
"Mama kenapa hari ini kita cepat pulang?" tanya Peter yang sangat keheranan sambil mengunyah makanan yang dibelikan oleh Daniel di jalan tadi.
Siska memandang ke arah anaknya dan kemudian tersenyum tulus kepada anak laki-laki tersebut. Ia bingung harus menjelaskan seperti apa kepada anak kecil ini. Peter baru berusia 3 tahun dan ia tahun mengerti dengan penjelasan yang ia berikan.
"Karena kita sudah lama berada di luar."
"Padahal aku ingin pergi ke taman bermain dan banyak lagi yang ingin aku lakukan. Tapi kau malah mengajakku pulang," ucap Peter sambil mengunyah makanannya itu dan makanan tersebut pun belepotan di sekitar bibir anak laki-laki tersebut.
Siska mencari kain lalu kemudian mengusap bekas makanan yang tertinggal di bibir anak laki-laki itu. Ia kemudian menyuapkan Peter dengan sangat hati-hati.
"Lain kali kau harus makan dengan sangat hati-hati dan jangan lagi belepotan seperti ini. Apakah kau mengerti dengan apa yang dikatakan oleh ibumu ini?"
"Siap mengerti," ucapnya yang begitu sangat lucu.
Padahal Ia baru saja berusia 3 tahun tapi terlihat sekali jika anak ini memiliki kecerdasan yang sangat luar biasa. Entah dari siapa menurunnya kecerdasan tersebut sebab kedua orang tuanya memiliki kecerdasan masing-masing.
Kecerdasan mereka tentunya tak bisa diragukan lagi sebab mereka telah banyak memecahkan masalah yang begitu berat. Tidak ada yang tidak mungkin jika suatu hari nanti Peter akan melebihi orang tuanya.
"Mama aku ingin bertanya kepada mu. Kenapa ayah belum juga pulang?"
"Aku belum bisa mengatakannya. Tapi kau harus mengerti dengan kondisi mu ini, sebab tak semua orang bisa beruntung memiliki ayah jadi jangan bertanya mengenai ayah lagi."
Peter pun sebenarnya tidak akan mengerti jika dijelaskan oleh Siska. Bahkan mungkin hari ini Siska bisa saja memberikan nasehat kepada anak itu tapi besok-besok ia pasti akan menanyakan mengenai ayahnya lagi. Hal tersebut murni terjadi karena keinginannya sebagai seorang anak-anak yang membutuhkan figur ayah. Tapi sangat beruntung ia tak selalu bertanya mengenai ayahnya dan menjadikan Daniel sosok ayah yang baik baginya.
Walaupun Daniel hanyalah sekedar paman bagi Peter. Siska juga tak ingin mengharap hubungan yang lebih dengan Daniel.
__ADS_1
"Ingat jangan berbuat yang tidak-tidak dan jangan bertanya itu lagi."
"Iya Mama," ucapnya dengan acuh tak acuh karena tengah fokus dengan mainannya. Entah kenapa ia merasakan ada sisi negatif dari kepintaran yang dimiliki oleh anaknya tersebut.
Karena di umurnya yang tiga tahun ia pun sudah berpikir seperti anak yang di atas umur lima tahun. Itulah membuat Siska merasa tidak enak karena pasti secepatnya anaknya akan mengetahui hubungannya dengan Aaron. Ia masih belum sanggup jika anaknya mengetahui ia dihasilkan dari hubungannya seperti apa.
Peter pun naik ke atas ranjangnya dan kemudian menarik selimut sebatas dada dan memejamkan matanya. Siska lantas mendekati anak itu dan kemudian membacakan sebuah dongeng agar Peter cepat tertidur.
Anak tersebut sangat menyukai dongeng yang dibacakan oleh Siska. Sista sendiri membacakannya bisa membawa audiensnya merasakan apa yang tengah ia ceritakan.
Hal tersebutlah yang membuat Peter
cepat tertidur. Anak itu tampak sangat nyenyak sekali dan melihat wajah polosnya membuat Siska merasa sangat tidak tega kepada anaknya sendiri. Mungkin suatu hari nanti dia bisa mengatakan yang sebenarnya.
"Aku mencintaimu."
___________
Aaron dan menatap ke arah bintang-bintang yang bersinar bersinar di malam hari. Ia menarik napas panjang dan kemudian menjauh dari jendela.
Ia pun duduk di meja kerjanya dan melanjutkan beberapa pekerja yang sempat tertunda. Sementara itu Cessy seperti tidak ingin menyerah dan wanita itu terus mencari cara agar bisa bertemu dengan Aaron dan menanyakan keganjalannya selama ini.
Aaron yang tahu jika di luar ada kesibun lantas menatap ke arah pintunya dengan tatapan yang cukup mengerikan. Cessy keluar dari balik persembunyiannya saat dirasa jika Aaron sudah mengetahui keberadaannya. Ia tak bisa mengelak dari laki-laki tersebut.
"Apa yang sebenarnya ingin kau tanyakan? Kenapa kau slalu saja mengintip ku? Aku curiga kau malah menyukai ku."
__ADS_1
Cessy membulatkan matanya dan lalu ke memandang ke arah Aaron dengan tatapan tak setuju. Bahkan ia mendengarnya saja ingin muntah, hal itu benar-benar membuat Aaron cukup tersinggung. Akan tetapi mengingat jika Cessy adalah teman lamanya maka ia tampak biasa saja.
"Kau terlalu percaya diri Aaron. Kedatanganku di sini hanya ingin mengantarkan berkas ini kepadamu. Ini beberapa bukti yang ditemukan, dugaan kuat jika memang Antoni ada di Hawaii. Tapi tampaknya lambat laun laki-laki itu juga akan mengetahui bahwa kita juga ada di Hawaii. Jadi ada kemungkinan jika kita akan ketahuan dan besar kemungkinan juga Antoni akan melarikan diri dari Hawaii."
Aaron pun menelan ludahnya dengan susah payah. Semenjak kepergian Siska memecahkan suatu masalah sedikit kesulitan. Maka dari itu di sisi lain ia juga sangat membutuhkan kepintaran yang dimiliki oleh Siska.
"Jika begitu mau tidak mau kita harus menemukan keberadaannya secepatnya sebelum ia kabur lagi. Mulai besok kita akan bergerak, karena Felix sudah menemukan tempat laki-laki itu berada." Aaron pun memandang ke arah Cessy dengan tatapan yang cukup tajam sebab ia takut jika ada yang ingin dikatakan oleh Cessy lagi. "Katakanlah. Kau pasti ingin bertanya mengenai Siska."
"Ya apa yang terjadi di antara kalian sebenarnya. Aku bukan hanya sebatas penasaran akan tetapi aku bisa membantu mu. Apakah kau ingin jika diri mu tersiksa seumur hidup. Lebih baik kau mengingkari janji saja dan kemudian meminta maaf kepadanya."
Aaron pun menundukkan kepalanya dan memejamkan matanya dengan perasaan yang sangat bingung. Anak laki-laki tersebut pun menelan ludahnya dengan cukup kasar.
Ada sedikit rasa gugup saat dia ingin mengatakan yang sebenarnya."Aku memperkosanya," ucap Aaron dengan sangat penuh penyesalan.
Cessy yang mendebar hal tersebut tak bisa berkutik saking tak percayalah dengan apa yang baru saja didengar olehnya. Ia memandang ke arah Aaron dengan tatapan sangat syok dan juga penuh amarah.
Tangannya terkepal dan wanita itu maju selangkah mendekati Aaron dan lalu tanpa diduga ia menampar Aaron dengan cukup keras.
"Kau keterlaluan Aaron. Kenapa aku tak mengenal mu? Ini bukan kau, kau tidak malu dengan jabatan mu ini yang tidak sebanding dengan reputasimu. Kau tak pantas dengan jabatan mu, seharusnya kau dipenjara."
"Setelah selesai aku membunuh ayah ku dan kemudian membalas dendam dengan pria itu, maka aku akan menyerahkan diri ke polisi."
Aaron memandang ke arah Cessy dengan tatapan yang sangat yakin.
________
__ADS_1
TBC
JANGAN LUPA LIKE DAN KOMEN SETELAH MEMBACA.