Gadis Di Club Malam Itu

Gadis Di Club Malam Itu
Ca, Maafin Abang


__ADS_3

UDAH FOLLOW KAN? JANGAN LUPA LIKE!!!


Ini sebenarnya uang tabungan gue untuk membangun sebuah yayasan bagi anak jalanan yang kerap dijumpai ketika hendak pergi ke kantor dulu. Namun, mengingat Caca butuh kebebasan, mau tidak mau harus dikuras habis untuk menggunakannya.


Entahlah, posisi gadis itu seolah kini menjadi prioritas yang gue utamakan. Tak perduli jika pun harus nyawa sebagai pengganti keselamatannya.


Tiga ratus juta. Sebagian lagi adalah uang yang dulu Ibu berikan untuk biayai kuliah. Beruntung dengan lulusan SMA saja gue bisa masuk menjadi staf karyawan biasa di perusahaan Pak Surya. Katanya beliau kenalan Ayah, makanya ijazah tak jadi soal. Meski banyak karyawan lain yang menyangka jika gue melalui jalan pintas, tapi mungkin itu memang ada benarnya  Yang jelas, keberuntungan yang kebetulan tengah berpihak pada gue.


Cukuplah mungkin, untuk mencari keberadaan Juna dan membayarkan utang-utangnya itu. Sisanya, bisa nanti gue mencari pada jalan lain lagi.


Uang itu sengaja tak gue bawa menggunakan koper khusus demi menghindari kecurigaan. Di tempat biasa dia berada, tak ditemukan pun laki-laki itu. Hanya ruangan kosong tak berpenghuni.


Beberapa orang yang mungkin biasa bercengkerama dengan Juna gue coba tanyai satu persatu. Namun, tak ada satupun dari mereka yang tahu. Ke mana dia sebenarnya? Malah gue coba hubungi beberapa kali, tapi tak ada hasil yang diinginkan.


Sebuah bungkusan karung tiba-tiba dilemparkan ke samping jalan tempat itu melalui mobil box yang melintas ke hadapan gue. Semulanya tak begitu dihiraukan, hingga karung itu bergerak-gerak seperti ada kehidupan di dalamnya.


Penasaran juga. Ragu, tapi ada dorongan lain yang semakin kuat membuat tangan gue akhirnya bergerak. Sesaat membenarkan letak posisi tas kumal ini di punggung gue, lalu mulai menarik tali pembungkus karung itu.


Kedua mata ini terbelalak, seseorang yang sejak tadi gue cari kini meringkuk di hadapan dalam kondisi yang mengkhawatirkan.


Setengah dari bagian tubuh itu masih berada di dalam karung. Ia nampaknya sudah mulai tak sadarkan diri sejak gerakan terakhirnya tadi.


"Juna, Juna lo kenapa?" Gue berusaha untuk mengguncang tubuhnya.


"Alvin ... aarrgg ...." Ia memekik kesakitan sambil memeluk tubuhnya. "Gue dipukulin gara-gara gak bisa lunasin utang sama gak bisa nemuin Caca." Juna terengah.


"Gue udah ba ...."


"Ssttt ... tinggalin gue sekarang," ujarnya lirih.


"Tapi ...."


"Please, tinggalin. Kalo pun lo mampu, tolong pergi yang jauh."


"Pergi jauh?" Gue melepaskan tangan yang semula merengkuh tubuhnya.


"Bawa semua yang lo punya, jangan sampai tersisa," bisiknya, "SEKARANG!"

__ADS_1


Juna mendorong tubuh gue hingga terpental jauh menghantam trotoar jalan.


"Pergi sekarang!"


DUAR!


Teriakan Juna seiring dengan dentuman suara tembakan melesatkan peluru yang nyaris saja menggores lengan. Gue terengah, kaget juga. Untung peluru itu hanya menancap di tembok belakang gue.


Seseorang berkacamata hitam sudah berdiri di depan gue sambil menodongkan pistolnya tepat di kepala. Gue mengangkat tangan, tak ingin juga mati konyol hanya karena salah dalam bertindak.


Ini dalam keadaan terdesak, otak gue pun dituntut untuk berpikir kritis demi bisa menyelamatkan Juna serta kedua adiknya. Bagaimana ini? Sedangkan gue sendiri tak tahu di mana adik bungsu mereka. Persetan dengan nyawa gue!


"Serahkan tas itu sekarang!" ujar orang itu dingin. Sebelah tangan tanpa senjata itu terulur dengan tenang.


Berpikir, Alvin BERPIKIR!


SIAL! Kenapa dahi gue harus berkeringat seperti ini? Tapi gue harus tenang, setenang mungkin. Caca, tunggu Abang pulang bawa kakakmu.


"Vin, jangan berikan! Dia tetap bakal bunuh lo dan Caca!"


Orang itu berbalik ke arah Juna, seolah dia seperti menemukan titik terang dalam pencariannya.


Gue pukulkan tas kumal berisi uang tiga ratus juta itu. Orang itu sedikit tersungkur, tapi tak dapat membuat senjata dalam genggamannya terlepas. Sial! Bela diri gue juga cuma otodidak, mana bisa melawan orang bersenjata?


"Vin, pergi!" teriak Juna menggema.


Orang yang lalu lalang di sana pun tak ada yang berani untuk menolong kami meski sekedar menghubungi polisi. Ini benar-benar harus mengandalkan kemampuan gue sendiri. Mencoba untuk tenang sambil mencari siapa tahu ada polisi yang kebetulan sedang patroli. Tak ada pula.


Orang itu menendang Juna hingga ia terkapar dan berada dalam injakan kaki orang berpakaian hitam itu.


"Vin, jangan peduliin gue! Cepat pergi selamatkan Caca!"


Orang itu merogoh sakunya. Mungkin akan melakukan panggilan pada teman-temannya yang lain. Gue segera tendang lengan menggenggam ponsel itu hingga tanpa sengaja ia menarik pelatuk pistol itu dan berhasil menembus tubuh Juna tepat di dada kirinya. Beberapa orang di sekitar berteriak histeris karena ketakutan.


"Juna!" Gue melotot melihat darah mengalir dari dadanya.


"Pergi, Vin ... pergi sekarang ...."

__ADS_1


"Tapi lo harus ikut sama gue."


"Gak bisa ... cepat lo pergi ...."


Juna segera meraih ponsel yang terjatuh di sampingnya dengan susah payah karena tangan itu kembali diinjak. Sedangkan satu tangannya sudah kembali menodongkan pistol ke arah gue.


"Juna, kita akan pergi bersama."


"Gak bisa ...." Sebelah tangan Juna menahan darah di tubuhnya. "Selamatkan orang yang masih sama lo sekarang ...."


Tidak bisa! Apa kata Caca jika dia tahu gue tak bisa menyelamatkan kakaknya? Please, Juna. Kita harus pergi bersama.


Namun, cara tadi rasanya patut dicoba karena Juna berusaha untuk menjatuhkan orang yang kini masih menginjak tubuhnya itu.


Gue sodorkan tas dalam genggaman, tapi tetap waspada dan mencari kesempatan untuk kembali menyerangnya. Gue ayunkan tas itu lebih keras lagi dan ....


Orang itu terhuyung hingga jatuh. Juna segera mencengkeram kaki orang itu supaya tidak kembali mendapatkan senjatanya. Nyaris saja gue berlari untuk mengambil senjata itu dan menembakannya pada laki-laki itu. Namun, Juna segera menahan gue.


"Vin! Jangan sentuh benda itu! Gue gak mau lo jadi sasaran tuduhan karena sidik jari lo ada di sana. Cepat pergi! Dan selamatkan Caca!"


"Tapi ...."


"Alvin! Gue percayakan Caca sama lo! Cepat pergi!"


Bagaikan buah simalakama. Jika gue biarkan Juna tetap di sini, tak menutup kemungkinan ia akan tewas di tangan orang itu. Namun, jika gue tetap di sini juga Caca berada dalam bahaya.


Caca, maafkan Abang yang tak bisa selamatkan kakakmu.


Gue pergi. Melesat membawa mobil ini sambil sesekali menutup mata dan menyeka air mata mendengar beberapa letusan peluru yang gue harap bukan nyawa Juna yang terlepas hari ini. Sorry, Juna, sorry, Caca. Gue emang gak berguna.


"Abang!"


Caca berlari kecil menghampiri gue yang terpaku di depan pintu rumah terbuka. Ini kali pertamanya gue memperlihatkan air mata setelah kepergian Ibu beberapa tahun yang lalu.


"Abang ...." Caca menoleh, ia menyeka air mata gue dan memeluk menenangkan.


"Caca, maafin Abang."

__ADS_1


***


Next???


__ADS_2