
...FOLLOW SEBELUM BACA!!!...
Sejak awal gue tinggalkan rumah dalam kondisi lampu yang belum menyala. Melihat beberapa cahaya itu segera langkah kaki ini mengencang, semakin ingin memastikan apa yang sebenarnya terjadi di dalam.
Perampok? Rasanya tidak mungkin akan berani menjarah dalam waktu yang belum terlalu larut.
Tapi ....
"Caca?" seru gue, melihat gadis itu yang tengah dalam keadaan mengantuk di sofa ruang depan.
"Abang?" Suaranya terdengar sedikit khas serak bangun tidur.
Ia menggeliat, mencoba mengumpulkan setiap kesadarannya, mungkin. Gue lirik ke meja makan, telah tersaji beberapa jenis hidangan di atas sana. Mungkin telah mendingin, tampak tak ada asap mengepul seperti hidangan tadi pagi.
"Tadi aku nemu beberapa bahan makanan, lalu memasaknya. Abang gak marah kan?"
Gue menggelengkan kepala tak percaya. Tak ingin ini sekedar mimpi atau bayangan halusinasi semata, ternyata memang iya, dia ada.
"Abang?" Caca mengibaskan tangannya di hadapan gue.
"Surat itu?"
"Surat?" Sesaat ia mengernyitkan dahi, kemudian tersenyum. "Oh, itu. Sebenarnya aku mau ngomong langsung, tapi ...."
"Kenapa?" Mencoba untuk tetap tenang.
"Aku gak berani, takut diketawain Abang karena dibilang lebay dengan kata-katanya." Caca menunduk.
Gue mengusap wajah dengan kasar. Dasar bodoh! Padahal sudah jelas di dalam surat itu tak satu pun kalimat yang menjelaskan jika gadis ini akan pergi meninggalkan gue.
"Abang jadi lembur di kantor?" Wajah itu begitu polos menatap. "Abang lelah kan? Pasti lapar. Nanti aku siapin air hangat ya buat mandi Abang."
"Jangan terlalu lelah, besok kamu harus jalani operasi kan?"
"Aku gak mau." Caca menunduk sambil menautkan kedua jari telunjuknya.
Langkah kaki yang hampir menuju makanan ini tiba-tiba terhenti. "Makanlah yang banyak. mulai jam dua belas nanti kamu harus udah puasa."
"Abang ...."
"Hem?" Gue menoleh.
"Kenapa Abang lakuin ini sama aku?"
"Makanlah," ujar gue sambil menggenggam tangannya sesaat sebelum meluruhkan jaket yang semula menutupi tubuh.
Caca tak banyak bicara. Ia hanya mengekor di belakang sambil seolah tengah berlindung dari sesuatu yang gue sendiri tidak tahu apa itu. Suatu saat, mungkin bukti penganiayaan itu lambat laun akan sampai ke tangan polisi juga.
Sulit untuk saat ini. Gue sendiri pun tidak begitu tahu apa alasan pasti kenapa gadis ini bisa sampai ke sini sekarang.
Dia masih menatap dengan lekat sampai akhirnya gue meraih piring untuk kemudian diisi makanan. Caca merangsek duduk agak jauh beberapa kursi dari tempat gue.
"Bang, aku gak usah dioperasi."
"Nurut aja, Abang gak akan minta ganti rugi kok."
"Bukan gitu, maksud aku ... aku hanya yatim piatu."
"Tidak ada istilah hanya untuk menghargai nyawa manusia!"
Terdiam. Entahlah, mungkin dia merasa tersinggung atau bagaimana dengan nada bicara gue yang sedikit menekan. Memang sudah watak. Sejak dulu tak suka dibantah jika hati sudah bulat.
Kedua bola mata yang semula terang itu seketika tampak meredup. Dia benar-benar kecewa nampaknya. Sesaat gue menaruh sendok yang nyaris mengantarkan santapan sedap ini ke indera perasa.
__ADS_1
"Abang juga yatim piatu."
Caca menoleh dengan mata yang kembali berbinar. "Abang yatim piatu?" lirihnya.
"Ya. Ayah meninggal ketika Abang ulang tahun ke lima. Dan Ibu ... baru satu tahun pergi."
Kentara betul jika ada embun di kedua mata gadis itu. Gue tersenyum singkat, kemudian beranjak dan meraih tangannya untuk memberi kekuatan pada gadis itu, bahwa ia tak sendiri menghadapi penderitaannya saat ini.
"Abang ...." Caca menoleh.
"Makanlah."
.........
Mungkin Caca sudah menunggu kedatangan gue untuk menemaninya menjalani operasi. Atau bahkan mungkin sudah masuk ruangan operasi. Sayangnya, pekerjaan cukup numpuk hari ini. Terlebih, rengekan Alexa kepada papanya nampaknya juga menjadi alasan untuk menambah jam kerja gue.
"Vin ...."
Alexa yang baru berhenti mengoceh sekitar lima menit itu, sudah bersuara kembali.
"Aku tahu gadis itu bukan sepupu kamu kan?"
Pertanyaan itu sukses membuat pekerjaan gue terhenti.
"Dia gadis malam yang kabur kan?"
...***...
"Dia gadis malam yang kabur kan?"
Pertanyaan itu ia ulangi seolah ingin gue benar-benar yakin jika Caca bukanlah orang yang baik.
"Ya, aku sendiri yang menyelamatkannya."
"Aku menemukan selembaran ini." Alexa menyodorkan selembar kertas berwajah Anastasya dengan beberapa kalimat di atasnya. "Orang itu, yang dalam garis kurung, katanya kakaknya, aku pernah nelpon dia sebelum ke sini."
Ini mungkin kesempatan gue harus memberi sedikit pelajaran pada manusia keparat itu. Tanpa pikir panjang, tak peduli lagi dengan Alexa yang terus mengoceh kian tak tentu arah. Gue segera membenahi semua pekerjaan yang semula terpampang di depan mata.
"Vin, kerjaan kamu belum beres lho. Dia gadis malam, kenapa gak kamu kembalikan aja ke kakaknya? Mungkin dia kabur dari rumah demi mendapatkan kesenangan di luar sana. Kenapa juga kamu harus menahan dia?"
Mata ini nyalang menatap tajam ke arah Alexa yang kini sudah bungkam dengan sorot mata gue, mungkin. Tak banyak bicara, selain hanya berlalu sambil menenteng jas berjalan menuju lift kantor.
Suasana memang sudah sepi. Terlebih jam pulang sudah lama berlalu. Terdengar pula Alexa menyusul dan mengikuti gue untuk turut masuk ke dalam ruangan otomatis itu.
Sikap spontan ini sontak membuat gue lupa mengunci pintu terlebih dahulu. Ck, aarrgghh!
"Pak, masih di kantor?" Gue menghubungi seorang pemegang kunci di perusahaan ini. "Oh, tolong kunciin ruangan saya ya."
Alexa masih merengek tak terima dengan cara gue yang meninggalkannya. Tangan ini sigap menelusup ke dalam saku sebelum ia berusaha menggenggam.
"Vin, kenapa kamu harus sampai seperti ini buat cegah dia ketemu keluarganya? Biarin aja sih anaknya biar dididik, supaya gak seenaknya masuk dunia malam."
"Jangan katakan hal yang gak masuk akal."
"Apanya yang gak masuk akal? Jelas-jelas dia ada di club malam," ucapnya ngegas, menyebalkan pula.
"Caca bukan gadis seperti itu!"
"Kamu tahu dari mana? Kalian baru beberapa hari ketemu."
"Sebab, Karina tak mungkin berbohong."
"Karina lagi, Karina lagi! Kamu masih belum bisa move on dari dia? Sadar, Vin, dia udah nikah. Cuma aku yang saat ini ada buat kamu!"
__ADS_1
Mencoba untuk tetap tak menghiraukan.
"Vin, aku itu sayang sama kamu. Aku gak mau kamu dimanfaatin sama cewek malam itu. Barangkali dia bekas pa ...."
"ALEXA!"
Gadis itu terperanjat. Dia menunduk dan mungkin saja bulir bening akan segera meluncur dari kedua matanya. Oh, sungguh ini kali pertamanya gue membentak seorang gadis.
"Lexa, sorry." Nada gue melemah.
Gadis itu terisak. Dia mundur setelah tangan gue nyaris meraih tubuhnya. Mungkin dia kecewa. Selama ini gue selalu melakukan apapun yang ia inginkan. Alexa, dia memeluk tubuhnya sambil sesekali menyeka air matanya.
"Aku ...." ucapnya parau. "Aku cuma gak mau kamu kecewa, aku sayang sama kamu. Kenapa kamu kayak gini ..? Kamu jahat, Alvin. Kamu udah jahat sama aku ...."
"Maaf, Lexa. Aku harus pergi."
Pintu lift itu akhirnya terbuka setelah kami benar-benar sampai di lantai terbawah langsung ke area parkir. Alexa masih berteriak memanggil nama gue ketika tubuh ini sudah berada di balik kemudi.
"Alvin ...! Aku sayang sama kamu, Vin. Aku gak mau kamu kecewa ...!"
Tangisan itu terdengar begitu pilu. Namun, gue sendiri tak terus-terusan memberikan harapan palsu padanya. Sungguh, gue memang sayang pada Alexa, tapi gak cinta.
Rasa hati ini tak sabar ingin segera mengeluarkan amarah pada nama yang tertera di kertas itu karena kebiadabannya membuat Caca tersiksa seperti saat ini. "Juna" nama itu tertulis jelas dengan nomor hp yang dapat dihubungi.
...
"Caca sudah selesai operasi. Sebentar lagi dia masuk ruang pemulihan," ujar Karina ketika gue baru saja sampai ke rumah sakit.
Tak sabar, Karina pun masih mengekor di belakang gue yang mempercepat langkah, untuk dapat melihat Caca sebelum memberi pelajaran pada laki-laki itu.
Gadis itu tergolek lemas di dorong para suster yang membawanya ke ruangan berpintu kaca. Masih belum sadar, gue menatap Karina yang masih setia menemani.
"Tadi dia nanyain lo, katanya Bang Alvin ke mana?"
"Lalu?"
"Gue jawab, nanti Alvin datang. Kamu masuk ruangan dulu ya."
Gue tersenyum. "Thank's Karina."
"Apa pun itu. Selama gue bisa menebus kesalahan yang selama ini diperbuat. Maaf, Alvin."
Gue menunduk dan tersenyum. Jika dipikir, ia memang jahat. Lima tahun menjalani kedekatan dengan gue, lebih memilih menikahi Doni dengan alasan jika seorang Alvin terlalu baik untuk jadi suaminya. Hem, alasan basi. Bukankah setiap wanita justru mencari laki-laki terbaik untuk menjadi pasangan seumur hidupnya?
Gue pun sadar, kejahatan itu bukan tanpa sebab. Doni memang kenyataannya lebih baik dari gue. Dia tidak pernah merokok, apalagi menyentuh minuman beralkohol. Sedangkan gue, selain pemabuk, juga termasuk perokok ulung meski tak selalu menunjukannya di depan umum.
Jika orang bertanya, mana bisa? Setiap perokok selalu tak tahu tempat untuk menyalurkan hasratnya. Entahlah, gue rasa sebutir permen mampu menjadi pengganti. Memang kelak pun ingin terlepas sepenuhnya dari benda berasap itu, termasuk minumannya juga.
"Sekarang lo mau ke mana?" tanya Karina membuat gue menatap wajahnya yang teduh.
"Gue mau nemuin orang ini." Sambil menunjukan secarik kertas berwajah Caca dan beberapa tulisan.
"Caca?" dahinya mengerut.
"Bukan, tapi yang ini." Menunjuk nama dalam kurung itu.
Karina masih belum faham nampaknya.
"Kakaknya Caca."
"Minta restu?" seloroh Karina menggoda.
Gue hanya tersenyum. Mungkin memang tak seharusnya Karina tahu semua yang menjadi urusan gue. Menatap tubuh Caca tergolek lemas di atas ranjang sana, hati ini serasa makin teriris.
__ADS_1
***
next???