Gadis Buta Yang Ditumbalkan

Gadis Buta Yang Ditumbalkan
Part 46


__ADS_3

Siska tak tahu jika memandang dunia dengan mata kepalanya sendiri tanpa harus membayangkan lagi seperti apa barang-barang di sekitarnya adalah hal yang paling menyenangkan dan sangat membuat dirinya bahagia.


Dunia begitu indah dan Siska tak bisa berkata-kata untuk mendeskripsikan keindahan yang dimiliki oleh dunia tersebut. Wanita itu sungguh sangat merasa bersyukur dengan kebaikan yang diberikan oleh Daniel.


Sejenak ia menarik napas panjang dan lalu menghembuskannya secara perlahan. Pemandangan pagi ini begitu sangat indah di mana ia melihat sang anak yang tengah makan di dapur dan ditemani oleh Daniel.


Ya dulu ia sempat risih Daniel memperlakukan nya lebih spesial dari pelanggannya yang lain. Namun lama ke lamaan ia merasa lebih baik dan hal itu membuat dirinya merasa sedikit lega ada seorang pria yang begitu tulus mendampingi dirinya.


Apalagi secara tidak langsung Peter tak kehilangan figur ayah dari dalam hidupnya. Daniel begitu baik dan bahkan ia menjadi laki-laki yang begitu memperhatikan Peter seolah-olah pria itulah Ayah kandungnya. Padahal Daniel bukanlah siapa-siapa dan pria itu hanyalah orang yang telah menolong hidup Siska.


Siska begitu banyak berhutang Budi kepada pria itu. Bahkan ia merasa sangat kesulitan untuk membalas semua kebaikan yang diberikan oleh laki-laki tersebut. Karena semuanya begitu tidak ada harganya sebab kebahagiaan yang diberikan oleh adalah kebahagiaan sangat spesial.


Siska pun menghampiri mereka ke meja makan dan ikut bergabung. Daniel dan juga Peter menatap ke arah sang Ibu sembari mengerutkan keningnya. Akan tetapi lama-kelamaan senyum mereka pun timbul dan hal itu membuat Siska merasa kebingungan. Apakah mereka tengah mentertawakan dirinya? Kenapa mereka menatap dirinya seperti ada yang salah dengannya.


Siska pun pada akhirnya kebingungan sendiri dengan apa yang telah terjadi kepada dirinya. Wanita itu pun menarik nafas panjang lalu menghembuskannya secara perlahan.


"Apa yang sedang kalian lihat kenapa aku merasa tidak enak? Kalian sedang menertawakan diriku?" tanya Siska sembari menyipitkan matanya untuk mengintimidasi dua orang pria yang ada di depannya.


Tentu saja hal itu kepada mereka karena menurut keduanya ibunya malah terlihat sangat lucu. Siska pun pada akhirnya merasa kalah dan kemudian menyerah dari kedua orang itu.


"Kau benar-benar sangat membuat ku kebingungan, sebenarnya ada apa? Kenapa sangat misterius sekali?" tanya Siska sembari menarik napas panjang dan lalu kemudian menundukkan kepalanya.


"Mama hari ini sangat cantik dan kami merasa jika mama adalah orang yang paling cantik di rumah ini," ucap Peter yang membuat Siska merasa sangat cemberut. Ya memang ia haus tersenyum ketika telah dipuji, akan tetapi pujian itu seolah-olah tidak ada artinya karena Daniel dan juga Peter memuji dirinya lantaran ialah wanita satu-satunya di dalam rumah ini.

__ADS_1


"Jika bukan aku di rumah ini yang paling cantik lantas siapa?" tanya Siska sembari memajukan bibirnya.


Daniel tak henti-hentinya menatap k arah Siska dan merasa sangat terpesona terhadap wanita itu. Lebih tepatnya ia sudah terpesona semenjak ia pertama kali bertemu dengan Siska. Hanya saja Siska tak mengetahui dan bahkan tak menyadari perasaan Daniel kepada dirinya itu.


Mungkin itu juga salah satu alasan kenapa Daniel sering membantu dirinya. Tapi memang seharusnya Siska tak mengetahui alasan itu dari pada nanti ia akan kecewa kepada dirinya sendiri karena tak bisa membalas perasaan suka Daniel tersebut. Ia begitu trauma dengan perasaan mencintai seseorang namun berakhir merasakan sakit.


Ya walaupun di sini dirinya yang begitu goblok mencintai orang yang tak seharusnya tak ia cintai. Maka dari itu ia bernasib seperti ini.


"Walaupun ada wanita lain di rumah ini tetap saja kau yang paling cantik," ucap Daniel yang begitu tulus.


Siska pun memandang ke arah Daniel yang baru saja berbicara seperti itu kepada dirinya. Ia mengerutkan keningnya dan mengangkat satu alisnya sebagai bentuk ekspresi bingung yang ia tunjukkan pada laki-laki tersebut.


"Bukankah kau terlalu berlebihan memujiku seperti itu? Aku tahu memang diriku cantik tapi menurutku tidak sekali orang lain yang ada di sini."


"Kau masih saja tidak menyadari dirimu sendiri, kau begitu sangat cantik kenapa kau mengatakan jika dirimu tidak secantik orang lain? Apakah di rumahmu belum ada kaca? Aku rasa aku harus membelikan kaca agar kau bisa bercermin jika dirimu itu sangatlah cantik Siska."


Siska sendiri ingin merendah karena dirinya merasa tidak pede dengan wajahnya sendiri. Namun melihat Daniel yang begitu serius mengatakannya membuat Siska yang ingin bercanda tersebut pun langsung menundukkan kepalanya. Apakah ia benar-benar cantik? Hal tersebut masih menjadi tanda tanya bagi Siska.


"Aku merasa jika diriku tidak secantik orang lain. Tapi kalian mengatakan jika akulah yang paling cantik, Aku tidak mengerti dengan standar kecantikan tersebut."


"Jika kau tak mengerti diamlah dan jangan menganggap dirimu bukan wanita yang cantik."


Siska menganggukan kepalanya. Udah nelpon sedikit lega dan lalu kemudian mengusap kepala hasil sekali membuat wanita itu tercengang.

__ADS_1


"Hari ini aku rasa diriku kurang baik. Padahal aku ingin mengajakmu melakukan sesuatu, tapi ta sudahlah kita lupakan dulu karena aku ada pekerjaan."


Siska pun menggelengkan kepalanya terhadap kebaikan yang tengah ditawarkan oleh Daniel. Ia tak mengharapkan sama sekali untuk diajak pergi berjalan-jalan dengan lelaki tersebut.


"Aku tidak mengharap itu juga jadi kau jangan merasa sangat bersalah seperti itu," ucap Siska sembari menambahkan beberapa lauk Pauk ke piring Peter agar anak itu lebih banyak makan lagi.


Peter pun menyambut baik tambahan yang diberikan sang ibu. Ia tersenyum ke arah ibunya sembari berterima kasih.


"Mama padahal aku sangat mengharapkan bisa berjalan-jalan dengan Paman, tapi kenapa kau selalu saka menolak ajakan berharga dari dirinya?"


"Peter sadar diri lah. Kau begitu sangat berlebihan. Paman sudah banyak memberikan kita kebahagiaan dan kota pantas memintanya terus-menerus."


Mendengar kalimat yang keluar dari mulut ibunya itu membuat Peter merasa sangat cemberut. Ia pun menundukkan kepalanya dan memandang ke arah Daniel seperti ia meminta maaf ke arah laki-laki itu karena telah berlebihan terhadap Daniel.


"Maafkan aku karena aku karena aku terlalu memaksa diri mu dan selalu saja meminta itu ini. Kau pasti sangat tidak senang dengan apa yang aku lakukan. Sekali lagi aku minta maaf."


Mata Daniel pun memutar dan ia pun kemudian menghela napas panjang sembari melepaskan hembusan yang begitu tenang.


"Jangan mau terprovokasi dengan ibu mu itu."


___________


TBC

__ADS_1


JANGAN LUPA LIKE DAN KOMEN SETELAH MEMBACA.


__ADS_2