
FOLLOW DAN LIKE YA!!!
"Pa, Papa harus kuat. Alvin ada di sini, Pa ...."
Gue menggenggam satu dari tangan yang berlumuran darah itu sambil tak henti sesekali menyeka air mata. Wajahnya, seorang ayah yang selama ini gue benci, ia tersenyum hangat dan terbatuk menahan rasa sakitnya. Please, saya mohon ya Tuhaaan ... selamatkan dia.
"Alvin ...." Ia berusaha berucap meski batuk itu menyerang kembali. "Papa bahagia ... sekali. Pada akhirnya kamu mau mengakui saya sebagai Papa kamu."
"Sampai kapan pun, Papa tetap papanya Alvin, Pa." Tangan itu gue ciumi, bahkan menempelkannya pada pipi yang tetap banjir air mata.
"Jangan menangis, nak ... Papa akan segera bersatu dengan ibumu ...."
"Enggak, Pa. Alvin gak rela! Papa akan selamat, Papa jangan ngomong kayak gitu ...." Pecah sudah, gue semakin tak tahan untuk tidak terisak dalam kesakitan ini.
Entah kenapa, ambulance yang kami tumpangi tak juga sampai ke tempat tujuan. Sempat beberapa kali mengalami kendala karena adanya pengendara yang ngeyel, mungkin tak mau mengalah.
"Alvin ... wanita tadi ... tolong kamu bebaskan dia."
"Enggak, Pa. Dia harus masuk penjara karena perbuatannya!"
"Dia hanya marah karena suaminya meninggal di tangan Papa ... dia memiliki seorang anak yang masih kecil. Kamu jangan luapkan dendam demi Papa ya ...." Sesaat ucapannya tertahan, tampak ia meringis mencengkeram dadanya. "Anggap saja ... ini karma buat Papa ...."
"Enggak, Pa ... Enggak. Papa harus selamat ... Demi Alvin dan Jessica, Pa ...."
"Alvin ... Papa lelah. Papa mau tidur."
Menjauh sudah. Suara itu tak lagi terdengar meski hanya sebuah bisikan semata. Matanya, matanya tertutup. Papa, please jangan pergi ....
Gue meraung tanpa sadar ketika mengetahui denyut nadi itu tak lagi terasa. Apakah ... Ini ....
Semuanya terasa mengambang begitu saja. Serasa kaki ini tak menapak sama sekali meski ambulance sudah sampai ke tujuan. Melayang, bukan karena senang.
Tak perduli lagi dengan jas putih yang dipenuhi merahnya darah ini. Darah Papa, orang yang sempat gue benci karena beberapa kejadian menimbulkan salah persepsi.
Papa ... haruskah ini terjadi?
Ambruk, tubuh gue serasa tak bertenaga, hanya berpangku pada alas yang kini menjadi tumpuan menunduknya kepala tak bertenaga.
Terasa jemari halus itu mengangkat wajah gue dan memeluk. Sedangkan tubuh Papa bersama Karina yang sejak tadi sibuk memanggil tenaga medis sudah lenyap menuju ruangan paling depan di rumah sakit ini.
Gue menangis dalam pelukan Caca bagai anak kecil yang kehilangan orang tuanya di tengah keramaian. Ya, kejadian pahit itu kembali terjadi. Ayah, Ibu, Papa ... Kalian pergi dengan menyisakan luka menganga.
__ADS_1
Sibuk, semua bekerja termasuk beberapa orang yang mungkin anak buah Papa turut datang ke rumah sakit ini. Jessica, gadis itu sudah lunglai dalam pelukan Juna yang membopong tubuhnya turut masuk untuk menanganinya, mungkin.
Noda darah itu berbaur pada gaun putih yang Caca kenakan. Hari yang seharusnya bahagia, hari yang seharusnya gue dapat menikmati waktu lebih panjang lagi dengan Papa dan Caca, Argh! Sakit ya Tuhaaaannnn ....
Caca membingkai wajah gue dan menatap dengan seksama. Mungkin ia tak rela jika melihat suaminya ini dalam keadaan sedih seperti ini.
"Enggak, Abang. Jangan salahkan diri sendiri dengan setiap apa yang terjadi." Wajahnya sendu dengan mata berkaca-kaca.
"Abang rapuh, Ca. Abang sakit ...."
Caca memeluk semakin erat dalam keadaan gue yang lemah tak berdaya. Karina muncul dengan menggelengkan kepala dan menatap kosong ke arah gue.
Tahu betul, ekspresi macam apa itu. Seketika tubuh ini bangkit berlari meski terseok. Benar, tubuh Papa sudah tertutupi kain putih di sekujur tubuhnya. Tidak! Ini bukanlah hal yang gue harapkan.
"Sorry, Vin. Bokap lo sudah meninggal sejak di perjalanan." Karina menunduk.
"Tidak, tidak mungkin. Gue baru beberapa hari ini merasakan dekat dengannya, Karina. Please, gue yakin lo pasti mampu. Selamatin Papa gue, please."
"Vin, sorry. Gue cuma bisa berusaha, bagaimana pun peluru itu memang telah merusak jantung bokap lo."
Kedua tangan ini mengerat dengan sendirinya. Tak sadar pukulan keras bersarang di dinding rumah sakit hingga beberapa kali mengeluarkan darah segar dari kedua kepalan tangan gue.
"Abang."
"Tapi gue bodoh, Karina! Seharusnya sejak awal gue sadar kalo dia sayang sama gue dan tak memupuk kebencian ini hingga meninggalkan sesal!" Tubuh gue terhantam menduduki kursi tunggu pasien. Semua orang di sana melirik sinis ke arah gue. Masa bodo!
"Vin, please. Jangan sakitin lo kayak gini." Lirih, Karina mensejajarkan tubuhnya, menatap wajah gue lekat. "Lo masih punya Caca yang butuhin lo saat ini. Jangan buat dia sedih, kasian anak lo."
Ya, memang. Caca tengah sedih menatap gue sambil memeluk tubuhnya sendiri. Apa gue termasuk egois? Tidak memikirkan orang yang gue cintai. Kehilangan seorang ayah memang bukanlah hal yang menyenangkan, dan gue yakin Caca pun pernah mengalami situasi yang sama.
"Maaf, Caca. Maafin Abang." Gue memeluk tubuh yang kini berguncang dengan tangisan.
"Jessica drop, gue butuh persetujuan lo buat berikan hati bokap lo ke Jessica."
Sesaat gue menyeka air mata, ingat akan pesan terakhir Papa tentang Jessica.
"Lakukan saja, jika memang itu dapat menyelamatkan nyawanya."
Jessica sudah masuk ke dalam ruang operasi dengan lampu merah menyala. Tidak ada yang ganti pakaian, baik gue ataupun Caca. Gaun pengantin bernoda merahnya masih setia melekat.
Kepala ini lemas bersandar ke pundak Caca yang saat ini menepuk-nepuk wajah gue dengan lembut, penuh kasih sayang. Beberapa ajudan Papa berjaga di luar, sebagian pula di dekat gue dan Caca. Mereka mencegah kejadian tadi terulang pada gue.
__ADS_1
"Ca ...."
"Hem?"
"Apa Abang termasuk anak yang jahat?"
Sepintas terlihat senyum di wajah cantiknya. "Tidak, Abang adalah anak yang baik. Abang hanya belum tahu situasi sebenarnya." Dengan lembut ia menjelaskan.
"Abang, Abang gak ...."
"Ssstttt ... gak usah diteruskan," bisiknya lembut. "Aku faham."
"Menurut kamu, apa Papa kecewa sama Abang?"
Sesaat terdengar Caca menarik nafas yang kemudian ia hembuskan dengan halus. "Kadang kecewa itu perlu, untuk meyakinkan kita bahwa sebenarnya rasa sayang itu masih ada. Abang dulu kecewa sama Om Hadi, tapi kemudian Abang sadar kalo Abang sayang dia kan? Aku yakin Om Hadi bangga, dia tak akan kecewa pada Abang."
Mendengar itu, bukan senang yang gue rasakan. Sebaliknya, rasa sakit itu kian dalam dan menusuk. Papa, seandainya tahu sejak awal. Alvin ingin nikmati waktu lebih lama lagi, lebih banyak lagi, Pa. Kenapa Papa pulang secepat ini? Alvin ... Alvin rindu, Pa. Meski baru tadi pagi kita saling memeluk.
Ingat betul bagaimana Papa memohon Alvin untuk memanggil layaknya seorang anak pada ayahnya. Dan Alvin lakukan itu sekarang, Pa. Alvin sayang sama Papa. Papa ... Papa ... Dan seterusnya Alvin akan panggil Papa.
9 jam berlalu, akhirnya lampu itu kembali hijau dan Karina keluar bersama beberapa orang dokter lainnya. Ia tersenyum, menandakan jika operasi Jessica berhasil. Sesaat Karina menyeka keringat di dahinya kemudian berjalan menghampiri gue.
"Beruntung, golongan darah mereka juga bentuk hatinya sama. Jadi untuk sementara operasi berhasil dilakukan. Semoga Jessica bisa segera sadar, beberapa menit lagi dia akan berpindah ruangan."
Satu titipan Papa masih dapat diselamatkan. Laki-laki itu, orang yang semula gue pikir kejam. Ah, mengingat kenangan kami ketika di Bali beberapa waktu lalu, mendadak gue tersenyum sendiri. Itu adalah satu-satunya kenangan manis yang sempat gue ukir tanpa sengaja.
Tubuh Papa di dorong pada brankar dengan ditutupi seluruh tubuhnya. Tak sanggup menghampiri, hanya dapat menatap ketika para tubuh tegap itu mendorong brankar Papa.
"Tuan, ini titipan beliau." Seorang di antara mereka memberikan satu bundel map dengan hard cover.
Dibukalah, beberapa surat penting yang sudah beralih atas nama gue serta beberapa foto mesra Papa dengan Ibu di waktu muda dulu.
**Alvin, Papa titip Jessica sama kamu. Semoga tidak ada keberatan sama sekali. Dan hanya ini yang dapat Papa lakukan, jika kelak maut itu menjemput. Semua harta Papa sudah beralih atas nama kamu. Jessica hanya punya kamu, setelah mamanya meninggal dengan jenis penyakit yang sama.
Nak, Papa hanya berharap kamu memaafkan Papa yang telah menelantarkan kamu. Dan, Papa tidak pernah menyangka jika ke lima anak buah Papa diambil alih oleh Herman.
Alvin, dia juga paman kamu, kakak dari mamamu. Semoga kamu dapat lebih bijak dalam menghadapinya. Silahkan, anak buah Papa sudah menjadi milikmu. Lakukan semua sesukamu, Papa yakin kamu bukan orang jahat.
Hadi Yanwar**
***
__ADS_1
Next