandang ke arah lain dengan tatapan tak suka. Ia tahu jika orang itu adalah Daniel yang tadi sempat menemui Siska di bandara. Jujur saja dirinya sangat merasa cemburu kepada Daniel tersebut.
"Kau tahu jika saat ini aku tengah cemburu mendengar namanya."
"Aku tahu itu, Aaron. Hanya saja aku sungguh merasa tidak enak kepada Daniel. Selama ini dia telah banyak membantuku dan juga dialah yang membiayai aku operasi mata."
Aaron pun memandang ke arah Siska dengan tatapan sendu. Lalu kemudian Ia pun mengusap kepala Siska.
"Untuk itu tenang saja. Aku akan membayar semua yang pernah dia lakukan kepada mu."
Siska tak percaya dengan apa yang ingin dilakukan oleh Aaron. Rupanya semuanya bisa dibayar dengan uang, tapi entah kenapa ia merasa tidak yakin jika ketulusan Daniel bisa dibayar hanya dengan uang.
"Entah kenapa aku merasa ragu. Dan berpikir jika Daniel tak menginginkan uangmu. Karena aku juga tahu jika dia sebenarnya menyukaiku."
Aaron ingin protes dan memarahi Siska. Namun belum sempat Ia melakukan semua itu dirinya langsung membungkam karena mengingat jika dirinya tak lebih baik dari Daniel. Daniel adalah sosok yang sangat baik dan sementara dirinya malah memberikan dampak buruk untuk Siska.
"Aku tahu. Dari tatapannya pun aku mengetahuinya, tapi aku tidak ingin melepaskanmu begitu saja. Walaupun aku tahu seharusnya aku menjadi orang yang ingin mendapatkanmu setelah apa yang aku lakukan kepadamu. Tapi Siska, aku berjanji kepada diriku sendiri jika aku akan menikahimu setelah kita akan bertemu dengan ibuku. Selain itu aku juga akan membawamu ke suku asli mu. Kebetulan aku juga pernah ke sana waktu dulu saat aku menjadi salah satu aktivis HAM."
__ADS_1
Siska pun langsung terkejut dan menatap ke arah Aaron. Bukan ia terkejut karena baru mengetahui jika Aaron adalah mantan aktivis HAM, namun setelah melihat pria itu ia pun teringat dengan laki-laki yang pernah datang ke sukunya dan mengubah pikirannya akan dunia ini.
Siska pun tersadar jika orang itu sangat mirip dengan Aaron.
"Apakah kau pernah ke sana cukup lama? Mungkin 10 tahunan yang lalu?"
"Ya."
"Kau bertemu dengan salah satu anak dari suku itu dan diam-diam memberikannya mengenai pembelajaran dunia modern dan beberapa buku lainnya. Kau bahkan mengajarkan Ia banyak hal, dan bahkan mungkin saja kau pernah mengatakan jika ingin menikahinya jika ia telah besar."
Aaron pun terkejut dan memandang ke arah Siska. Itu cukup lama walaupun sebenarnya dirinya sudah lupa akan tetapi saat Siska mengatakannya Ia pun langsung teringat. Arum memandang ke arah Siska dengan seksama dan memperhatikan wanita itu dan tampak jika Siska sangat mirip dengan orang yang pernah dijanjikannya tersebut.
"Apakah orang itu adalah kau?"
Siska menganggukkan kepala, "kau lah yang mengubah prinsip ku selama ini. Dari buku-bukumu itu aku belajar banyak hal, sehingga aku mengetahui dunia yang modern itu seperti apa hingga suatu hari aku dibuatkan oleh ayah ku karena ketahuan membaca buku yang kau berikan."
"Ternyata itu adalah kau. Aku bahagia bisa bertemu dengan mu. Suatu hari nanti aku pasti akan memenuhi janjiku dan akan menikahi mu."
Siska menganggukkan kepalanya. Mereka dari tadi terus berbincang sehingga tak menyadari jika mobil yang hendak menjemput mereka dari tadi telah menunggu. Sementara itu Peter terlelap di gendongan Felix
"Kalian berdua terus saja mengobrol dan tak menyadari jika kami dari tadi hanya bisa memandangnya. Tapi ngomong-ngomong kau jangan terlalu serius dan cepatlah pulang. Lihat dia tampaknya sangat kelelahan."
Siska dan Aaron pun memandang ke arah Peter yang tertidur.
__________
__ADS_1
Siska terus menetap ke arah Peter yang tertidur bersama ayahnya. Entah keajaiban dari mana Tuhan malah menyatukan keluarga mereka. Ini terlalu hangat dan bahkan tista tak mempercayai dengan apa yang saat ini dilihat olehnya. Sebab hal tersebut terlalu meragukan.
"Kalian berdua memang sangat mirip. Ternyata wajah Peter mirip denganmu, aku tak menyangka jika Peter selama ini mewarisi wajah tampan mu."
Siska tersenyum tipis dan lalu kemudian menyembunyikan wajahnya yang memerah karena melihat kedua pria kesayangannya. Ia merasa sangat salting dan juga tak bisa berbuat apapun melihat kedua pria tersebut tampak tidur dengan terlelap. Siska menarik selimut dan lalu menutupi tubuh Aaron dan Peter.
"Kalian berdua tidurlah dengan tenang."
Siska mengucap kening Peter dan lalu kemari ia pun hendak melakukan hal yang sama kepada Aaron. Tapi sayang sekali pria itu lebih dulu terbangun dan menarik tubuh Siska hingga jatuh ke samping laki-laki tersebut. Siksa pun membulatkan matanya dan ia tak bisa berbuat apapun selain menelan ludahnya dengan susah payah.
"Siska, kenapa wajahmu dari tadi terus memerah?" Pertanyaan tersebut tampaknya tengah mengejek Siska.
Wanita itu mendecih dan lalu menjauhkan tubuh Aaron tersebut dengan pandangan muak. Laki-laki itu memang bisa meluluhkan hatinya.
"Apaan? Wajah ku tidak merah."
Aaron pun mengecup pipi Siska sekilas.
"Lihat lah dia memerah."
"Aaron kau benar-benar ingin ku pukul?!!"
__________
TBC
__ADS_1
JANGAN LUPA LIKE DAN KOMEN SETELAH MEMBACA.