Gadis Di Club Malam Itu

Gadis Di Club Malam Itu
Ca, Abang Lelah ....


__ADS_3

UDAH FOLLOW KAN? JANGAN LUPA LIKE!!!


Tidak mungkin!


Lelucon macam apa ini?


Dia, bokap gue?


Tidak! Rasanya ini seperti terhantam bebatuan hingga menghimpit dada begitu sesak terasa. Oh, lelucon macam apa ini? Sungguh tidak lucu!


"Alvin, keputusanmu menikahi gadis itu, kamu akan menyesal!" Serunya ketika gue bangkit untuk berlalu meninggalkannya.


Cukup! Ini tidak dapat dibiarkan lagi. Gue meraih kerahnya dan mencengkeram dengan erat.


"Cukup!" seru gue. "Jangan teruskan lagi lelucon konyolmu itu!"


Argh!


Semua mata menatap ketika tangan ini tanpa rasa ragu menonjok meja hingga mengalami sedikit kerusakan. Mata Hadi menatap intens, tak ada perlawanan atau apa pun sejenisnya.


Muak! Gue lebih memilih berlalu demi menghindari hal yang lebih memalukan.


"Alvin, ayahnya yang memisahkan kami, juga menyebabkan kematian ayah tirimu!"


Masa bodoh! Gue tak perduli lagi meski ia harus mencongkel matanya sendiri demi sebuah pembuktian. Lelah, bukan karena bekerja. Namun, kekonyolan takdir inilah yang membuat hati gue teramat lelah.


Scurity apartemen mencecar pertanyaan ketika melihat tangan gue berlumuran darah hingga bercucuran. Mungkin khawatir, tapi gue tak begitu menanggapi hingga menekan tombol lift menuju lantai tempat unit gue berada.


Heran, justru dari sana keluar Aslan yang entah dari mana ia dan hendak ke mana.


"Saya mencarimu," ujarnya. Sesaat tangannya melirik ke arah tangan yang masih berlumuran darah.


"Untuk?" Seakan tak perduli jika ia atasan gue.


"Saya lihat kamu sangat kelelahan. Pergilah, tentang pekerjaan bisa kita lanjutkan besok saja."


Kehadiran Aslan memang masih menyimpan misteri. Dia seolah datang untuk mengawasi. Apa sebenarnya ini? Kenapa begitu merumitkan?


Anastasya. Gadis itu selalu tahu jika gue sudah pulang. Senyum yang mengembang ketika pintu terbuka itu seketika lenyap pada saat melihat darah masih bercucuran di tangan gue.


"Abang."


Ia menahan tubuh yang kini bersandar padanya. Gue lelah, gue butuh penenang yang mampu menghilangkan segala penat melanda.


Ca, Abang lelah ....


Gadis itu menghela nafas panjang. Gue tahu persis apa yang ada pada hatinya. Ia pasti gusar, panik, khawatir. Namun, akhir-akhir ini kedewasaannya memang perlahan mulai muncul.


"Aku ambilin kotak obat ya, Bang?"


"Gak perlu, cukup seperti ini." Lirih, bahkan nyaris tidak terdengar.


"Tangan Abang luka."


"Meski tangan terobati, hati tetap luka, Ca."


Gue menatap wajah sendu itu. Bergantian kedua bola matanya gue tatap lekat. Jika pun memang Ayah gadis ini bersalah, bukan berarti ia turut salah kan?


Entahlah, pengaruh apa yang masuk ke dalam diri gue. Semuanya seakan datang secara tiba-tiba. Pertemuan gue dengan Pak Hadi, dengan Aslan, kenapa harus terjadi?


Rasanya gue sendiri ingin membuang nama Yanwar itu dari hidup gue.


"Abang ...." bisiknya. "Kalau Abang ragu dengan pernikahan kita, aku faham."

__ADS_1


Tidak, tidak ada maksud seperti itu sama sekali. "Abang cuma butuh kamu untuk tidak pergi, Ca."


"Aku gak akan pergi, Abang ... tapi obatin dulu lukanya ya." Ia tetap lembut membujuk.


Dengan telaten tangannya membalut luka ini menggunakan kasa yang tersedia. Caca memang lembut, bahkan dari jarak sedekat ini ia terlihat makin cantik di mata gue.


Terbersit keinginan melihat akta kelahiran gue yang telah lama tak pernah disentuh sedikit pun. Gadis itu tersenyum, ia membiarkan tubuh gue berbaring dan menaikan selimut. Layaknya seorang Ibu yang mengecup kening si anak yang tak berani tidur sendiri.


Sepi, Juna pun nampaknya belum juga pulang setelah katanya tadi pamit untuk makan di luar bersama Laksmi.


Kertas yang selama ini tak pernah gue hiraukan itu pada akhirnya digenggam juga. Nama itu tertulis dengan sempurna. Mata gue terbelalak ketika nama Hadi Yanwar memang benar-benar ada di sana.


Kenapa peristiwa ini begitu bertubi-tubi? Argh!


Seketika kepala ini terasa pusing memutar setiap memori yang pernah terjadi dalam hidup gue. Mulai dari panggilan Ayah, bagaimana laki-laki itu memperlakukan gue layaknya anak sendiri, hingga terjadinya kecelakaan di depan mata yang berimbas pada meninggalkan Ayah tiri yang tak pernah menganggap gue dan Ibu sebagai orang lain.


Ingatan gue kembali tersadar ketika Caca datang menghampiri dengan membawa makan malam di atas nampan.


"Kamu jangan terlalu lelah, Ca."


Gadis itu tersenyum. "Aku gak lelah, justru Abang yang harus jaga kesehatan."


Ia tersenyum dan meniupi kuah yang sudah berada dalam sendok itu. "Aku buat sup rumput laut, mudah-mudahan Abang suka."


Gue membelai wajahnya. "Harusnya kan kamu yang banyak makan ini. Biar Dede Bayi juga sehat." Seraya membelai lembut perut Caca. "Kamu ada mual, sayang?"


Ia menggeleng. "Aku baik aja, Abang. Nafsu makan juga baik. Cuman ... akhir-akhir ini sering pusing aja. Kalo masalah bau-bauan kayaknya gak ada."


"Jaga anak kita ya."


Akhir-akhir ini gue memang teramat sayang pada gadis ini. Ia dengan sabar, meniupi sop itu sebelum masuk ke mulut gue.


Caca, seandainya itu memang benar, Ayah kamu yang menghancurkan keluarga kami, entah bagaimana cara Abang menerimanya nanti.


...


Matanya jeli melirik arah jarum jam, bahkan ia menyapa hanya dengan dongakan kepala.


"Pagi, Pak."


"Bagus, kamu lebih faham sebelum akhirnya saya jelaskan." Matanya sinis melirik ke arah tangan yang terbungkus. "Apa kemarin terjadi masalah?"


Tak ada jawaban. Karena gue tahu sendiri jika ia memang memiliki banyak mata dan telinga di luar sana.


"Silahkan ikut ke ruangan saya."


Gue hanya mengekor di belakangnya mengikuti langkah lebar milik Aslan Pratama. Laki-laki itu, bahkan wibawanya tidak luntur sedikit pun dalam keadaan kantor yang baru saja hanya ada kami berdua.


"Silahkan duduk," ujarnya.


"Terkait kemarin, saya sudah tahu tentang pertemuanmu dengan pemimpin Yanwar Samudra Group. Apa yang kalian bicarakan?"


Gue mengeratkan tangan yang memang sudah terkepal di atas meja.


"Kami tidak membicarakan hal mengenai pekerjaan."


"Baiklah, saya akan berikan kamu kendaraan pribadi untuk digunakan."


"Baru satu hari?" Gue terperanjat.


"Iya. Kenapa tidak? Kamu memang berhak. Begitu juga yang saya berikan pada karyawan sebelumnya."


Enteng sekali dia berkata. Memberikan mobil untuk karyawan yang baru satu hari menjabat, apa itu tidak berlebihan?

__ADS_1


"Ini kunci mobilnya, sudah bisa digunakan mulai hari ini." Ia menyodorkan benda itu ke hadapan.


"Mohon maaf, bukan maksud saya menolak kebaikan Bapak, tapi mobil saya juga masih bisa digunakan. Terima kasih." Gue berusaha menolak sehalus mungkin.


Aslan tersenyum. "Saya baru kali ini menemukan orang seperti anda. Biasanya, kalau karyawan lain saya kasih mobil, mereka selalu senang."


Gue hanya menjawab dengan senyuman.


"Baiklah. Silahkan kembali ke ruanganmu. Dan jika ada apa-apa, jangan sungkan."


Akrab sekali caranya di luar jam kerja. Padahal jika waktu kantor sudah mulai, rahang Aslan akan senantiasa mengeras dan matanya mengawasi bagaikan elang.


...


Agak malam setelah pertemuan dengan beberapa klien hari ini. Lelah, penat semua terasa. Sedikit ngantuk, hingga nyaris saja mobil menabrak pengemudi motor di depan sana.


Sial!


Beruntung tidak terjadi apa-apa. Jalanan memang agak sepi karena sudah memasuki kawasan menuju apartemen. Kembali, seperti tengah ada yang mengawasi sejak tadi mengikuti.


Apa lagi ini?


Kenapa begitu sulit untuk tenang meski sejenak?


ARGH!


Rasa kantuk itu seolah lenyap begitu saja. Timbul kembali jiwa muda bergelora menginjak pedal gas lebih dalam lagi.


Cumon Babe, melajulah lebih cepat lagi. Bahkan tak segan menghidupkan musik dengan genre underground supaya lebih menantang lagi.


Hal ini mengingatkan gue ketika masa SMA dulu, begitu suka ugal-ugalan tanpa perduli dengan keselamatan. Ya, bahkan ini seolah menjadi tantangan tersendiri.


Sial! Nampaknya usia gue memang hanya sampai di sini saja. Ini pula mobil milik Juna yang gue pinjam karena mobil yang lalu mengalami kecelakaan tempo hari. Namun, rasanya agak segan pula jika harus langsung menerima tawaran Aslan pagi tadi.


Sreeettt ...!


Lagi-lagi kendaraan yang sama menghadang membuat mobil ini melipir hingga ke sisi jalanan.


Celaka!


Gue benar-benar dalam keadaan payah saat ini. Tidak ada orang, bahkan terlihat sangat sepi seperti di kuburan.


"Keluar lo!" bentak beberapa orang yang sama dengan tempo hari. Senjatanya terlihat lebih menyeramkan lagi.


Orang-orang ini, bukankah yang waktu itu membuat gue kecelakaan pula? Apa urusan mereka sebenarnya?


"Keluar!"


BRAK!


Satu pukulan palu sukses membuat kaca depan mobil itu pecah hingga pecahannya menggores pipi.


Tak ingin memicu hal lebih buruk lagi. Tidak ada pilihan lain selain ke luar dan melawan. Masa bodoh, yang penting Juna tidak marah karena mobilnya rusak parah.


"Bagus. Sikat!"


Seruan itu sontak membuat gerombolannya datang menghampiri dengan berbagai senjata di genggaman mereka.


Sekali lagi, Celaka! Ca ... maafkan Abang karena tidak bisa meneruskan rencana besar kita. I LOVE YOU ANASTASYA.


DUAR!


Suara tembakan menggelegar ke udara.

__ADS_1


***


Next


__ADS_2