
...FOLLOW SEBELUM BACA!!!...
Juna berdiri di depan pintu kaca itu sambil meraba bayangan Caca yang masih tergolek lemas di atas pembaringan. Entahlah, air matanya itu tulus atau sekedar pencitraan semata. Yang jelas gue tak mau dengan mudahnya tertipu begitu saja dengan orang baru ini.
"Gue mau masuk, Bang," ujarnya hendak membuka pintu.
Sigap tangan gue mencegah. Sungguh sedikit pun gue tak rela jika kakak biadab ini harus bersentuhan dengan gadis yang gue sayang.
Juna hanya menoleh, ia menekan ujung matanya yang sedikit basah. Meski dia menangis meraung,rasanya gue tak akan mengijinkannya masuk walau nangis darah sekalipun.
"Udah waktunya lo pergi kan? Pergi sana," ujar gue.
Tak banyak bicara memang. Juna hanya menunduk sambil sesekali menyeka ingusnya menggunakan lengan jaket parasut yang masih melekat di tubuhnya itu.
Hem, tak sudi melihatnya berlama-lama. Gue segera masuk ke ruangan di mana Caca masih tergolek dengan beberapa alat bantu kesehatan yang menancap di tubuhnya. Gue sendiri tidak tahu apa itu namanya. Serta satu alat berbentuk setengah tabung pun tak lupa bertengger di hidungnya.
Senyumnya yang tulus kini terhalang oleh gelapnya kesakitan atas diri Anastasya. Gue meraih kursi untuk lebih dekat dengan pembaringan Caca. Lengan itu masih dibantu cairan infus, ia tak kunjung sadar. Alat pengukur detak jantung pun masih berbunyi dengan normal.
Karina masuk bersama seorang perawat membawa beberapa obat yang mungkin akan disuntikan entah bagaimana. Dia tersenyum, menepuk pundak gue.
"Tadi dia emang kritis, tapi bentar lagi udah mau sadar kok."
"Kritis?" Gue menoleh.
"Ya, tadi pas lo pergi, dia sempet kritis dan ... udah ditangani kok."
Gue pergi, memang untuk memberi perhitungan terhadap kakaknya. Tidak disangka apa yang gue lakukan terhadap Juna pun berdampak pada Caca.
Karina menyuntikan sesuatu pada botol berisi cairan infus yang mengalir melalui selang itu menancap ke lengan Caca. Bak keajaiban, gadis itu membuka mata.
Ia. Seperti menggumamkan sesuatu yang tidak begitu jelas terhalang alat bantu oksigen menutup mulutnya.
Segera gue raih tangan halus itu untuk kemudian digenggam, mencoba menguatkan. Caca menoleh, ia memang masih sangat lemas.
"Kalo dia mau minum, jangan kasih banyak-banyak. Cukup sesendok aja," ujar Karina mengingatkan.
__ADS_1
Ya, gue memang pernah dengan jika orang habis operasi dikasih minum banyak itu justru akan membahayakan nyawa si pasien. Semengerikan itu keadaannya. Gue hanya bisa menyeka beberapa bulir keringat dari dahinya. Entah kenapa, meski AC menyala di ruangan ini, tapi Caca tetap berkeringat.
"Kamu mau minum?"
Gadis itu mengangguk.
"Sedikit aja ya, biar Abang suapin." Sesaat gue menoleh ke arah Karina. "Ini udah boleh dilepas belom?" Sambil menunjuk alat di hidung Caca.
Karina mengangguk. "Gue tinggal dulu ya."
Karina berlalu dengan tetap diikuti seorang perawat di belakangnya. Caca tersenyum, meski bibirnya masih pucat dan tubuhnya lesu.
"Abang jangan terlalu lelah." Jemari itu lembut menggenggam. "Aku gak mau kalo Abang sakit."
Gue tersenyum. "Abang baik-baik aja. Justru kamu yang jangan terlalu lelah."
"Aku udah jadi beban buat Abang ya?"
"Siapa yang bilang kayak gitu?"
"Udah, gak usah banyak pikiran dulu. Yang penting kamu cepet sembuh."
"Abang ...."
"Hem?"
"Aku kangen sama Kak Juna ...."
Gue menghela napas, mengeratkan kedua tangan serta dengan rahang mengeras. Apa Caca sedekat itu dengan kakak biadabnya itu? Gue sungguh tak terima dengan cara ia memperlakukan adiknya ini.
"Bukannya dia yang udah bikin kamu kayak gini?"
"Dia itu sebenarnya Kakak yang baik, Bang. Kak Juna juga gak ada niat buat lakuin ini sama aku."
"Sebenarnya ... Abang udah ketemu sama kakak kamu."
__ADS_1
"Beneran?" Kedua bola matanya seketika berbinar dan sukses membuat gue tak sanggup menyembunyikan sesuatu darinya. "Gimana kabar dia?"
"Baik. Tadi juga habis dari sini nengokin kamu. Cuman, katanya harus buru-buru pergi karena ada urusan."
Wajah Caca kembali meredup. Terpaksa pula menyelipkan kebohongan di dalamnya karena gue tak mungkin mengatakan hal yang sesungguhnya. Caca, maafin Abang ya.
"Abang, kalo Abang keberatan, aku bisa balik lagi ke Kak Juna kok. Aku gak mau hubungan Abang sama cewek Abang terganggu." Caca memainkan jemarinya.
Agak kasihan jika dia harus terus terbaring seperti itu. Gue menaikan sedikit sandaran tempat tidurnya.
"Siapa yang cewek Abang?"
"Kak Alexa."
Gue tersenyum geli melihat bibirnya merengut. "Kalo ternyata cewek Abang adalah kamu, gimana?" goda gue.
Wajah Caca memerah dan tersipu semakin membuat gue gemas melihatnya. Gue cubit kedua pipi itu, lalu kemudian mengusap kepalanya.
"Adek kecil jangan banyak pikiran ya, cukup istirahat biar cepet sembuh."
"Siapa yang kecil?"
"Kamu."
"Kata siapa aku kecil, aku udah gede."
"Udah gede ya? Tapi kok itunya masih kecil?"
Gue tergelak melihat wajahnya semakin merah. Meski masih sangat lemas, tapi antusias Caca untuk bercanda sangat tinggi. Sehingga tanpa sadar gue lupa jika ia jangan dulu banyak bicara.
"Bang ..." rengeknya. "Perut aku sakit banget."
Gadis itu meringis sambil menggenggam erat area bekas di operasi tadi. Tiba-tiba gue merasa terkejut karena ada darah yang mengalir dari sana.
***
__ADS_1
Next???