
FOLLOW N LIKE!!!
Aarrgghh ...!
Gue berpura-pura meringis seakan terjadi masalah dengan kaki ini dan mencengkeramnya. Bahkan sengaja menyelipkannya meski harus berisiko tergores dan berdarah. Ya, beruntung yang penyok hanya bagian kiri saja.
Sebuah mobil berwarna putih terhenti tepat di samping kanan gue, ia menyeringai dan turun. Tangannya berlagak menampar beberapa kali, mungkin memastikan apa gue masih hidup atau tidak.
Cukup memberi gerakan sedikit. Dahi ini memang berdarah karena terhantam pada pengatur laju kemudi.
Sedikit membuka mata, tapi kemudian memejamkannya kembali. Tuhan seakan berada di pihak gue, ia tidak menyadari adanya ponsel yang terpasang dengan erat pada kaca mobil. Sengaja gue kembalikan arah perekam sebelum ia turun dari mobil tadi.
"Alvin ... Alvin ... Saya tidak tahu kenapa Tuhan begitu sangat menyayangimu." Ia membuka pintu mobil itu dan hanya berarah pada gue.
"Jika Tuhan saja tidak bisa mencabut nyawamu, maka saya sendiri yang akan mencabut nyawamu!"
Tangannya nyaris saja meraih leher jika saja tak segera gue raih untuk mencekalnya. Ia melotot, tapi kemudian tawanya menggelegar melihat kaki gue yang berlumuran darah.
"Kamu sedang sekarat saat ini. Masih bisa melawan saya?"
Mata gue memicing sesaat memastikan tidak adanya orang lain yang mengikuti dia dari belakang.
"Kenapa? Kami takut saya bawa orang? Hem! Mereka semua tidak berguna! Bahkan menyingkirkan bocah sepertimu saja tidak becus!"
"Kenapa?" Pertanyaan itu akhirnya muncul dari mulut gue. "Kamu Om saya, kenapa harus seperti ini?"
"Lepaskan tangan saya!" Kedua tangan itu masih terkunci dalam cengkeraman sejak ia hendak mencekik gue tadi. Masih pada tempatnya.
"Tidak! Om jelaskan dulu kenapa?"
"Kenapa kamu bilang? Tanyakan saja pada Papa kamu!"
"Papa sudah meninggal, Om."
Di luar dugaan. Raut yang semula beringas itu seketika mendadak jadi sendu.
"Papamu meninggal? Kenapa?!"
"Dia dibunuh salah satu istri dari anak buahnya yang berkhianat."
"Kenapa harus orang lain yang membunuhnya?! Hah?! Katakan kenapa?!"
"Om, bukankah Ibu adalah adik Om sendiri?"
Seketika kedua matanya seperti menerawang. Bahkan tangannya terasa sedikit melemah. Wajah Herman sendu, bahkan gue masih dapat melihat bagaimana kedua bola mata itu berembun.
"Hapsari, dia gadis yang baik," ujarnya lirih, nyaris terisak. "Kakek kamu yang biadab. Dia menikahi beberapa wanita secara sembunyi-sembunyi, bahkan semua anaknya berbeda Ibu. Saya mencintai Hapsari, dan hubungan kami masih baik-baik saja. Sampai akhirnya kenyataan itu datang. Hapsari memutuskan hubungan secara sepihak setelah mengetahui kami saudara satu Ayah. Bahkan ia lebih memilih menikahi laki-laki yang berwatak sama dengan Ayah kami."
__ADS_1
Sesaat ucapannya terjeda dengan nafas yang begitu berat terdengar. "Awalnya saya pasrah, tapi ... Mengingat bagaimana bajingan itu memperlakukan ibumu, saya marah! Saya murka! Dia bahkan memiliki wanita lain di luar negeri ketika ibumu hamil tua!"
"Kejadiannya tidak seperti itu."
"Tidak seperti itu apa?! Gara-gara kamu! Anak dari bajingan itu Hapsari menderita! Anak pembawa sial! Bahkan ia rela menderita hanya karena mengurusi kamu! Anak sial! Seharusnya sejak awal kamu tak perlu lahir!"
Matanya memerah hingga berair menahan amarah. Kedua tangan itu kembali berusaha mencengkeram leher gue bahkan kini lebih kuat lagi.
"Tapi Papa mengirimkan Ayah Bima untuk menghidupi kami."
"Bima? Hahaha ... Bahkan laki-laki itu berhasil saya bunuh!"
"Om kejam!"
"Ya! Saya memang kejam. Dan berharap kematian Hapsari bisa terbalaskan dengan nyawamu sendiri!"
"Om sudah berusaha membunuh saya beberapa kali, bahkan semua percobaan tak ada yang berhasil. Kenapa masih tidak menyerah?"
"Hahaha ... Kenapa saya harus menyerah? Melihat kamu tengah sekarat, tentu ini adalah hal yang menguntungkan bagi saya."
Tangan itu semakin kuat menerobos hingga ia berhasil meraih leher hue yang kemudian dicekalnya dengan erat. Sial! Kondisi ini menyebabkan gue sulit untuk bernafas. Ponsel itu masih menyala, hingga ia menoleh dan teralihkan perhatiannya.
BUK!
Kaki gue berhasil menendangnya ke luar. Ia terhuyung hingga terjengkang menghantam jalanan.
Let's get play, Baybe!
Dia, orang yang telah menghancurkan hidup gue selama ini. Orang yang telah merenggut ketenangan, kebahagiaan, kebersamaan, bahkan cinta Ayah dan Ibu. Papa, dia juga yang telah menyebabkan renggangnya hubungan kita, kini dengan lantang menyalahkanmu atas semua kesalahannya.
BUK!
Satu tendangan untuk Ayah Bima, kembali lagi pukulan pada bagian dada untuk Caca yang nyaris saja ia rusak. Satu pukulan pada perutnya untuk gue bahkan tiga kali sampai ratusan kalo gue memukul tak akan mampu ia membayar semua kesalahannya. Papa, ini satu pukulan atas apa yang ia lakukan terhadap kita.
BUK!
Ia terhuyung setelah pukulan terakhir mendarat sempurna di bagian perutnya. Memar, mungkin hanya seberapa. Kita bisa akui jika gue sedang dalam membela diri dengan ancaman maut yang ia berikan. Anggap saja begitu.
Selesai sudah!
Ia tampak kesulitan untuk bangkit saat ini. Gue hendak berjalan pergi meninggalkan dia menuju mobil dan memesan taxi online. Namun, tak lama kemudian ....
"Matilah sekarang."
Suara bariton itu berhasil menghentikan langkah gue berdiri tanpa suara. Tawa itu kembali terdengar menggelegar. Gue tahu jika di tangannya sudah tergenggam senjata api dengan mulut mengarah ke gue.
Entahlah, biarkan saja ia melakukan hal sesukanya. Biarkan saja malam ini gue mati, biarkan saja karena bukti itu gue rasa sudah tersimpan dengan aman.
__ADS_1
Silahkan, jika memang maut itu sudah waktunya untuk menjemput. Silahkan!
Gue merentangkan kedua tangan sambil mendongak menikmati guyuran hujan yang turun secara bersahabat malam ini. Mungkin saja ini pertanda jika memang sudah waktunya gue untuk dijemput dalam guyuran nikmat riang menghampiri.
Herman tertawa lebar sambil tak henti ia berserapah. Langkah kakinya terasa semakin mendekat, bahkan benda itu kini sudah sampai tepat di belakang menyentuh kepala gue.
Ini saatnya, sudah tiba masanya gue menarik nafas dalam-dalam, menghirup udara sebanyak mungkin sebelum akhirnya terjejal di dalam tanah. Ya, ini terakhir kali gue melihat dunia, terakhir kali merasakan guyuran hujan secara langsung, terakhir kali ... Seketika ingat jika Caca tengah menunggu di rumah dalam keadaan khawatir.
"Maaf, Ca," gumam gue sebelum akhirnya. Mata ini terpejam dengan rapat dan ....
DARRR!
...
Siapa yang mati malam itu? Aslan kembali datang sebagai menyelamat dan menembak tepat pada pergelangan tangan Herman hingga mengalami luka dan menjatuhkan senjatanya secara spontan. Seketika Juna meringkusnya dan bersama para pengawal yang datang bersama Aslan pun menyeret tubuh Herman untuk kemudian dibawa ke kantor polisi.
Tangannya itu nampak masih terlilit perban, Ia duduk di kursi terdakwa lengkap dengan seragam orange melekat di tubuhnya.
Gue tersenyum geli sendiri, ketika ingat betapa ngeyelnya nyawa yang sampai saat ini masih tak mau lepas meski kematian itu telah beberapa kali berusaha merenggut kebahagiaan gue.
Beberapa bisnis dunia hitam yang Herman jalankan pun menjadi pemberat kasus yang ia alami saat ini, hingga membuat lawyer yang ia bayar secara mahal untuk melawan pengacara gue itu kalah telak. Dokumen itu seolah menjadi bukti, bahkan bisnis yang Herman jalankan telah memberikan kerugian besar terhadap negara.
Berdasarkan bukti pun, Herman dijerat kasus pembunuhan berencana. Hingga ia harus menjalani hukuman mati dalam kasus ini. Ya, hukuman mati. Semua bukti mengarah padanya, tidak terkecuali hasil visum tubuh Caca yang mengharuskan anak buahnya terjerat pula.
Bagaimana pun, gue masih memiliki hati nurani. Lebih memilih untuk memberi hukuman seumur hidup daripada membiarkan mereka mati dengan mudah. Gue yakin, hidup di dalam penjara itu tidak seindah yang dibayangkan, terlebih untuk kasus seperti ini. Berharap, dia Om gue akan berubah. Ya, berubah dan menganggap gue sebagai keluarganya juga.
Video rekaman itu, entah siapa pula yang menjadikannya viral di dunia maya. Dan benar saja, hanya kejadian di dalam mobil yang terekam. Hingga masyarakat yang hanya tahu Herman adalah Bapak dari sebuah yayasan panti asuhan itu seketika banyak yang berubah mencibirnya.
"Abang senang?" Caca menggenggam tangan gue ketika kami sudah sama-sama keluar dari pengadilan.
Gue tersenyum, "sebenarnya miris. Kenapa harus Om sendiri yang memiliki pikiran sejahat itu."
"Pulang sekarang?"
"Iya."
Sesaat gue bersimpuh untuk mencium dan menempelkan telinga pada perut Caca, berlagak sedang mendengarkan aktivitas anak gue di dalam sana. Entahlah, rahasia foto itu belum juga terkuak. Yang gue harapkan saat ini, bayi di dalam kandungan Caca lahir dengan selamat. Mungkin biarkan saja, jika memang kelak ada jawaban, gue hanya cukup tersenyum dan mengiyakan.
"Kamu mau anak cewek apa cowok?" Sambil kami berjalan menuju mobil.
Tuhan selalu tahu apa yang terbaik untuk gue, meski kebahagiaan ini harus diraih dengan cara pertumpahan darah. Terima kasih, Ayah Bima, Ibu, Wa Made, Doni dan ... Papa. Hatimu akan tetap selalu ada di dekatku. Bersama Jessica yang kini menjadi adik sekaligus sahabat terbaik buat Caca. Bahkan ia selalu protective mengatur makanan mana yang harus dan tidak boleh dikonsumsi kakak iparnya itu.
Hemmm ... sekarang gue hanya mampu tersenyum, di atas balkon ini, menatap jauh ke sana. Segala cobaan ini hanya permulaan. Akan ada lagi hal yang lebih berat, menunggu gue di sana.
The End
Alvin Yanwar ....
__ADS_1
***
Sebenarnya ini part terakhir, tapi nanti ada extra part biar jejeg 50 part.