
UDAH FOLLOW KAN? JANGAN LUPA LIKE!!!
"Caca!" Seruan itu sontak membuat Aslan berbalik menoleh.
"Ini Caca kan?" tanya orang itu yang tak lain Karina adanya.
Aslan mengernyitkan dahinya, tapi ini mungkin bisa menolong gadis itu.
"Anda?" tanya Aslan.
"Saya kakaknya, saya seorang dokter."
"Peralatan medis?"
"Ada di mobil, sebentar saya ambilkan."
Kebetulan memang Karina selalu siap sedia peralatan kesehatan miliknya kemanapun ia pergi. Ini memang acara keluarganya, mengadakan pesta pernikahan di aula hotel mewah ini dan kebetulan keributan yang Aslan ciptakan memang mengundang perhatiannya.
Beberapa tamu yang hadir melirik sesaat, entahlah, mungkin mereka merasa kedatangan Asla membawa gadis pingsan itu sedikit menggangguk jalannya acara. Memang tidak ada pikiran lain, padahal jika ia mampu lebih tenang, bisa membawa Caca menuju klinik terdekat.
Karina sedikit tidak nyaman dengan kondisi kamar yang berantakan dengan pecahan gelas serta bau minuman dan juga muntahan Caca di lantai. Ia berjinjit sebelum benar-benar sampai ke hadapan gadis yang tengah terbaring tak sadarkan diri.
"Dia ... minum alkohol?" tanya Karina.
Aslan sesaat terdiam, "sedikit," lirihnya.
Melihat dari kulit yang sedikit pucat kekuningan, serta detak nadi lebih kencang dari orang biasanya, Karina sedikit mengernyitkan dahi. Apa mungkin ia hamil?
"Sudah berapa lama anda bersama dia?"
"Hampir satu bulan." Aslan memijit tengkuknya. Pengaruh alkohol itu memang belum sepenuhnya hilang.
"Kapan terakhir kalian berhubungan?"
Laki-laki itu menghentikan aktifitasnya. Ia bahkan belum meniduri Caca sekalipun.
"Maksud anda? Kami bahkan baru kali ini bersentuhan. Saya tidak pernah menyentuh dia sedikit pun. Ya, saya memang membayar dia, tapi bukan untuk tidur, kami ngobrol saja."
Tampak sedikit ada emosi di wajah Aslan sehingga Karina harus sedikit menenangkan laki-laki itu. Ia bernafas lega, mungkin Caca memang tidak sedang dalam keadaan hamil.
"Emh, begini. Sebenarnya saya adalah dokter pribadinya. Sebelumnya gadis ini pernah melakukan operasi usus buntu sehingga ia tidak boleh sembarangan mengkonsumsi alkohol."
Aslan meraup wajah frustasi. "Terus sekarang bagaimana?" ucapnya parau, sesal kemudian mendera.
"Dia ... harus saya bawa ke Jakarta, melakukan perawatan intensive. Jika anda berkenan, saya akan menebus gadis ini pada anda. Berapa?"
__ADS_1
Karina menatap penuh tantangan. Ia tahu persis apa yang terjadi antara Alvin dan gadis ini. Sudah dipastikan beberapa hari lagi pemuda itu akan balik ke Jakarta. Ya, ia sangat yakin akan hal itu.
"Abang ...." lirih Caca, keduanya menoleh.
"Aku takut, Bang ... aku takut ...." Wajahnya kian pucat. Caca terus bergumam merasakan trauma yang sangat dalam.
Aslan menarik nafas panjang, mungkin kisah cintanya memang harus kembali gagal untuk ke sekian kalinya.
"Bawa saja, saya tidak membutuhkannya lagi." Tangan itu menghempas kosong di udara. Seiring dengan wajahnya yang berpaling ke arah lain.
...
Untuk ke sekian kalinya. Seseorang pada akhirnya harus menangis meratapi kepergian gadis ini. Setidaknya, setitik cinta itu tidak lagi membuatnya terluka.
Caca kini terkulai lemas pada sebuah ruangan yang disiapkan khusus oleh Karina. Pekan depan, jika ia sudah mulai pulih, Karina akan menempatkan gadis ini ke sebuah panti asuhan tempat ia dulu kerap datang bersama kedua orang tuanya.
Perlahan, kedua mata itu terbuka. Merasakan beberapa jarum karet pengirim cairan ke setiap urat tubuhnya itu menancap begitu saja.
Di mana ini? benaknya.
Ruangan itu begitu tertutup rapat, bahkan ini lebih mirip dengan bangsal rumah sakit dengan fasilitas VIP.
Pintu kamar itu terbuka, muncul sosok Karina dengan beberapa obat pada nampan yang ia bawa.
"Dokter?" Caca tercekat.
Bagaimana bisa? Apakah ia berada di Jakarta? Tentu saja Karina langsung mengambil alih perawatan Caca. Namun, semenjak gadis itu kembali ke Jakarta, entah sudah berapa kali Aslan menanyakan keadaan gadis itu.
"Untuk sementara kamu perlu parawatan intensive. Nanti setelah pulih, saya akan antarkan kamu ke suatu tempat yang lebih aman dari Bali.
"Terima kasih, Dokter."
Karina menyuntikkan sesuatu pada cairan infus yang terpasang ke lengan gadis itu.
"Sudah sewajarnya, seorang sahabat itu menjaga kekasih sahabatnya sendiri." Sesaat ia menaruh kembali alat suntiknya. "Kamu hamil. Apa kalian menjalankan komitmen?"
Caca terdiam. Seluruh tubuhnya serasa kaku seketika. Nampaknya memang agak sulit untuk tidak terlibat lagi dengan sosok yang sangat dicintainya itu. Alvin Yanwar, bahkan benihnya sudah tertanam rapih dalam rahimnya.
"Jika memang kamu tidak mau mengatakannya, saya tidak masalah. Tapi ... saya rasa sekarang Alvin memang sedang cari kamu."
"Emh, Dok. Jangan biarkan Abang tahu."
"Kenapa? Dia ayahnya."
"Saya tidak mau lagi membahayakan nyawa Abang."
__ADS_1
Karina tersenyum tipis. Merubah posisinya untuk duduk pada bangku yang tersedia di samping Caca.
"Saya faham apa maksud kamu. Tapi ... masalah ini tidak semudah yang kamu pikir. Bagaimanapun, mau tidak mau, Alvin memang sudah terlibat di dalamnya. Sejak malam itu."
Ya, memang benar. Sejauh apapun Anastasya menghindar dari Alvin, wajah itu tetap akan menjadi sorotan para anak buah mafia itu untuk merundungnya.
"Tapi saya hargai keputusan kamu. Saya akan sembunyikan semuanya."
...
Benar apa yang dikatakan Karina. Sebulan kemudian Alvin ada kabar kembali ke Jakarta. Melihat tingkah laku sahabatnya yang bagaikan orang gila, seketika merubah pendiriannya untuk tetap bungkam.
Karina membawa Alvin ke tempat di mana Caca bersembunyi. Gadis itu tampak sedikit gemuk dan bercahaya di raut wajahnya. Namun, Alvin sendiri tak menyadari jika di dalam rahim Caca, tertanam benih miliknya.
Ia kecewa. Respon gadis itu tak seperti apa yang ia bayangkan. Jelas, Caca menolaknya. Bahkan ia tak sedikitpun untuk memberi ruang lebih dalam pada pria itu.
"AAARRGGHH ...!" teriaknya memecah kesunyian jalanan.
Kaki tak lepas menginjak pedal gas kian keras. Hingga licinnya jalanan tersiram air hujan itu membuat mobil yang dikendarai Alvin tergelincir, memutar menabrak pembatas jalan hingga ....
BUM!
Pada akhirnya terbalik.
Tidak, sebenarnya bukan sekedar tergelincir dengan sendirinya. Ada seseorang yang sejak semula mengikuti kendaraan itu. Mencari kesempatan disaat hujan itu datang. Waktu yang tepat, ia menyusul tak kalah kencang hingga menabrak dengan suka rela dan tertawa kemudian.
Beberapa orang berpakaian serba hitam di dalam mobil itu tertawa puas karena akan mendapatkan bonus lebih besar dari tuannya. Bahkan sempat salah seorang meludah dengan kasar ketika melihat mobil itu sudah terbalik.
"AAKKHH ...." pekik Alvin dari dalam mobil.
Kepalanya terasa begitu sakit hingga muncul cairan kental terasa panas di pipinya. Bahkan lebih mengerikan lagi kaca mobil yang dengan terang-terangan menabrak pembatas jalan itu menancap kuat di lengan kirinya.
Alvin terbatuk sesaat. Tak lepas pula dadanya tertancap kaca depan mobil yang pecah berhamburan, bercampur dengan derasnya air hujan.
"Caca ...." Hanya nama itu yang ia sebut dalam lirihnya. "Kenapa, Ca? Kenapa?!"
Rasanya tak ingin lagi ia hidup. Bahkan untuk keluar dari mobil yang menghimpit tubuhnya sudah tidak akan keinginan untuk itu.
Ya, ia lelah. Bahkan kini tubuhnya terasa lemas dan tak bertenaga. Tak ada lagi senyum itu, tak ada lagi raut menggemaskan yang kerap ia rindukan setiap saat.
Anastasya, Abang butuh kamu ....
***
Next???
__ADS_1