Gadis Di Club Malam Itu

Gadis Di Club Malam Itu
First Kiss


__ADS_3

UDAH FOLLOW KAN? JANGAN LUPA LIKE!!!


"CACA!"


Gue langsung meluncur ke dalam kolam. Tak perduli dengan jas yang masih menempel ini tetap berusaha meraih tubuh yang mulai lelah itu meski terasa sulit.


Oh, ****!


Gue lepas jas yang terasa mengganggu ini dan melemparkannya tepat ke hadapan Alexa tengah berdiri di bibir kolam sambil menggenggam segelas minuman. Sudah diduga sejak awal.


Tubuh lemah itu sudah teraih dalam pelukan. Tubuhnya lemah, bahkan ia sudah dalam keadaan tak sadarkan diri ketika gue membawanya berbaring ke pinggir kolam.


Panik! Gue segera lalukan resusitasi dengan cara memompa area jantungnya menggunakan kedua tangan gue. Satu, dua bahkan tiga kali ia tak urung sadarkan diri.


"Ca, Caca, bangun, Ca."


Tubuh Caca masih tergolek lemas tak berdaya. Bahkan detak nadi di lehernya itu tak lagi stabil. Gue menyisir setiap orang di sana, berharap jika ada satu saja di antara wanita yang bersedia untuk melalukan nafas buatan terhadap Caca. Namun, mereka semua mundur tanda tak bersedia.


Mata gue kembali menyisir barangkali ada alat bantu yang bisa digunakan untuk perantara antara mulut gue dan Caca. Tetap tidak ada. Tanpa pikir panjang, takut kondisi semakin buruk, akhirnya gue harus melakukannya sendiri.


Hidung gadis itu sudah ditutup supaya aliran nafas yang gue berikan tidak keluar secara sia-sia. Tak perduli lagi dengan mereka yang memandang ke arah kami, gue terus melakukannya. Meski pada akhirnya Caca akan marah dengan cara gue yang seperti ini.


Caca, maafkan Abang.


"Vin!"


Karina berseru seiring dengan keluarnya aliran air dari mulut Caca yang terbatuk dan membuka matanya.


Karina segera memeriksa detak nadi di pergelangan tangan Caca. "Bawa ke kamar aja, Vin. Nanti gue bawa alat kesehatan ke sana ya."


"Gak usah, kami pulang aja. Sorry udah buat acara lo berantakan," ujar gue membantu Caca untuk bangun.

__ADS_1


"Tapi dia pasien gue."


"Gak papa, dia cuma butuh istirahat."


Caca hanya menatap lekat tanpa bicara sepatah kata pun. Ia terdiam, rengkuh dalam perlindungan tubuh gue yang memeluknya.


"Vin, sorry ya."


Tak ada jawaban. Gue tak ingin berlama-lama di tempat yang sudah tak bersahabat lagi itu. Caca menggigil, gue memeluknya semakin erat ketika kami berjalan melewati Alexa yang menatap kecewa ke arah kami.


"Vin ...." lirih Alexa yang masih dapat gue dengar secara samar.


Thank's Alexa. Karena lo udah buktiin jika pilihan gue ini memang benar adanya. Namun, mengingat kaki itu mengail langkah Caca hingga ia nyaris celaka, tentu gue tak akan melupakan itu.


"Abang ...." Caca mendongak.


Gue tersenyum, mengecup pucuk kepalanya dengan lembut.


...


[Vin, sorry untuk kejadian tadi.]


[Caca gk ppa kan??]


[Vin, lo marah smaah gue???]


[Vin???]


Beberapa pesan itu cukup gue lihat tanpa menjawabnya sama sekali. Caca sudah tertidur pulas dalam balutan selimut hangat melindungi tubuhnya yang masih sedikit dingin itu. Bagaimanapun ia baru saja selesai operasi besar, akan berbahaya jika terlalu lama dalam air dan nyaris tenggelam.


Wajah Caca dengan sedikit surai yang menyentuh area dahinya itu tampak manis dilihat. Sampai-sampai gue menopang bahu, ingin lebih lama lagi untuk memandang keindahan itu.

__ADS_1


Gadis remaja, sampai separah ini memberi sensasi berbeda ketika tinggal bersamanya. Kehidupan yang semula terasa hambar, kini seakan berwarna, bahkan lebih berharga lagi ketimbang gue bersama Karina dulu.


"I love you, Caca ...." gumam gue, menyibak lembaran surai itu di wajahnya.


"Emh ...." Gadis itu menggelisik, nyaman sepertinya.


...


"Aaaaaaaaaaa ...!"


Gue terkejut ketika pagi hari sudah mendengar teriakan histeris tepat di samping telinga. ****! Siapa pula yang berteriak sepagi ini?


"Abang, kenapa ada di sini?"


Caca mengkeret mundur sambil bersembunyi di balik selimut tebal menutupi tubuh yang sebenarnya tak gue apa-apain.


"Abang, Abang apain aku sampai ada darah di selimut?" tanyanya panik, lucu banget.


Seketika ide konyol muncul di kepala. Kenapa gak sekalian aja gue kerjain? Padahal kan dia sendiri emang lagi dateng bulan. Bukankah semalam juga darahnya ada gembus pas abis kecebur? Untuk gue bawa jas buat nutupin hal memalukan baginya. Hihi.


"Aaaaaaaa ...!" gue turut berteriak. "Kamu sendiri yang apain Abang?" Sambil berlagak menutupi tubuh dengan menyilangkan tangan. "Abang masih perjaka tau."


"Abang! Harusnya aku yang panik. Abang kan cowok, Kehilangan perjaka juga gak bakalan hamil!" Caca terisak menutup wajahnya.


"Abang emang gak hamil, tapi Abang harus tanggung jawab." Gue pun pura-pura nangis.


"Abang! Jahat banget sih ...." Tangisnya semakin histeris.


"Yaudah, besok kita beli test pack ya, siapa tahu kamu emang hamil." Gue nyengir kuda. Membiarkan dia yang terus kian gak karuan. Masa bodo ah.. Haha ....


***

__ADS_1


next???


__ADS_2