
Bayu Anggara
Anastasy
FOLLOW SEBELUM BACA!!!
Almarhumah nyokap selalu bilang, kalau perempuan itu bertubuh lemah, tapi memiliki hati yang tangguh. Itu semua terbukti sejak orang tua tunggal ini mampu membesarkan hingga gue menginjak sekolah menengah atas saat itu. Tak pernah diduga sebelumnya, jika apa yang ia katakan merupakan ungkapan terakhirnya
Nyokap selalu bilang, perempuan adalah atap dari sebuah hubungan. Meski laki-laki diciptakan sebagai kepala, tetap saja, jika kepala kosong tanpa pemikiran maka akan sulit mendapat kemudahan. Atap adalah gambaran perlindungan dari hujan atau terik matahari. Jika atap itu kokoh, tak akan ada kontaminasi dalam isi kepala setiap manusia. Namun, akan berlaku pula sebaliknya jika atap itu mulai goyah dan roboh.
Lalu bagaimana dengan tiang?
Tiang dalam sebuah hubungan itu didasari dengan saling percaya dan mendukung.
^^^...^^^
Iseng, setiap malam Minggu selalu membuang penat dengan cara menghabiskan waktu di sebuah club malam di pusat Ibu Kota. Dalam keadaan setengah sadar dengan beberapa wanita penghibur berusaha membuka celah untuk menikmati malam yang penuh birahi, gue putuskan untuk tidak menggubris mereka sama sekali meski beberapa wanita dengan parfum menyengat itu berusaha untuk menggelayuti bahkan memeluk erat dari belakang.
Hingga mata yang sudah sedikit terkantuk ini tertuju pada sosok gadis di sudut ruangan seperti tengah dalam ketakutan menghadapi laki-laki tambun berpenampilan beringas berusaha menarik tubuhnya yang lemah. Masa bodo, mungkin tak seharusnya gue terlibat dalam urusan mereka.
Sial, kepala ini nampaknya memang sudah tak bersahabat lagi dengan hasrat yang masih ingin menikmati beberapa botol minuman beralkohol di meja marmer itu.
__ADS_1
"Abang, kok pergi?"
Ujar salah seorang wanita berpenampilan terbuka itu tanpa takut masuk angin dalam keadaan malam dingin. Gue terseok menuju toilet untuk mengeluarkan lendir dalam mulut yang pada awalnya sukses mengocok perut dengan rasa mual.
Sesaat terdiam, mendengar ******* serta beberapa jeritan jala*g menghiasi ruangan yang sudah agak jauh dari berisiknya dentuman musik menggema yang membuat kepala ini serasa ingin pecah.
Kurang ajar memang, mata ini tertuju pada celah di mana terpampang seorang gadis tadi tengah dalam keadaan telanjang sedang dihujani beberapa tamparan dan bahkan beberapa pukulan tepat di pelipisnya tanpa perlawanan selain jeritan dan rintihan tangis membasahi wajahnya.
Seketika itu rasa mual semuanya sirna dengan kemarahan yang gue sendiri tidak tahu apa sebabnya. Sebelumnya tidak pernah seperti ini meski melihat penyiksaan di depan mata.
Dia, gadis itu nyaris tak sadarkan diri jika saja satu pukulan itu tidak dapat gue cegah dengan hantaman benda tumpul tepat di tengkuknya.
Dia, gadis bermata terang itu meringkuk di sudut ruangan sambil memeluk kedua lututnya terisak miris.
Gadis itu memeluk, mungkin itu rasa terima kasih yang tak bisa ia ungkapkan secara langsung.
"Abang antar kamu pulang, ya?" Dengan lembut mencoba membujuknya.
Ia menggeleng, kedua tangannya terasa semakin erat memeluk dan menggigil. Mungkin ada trauma pada gadis ini.
"Rumah kami di mana? Abang antar kamu pulang."
"Aku gak mau pulang."
"Nanti orang tua kamu nyariin, lagian buat apa bocah berada di tempat kayak gini?"
__ADS_1
Agak kesal dan sedikit membentak karena gue pikir dia adalah salah satu dari bocah SMA yang sulit diatur mama papanya.
"Aku yatim piatu, aku dijual."
Seketika kepala ini serasa mendidih mendengar penuturan yang tak pernah gue harapkan ucapan itu keluar dari mulut seorang gadis mungil.
Sadar jika keadaan sudah tidak aman lagi. Segera gue tarik gadis itu untuk segera ke luar melalui jalan pintas di mana para mucikari menghindari razia polisi, dan mereka selalu lolos tanpa celah.
Satu-satunya mobil peninggalan bokap ini menjadi alat kendaraan kemanapun gue pergi. Gadis itu masih membisu meski perjalanan sudah menempuh beberapa mil dari lokasi.
"Siapa yang udah jual kamu?" tanyaku disela sibuk menyetir mobil.
Sebenarnya kepala ini masih agak pening terasa. Namun, jika aku tak segera membawa gadis ini pergi, entah siksaan macam apa lagi yang akan dia dapatkan.
"Kakakku," jawabnya dengan nada sedih.
Hampir saja gue memukul kemudi karena tak pernah menyangka jika seorang kakak mampu melakukan hal sekeji itu terhadap adik yang harus dijaganya.
"Kenapa?" tanya gue.
Nampaknya masalah ini sudah tak pantas dibahas lagi. Gadis itu semakin menggigil dalam balutan kain yang sempat gue lilitkan sebelum membawanya ke mari.
***
Next...
__ADS_1