Gadis Di Club Malam Itu

Gadis Di Club Malam Itu
Pencarian Anastasya


__ADS_3

...FOLLOW SEBELUM BACA!!!...


**Teruntuk Abang yang baik.


Aku hanya ingin minta maaf atas segala kekacauan yang menimpa Abang saat ini. Aku sadar, kehadiranku hanyalah menjadi benalu dalam hidup Abang.


Kakak itu, gadis cantik yang aku rasa dia sangat mencintai Abang dengan sepenuh hati. Aku yakin dia merasa terganggu dengan kehadiranku di antara kalian.


Abang, aku hanya yatim piatu. Tak pantas jika Abang terlalu baik sama aku. Maafin aku, Bang. Aku gak mau Abang melakukan hal beresiko dalam hidup Abang, hanya untuk mengasihaniku.


Terima kasih, Abang.


Anastasya ...*


"Bodoh! Siapa juga yang merasa lo telah menjadi benalu? Lo pikir gue ini apa?! Kita sama-sama yatim piatu! Kenapa lo gak paham sampai ke sana!"


Gue meremas kertas itu dan melemparnya ke sembarang arah. Tidak bisa dibiarkan. Kondisinya saat ini sedang lemah.


Caca seharusnya menjalani operasi besok pagi. Jika tidak, entahlah, gue tak bisa bayangkan hal buruk apa yang akan menimpanya saat ini.


Gadis lemah, sendirian, di luar sana. Anastasya ....


Gue mendesah memanggil nama itu. Tentu ******* ini bukan karena hal bodoh dan kotor, melainkan kondisi mengkhawatirkan ini begitu menyiksa perasaan hingga terhimpit menekan sesaknya dada.


Tanpa pikir panjang, tak perduli lagi dengan ponsel yang terus berbunyi menandakan panggilan dari Alexa. Malah gue lebih memilih untuk menolak setiap panggilan yang ia usahakan untuk segera dijawab.


Repot kalau harus melulu mengurusi setiap keinginannya. Dia terlalu manja dan menyebalkan jika dipikir-pikir.


Gue sudah bertengger di balik kemudi menyalakan mesin dan menginjak pedal gas memecah jalanan. Tak perduli dengan beberapa lengkingan klakson yang memaki karena beberapa pengendara itu berhasil gue tikung.


Mata ini, tak lepas dari pengawasan sambil sesekali menghisap rokok yang sejak awal sudah menemani. Memang, jika tidak minuman yang mengobati keresahan, maka batang sialan ini pula yang menemani.


Resah, tak juga ketemu. Segera gue buang batang rokok yang baru beberapa kali dihisap itu ke sembarang jalan. Tak perduli jika pun terkena siapa saja itu, bodo amat.


Anastasya ... di mana gadis itu? Sudah sepersekian meter jalan telah gue lalui dengan tak melewatkan setitik pun kemungkinan keberadaannya di sana. Namun, tetap tak ada hasil. Jika gue lapor polisi, keadaannya belum 24 jam dari sejak ia pergi.

__ADS_1


Caca ....


Dia seperti berjalan di samping trotoar sambil sedikit berjingkrak-jingkrak memainkan kakinya. Seketika kaki ini menginjak rem dengan dalam hingga terbanting kepala gue pada stir menimbulkan suara klakson yang panjang.


Gadis itu berdecit, ia menoleh dengan tatapan garang ke arah gue. Bukan, dia bukan Caca.


"Bawa mobilnya hati-hati dong, Mas!" teriaknya.


Gue rengkuh, meminta maaf sambil mengatupkan kedua datang.


Sesuatu terasa hangat di jidat gue. Rupanya cairan merah itu sudah meluncur tanpa permisi dari luka bekas terbantingnya kepala ke atas kemudi.


Oh, ****!


"CACA!" teriak gue kesal.


Hari berganti malam. Tetap bayang itu tak ditemukan meski barang sedetik pun, atau sekedar petunjuk di mana dirinya berada.


Anastasya, lo tahu? Hati gue serasa sakit saat ini, sakit sekali!


Beberapa kamar tempat bergumul para pencari hidangan kenikmatan malam itu dibuka satu persatu, tapi tak satupun memberikan jawaban selain hanya teriakan para gadis malam bersama umpatan laki-laki hidung belang itu.


Anastasya, sebenarnya lo di mana?


Bartender itu sudah sangat familiar dengan minuman beralkohol kegemaran gue. Hanya saja yang membuat ia mengernyitkan dahi adalah, ini bukan malam biasanya gue menghabiskan waktu di sini.


"Tumben, Bang." Botol berisi bersama sloki menemani malam gue.


"Saya lagi cari orang, tapi kayaknya gak ada di sini."


"Pacarnya ya, Bang?" Sesaat bartender itu melirik kanan kiri dan mencondongkan wajahnya ke telinga gue. "Cewek yang semalam kan?" bisiknya.


Gue seperti mendapat jalan terang. Menarik kerah orang itu dan mencecarnya dengan beberapa pertanyaan yang sontak membuat ia merasa gugup ketakutan.


Beberapa orang mulai siaga dengan kericuhan yang bisa saja gue ciptakan malam ini. Malah, ada beberapa penjaga bar menghampiri, seolah gue tak perduli jika harus mati malam ini juga. Beruntung bartender itu mencegah mereka.

__ADS_1


"Di mana dia? Lo tahu siapa cewek itu? Siapa yang bawa dia ke mari dan ke mana dia sekarang?!"


"Sabar, Bang. Sabar."


Orang itu menggigil, mungkin agak takut juga kerah bajunya terlepas. Soalnya gue juga lihat jika itu merk terkenal dan masih terdapat kertas label bergantung di lehernya. Tipe pamer nih orang.


"Katakan!" tegas gue.


"Beberapa hari yang lalu, seorang laki-laki membawanya ke sini. Saya di sini kan cuman karyawan biasa, hanya bisa melihat tanpa mencari tahu lebih dalam. Katanya, dengar dari gosip para karyawan lain, ia gadis baru yang didapatkan dengan cara pelunasan utang."


"Lalu?"


"Eh, setelah malam itu, pas Abang bawa dia pergi, saya gak pernah lihat lagi."


Sial!


Gue lepas kerah pakaian orang itu. Menatap garang pula pada beberapa orang penjaga club yang seolah menjadi saksi pula atas kebiadaban para mucikari serta mapia perusak moral. Kenapa pula mereka bungkam? Apa hati orang-orang itu memang sudah tertutup iblis?


Beberapa lembar uang merah itu gue tepukan pada meja marmer tepat di samping botol yang belum gue sentuh sedikit pun. Mendengus kesal sebelum akhirnya memilih pergi.


Langit benar-benar gelap malam ini, bahkan taburan bintang itu tak lagi menghiasi. Titik-titik gerimis yang menimpa jalanan seolah tengah menertawakan kekonyolan gue malam ini. Menggila, hanya karena cewek remaja yang baru beberapa hari berjumpa.


Sial, pejalan kaki itu cukup membuat jantung gue nyaris copot karena menyeberang tanpa aba-aba. Ah, entah mungkin gue sendiri yang tidak fokus, hingga klakson berteriak memaki pejalan kaki itu.


Kepala ini terasa begitu berat meski tidak menyentuh alkohol sedikit pun. Entahlah. Gue sendiri tidak tahu siapa dan dari mana asal gadis itu, bahkan bertemu dengannya pun baru beberapa hari ini. Namun, momen yang tak begitu banyak itu seolah tengah melayang-layang dalam ingatan.


"Ca ... lo di mana sih?" desah gue. "Aarrgghh ...!"


Hingga tak terasa mobil yang dikendarai sudah sampai di depan rumah.


Tunggu!


Kenapa lampu di rumah gue menyala?


***

__ADS_1


next???


__ADS_2