
UDAH FOLLOW KAN? JANGAN LUPA LIKE!!!
Dia tersenyum melihat kedatangan kami, bahkan jenis pakaian yang ia kenakan terakhir kali kami bertemu sudah tidak melekat lagi di tubuhnya. Laksmi sudah kembali, ke cara ia berpenampilan dahulu.
Rambut panjang digerai terselip indah di telinga. Gadis berkulit sawo matang itu berjalan sambil membawa koper di genggaman.
"Laksmi senang ... Caca akhirnya ketemu."
Caca menoleh ke arah gue, tapi tak ada suara yang keluar dari mulutnya.
"Caca sangat berarti bagi Bli Alvin."
Bahkan panggilan yang lolos dari mulutnya pun sudah kembali ke semula.
"Laksmi ke sini ...." Ia meloloskan sesuatu dari jari tengahnya. "Mau mengembalikan cincin ini ke pemiliknya, ini bukan hak Laksmi, ini bukan punya Laksmi. Kalian berdua memang cocok." Menyodorkan benda kecil itu ke hadapan gue.
Nyaris saja Caca pergi jika tidak segera gue genggam erat tangannya.
"Gek Caca tidak perlu cemburu, Laksmi dan Bli Alvin tidak ada hubungan apa-apa. Cincin ini hanya Laksmi pinjam, sebagai contoh untuk cincin pernikahan Laksmi nanti."
Gue tersenyum. "Makasih, Laksmi."
"Vin!"
Kami semua menoleh ke arah suara. Rupanya Juna datang juga ke tempat ini setelah tadi pagi ia pamit entah ke mana. Raut wajahnya tampak sedikit berseri, entah kabar apa yang akan ia berikan siang ini.
"Sorry, gue nyusul kalian ke sini. Gue nemu ...."
Sebuah benda memiliki dua garis merah berada dalam genggamannya.
"Sorry, gue pikir pasti kalian di sini. Cuma tidak sabar memastikan kebenaran dari benda ini," ujarnya sambil menunjukan benda itu.
Mungkin merasa tidak enak, Caca merebut benda itu dan menoleh sesaat ke arah Laksmi. Dapat dipastikan jika ia tidak mau Laksmi tahu terkait kehamilannya.
Gue tersenyum, lebih dulu menjawab. "Iya, itu milik Caca. Untuk itu kami berencana akan segera menikah."
"Kalian mau menikah?" Laksmi antusias.
Dari sorot mata Juna, tampaknya ia memang memiliki rasa terhadap gadis Bali ini. Gue dan Caca saling melirik satu sama lain, memastikan jika pikiran kami memang sama.
"Ini Laksmi, adik gue dari Bali."
"Oh ... Mbok Laksmi?" Juna tampak kikuk.
"Dia baru datang hari ini. Kebetulan belum memiliki tempat tinggal selama di Jakarta."
"Oh, kalo gitu tinggal di tempat kita aja!" ujarnya.
"Boleh." Caca turut menimpali. "Dia juga bisa menjadi pagar ayu di acara kita kan?"
Sepertinya Laksmi memang tidak ada pikiran buruk. Bahkan ia mengangguk setuju tanpa pikir panjang terlebih dahulu.
...
Akhirnya mimpi sejak lama ini akan terwujud tanpa harus gue memaksa. Caca tampak cantik dengan dress putih menjuntai ke bawah. Ada beberapa gaun yang kami pilih, termasuk kebaya putih untuk acara ijab qobul.
Lucu memang, tidak ada proses lamaran karena sejatinya kami telah bagaikan satu keluarga.
Sebuah notifikasi masuk ke dalam ponsel gue. Menampilkan bahwa pesangon dari kantor terdahulu telah masuk ke rekening pribadi gue. Hem, apa ini? Sudah berbulan-bulan baru masuk sekarang. Setelah mereka membuang dengan cara kotor, apa lagi sebenarnya rencana orang-orang itu? Sesaat gue tersenyum mengejek sebelum akhirnya memasukan kembali ponsel ke dalam tempatnya semula.
__ADS_1
"Abang ...."
Gue segera bergegas menuju suara itu. Caca tengah berdiri di depan cermin besar sambil tak henti meraba beberapa mutiara menghiasi gaun itu. Entah bagaimana caranya, tempat ini tiba-tiba memberi diskon pada kami dengan alasan bahwa kami pelanggan ke seribu yang mereka layani.
"Ini cantik, tidak?" tanyanya menoleh.
"Kamu pakai apa pun juga cantik."
"Ck, ish. Cowok suka kayak gitu deh. Padahal kan aku nanya serius."
"Emang siapa yang gak serius?"
"Ck, Abang ...."
"Iya, Caca ...."
"Gaun ini di badan aku cocok gak?"
"Cocok."
"Abang!"
"Caca!"
"Abang kenapa sih?"
"Apanya yang kenapa?"
"Aku ini nanya serius ... aku tanya baik-baik masa Abang jawabnya simple aja? Kenapa gak ada ditambahin kata-kata lain kek? Misal, Caca ... kamu cantik pake gaun itu, atau lebih cantik yang ini, atau Abang lebih suka kayak gini, atau iya cocok tapi gini, atau ...."
Ucapannya menggantung ketika gue peluk tubuh itu dari belakang. Gue tahu kondisi dia saat ini, Caca perlu perhatian lebih. Mungkin itu juga bawaan janin yang ada dalam perutnya. Tapi gue senang, selama dia dalam keadaan baik-baik saja, menjadi cerewet rasanya tidak masalah.
Tak ada suara, selain hanya senyum lembut yang terpancar dengan indah. Caca menoleh ke arah gue, satu tangannya menyentuh pipi dan membelainya lembut.
"Hem?" Gue mengecupnya.
"Aku sebenarnya ...."
"Kenapa?"
"Abang gak akan bahayain nyawa cuma buat aku kan? Abang harus janji sama aku."
"Sstt ... jangan bahas itu dulu. Yang penting sekarang pernikahan kita harus lancar." Berusaha menjelaskan secara lembut. Karena bagaimanapun, gue tak mau momen indah ini dirusak suasana.
"Baiklah, aku faham, Abang." Ia tersenyum ceria.
"Nah, gitu dong. My little wife." Gue mencubit hidungnya gemas.
...
Kami berempat berada dalam satu mobil yang sama. Gue di depan bersama Caca, sedangkan yang belakang adalah Juna dan Laksmi. Mereka memang tampak lebih akrab akhir-akhir ini. Bahkan Juna terlihat lebih lengket lagi.
"Oiya, Jun. Sebenarnya, lo selama ini sibuk apa?" Sambil gue melirik ke arah spion, nampaknya mengagetkan ia yang tengah memandang lekat wajah Laksmi.
"Hem? Gue? Nungguin ikan bersayap."
Kurang ajar memang, tapi jawabannya itu sukses membuat seisi mobil tergelak tawa.
"Udah ada sayapnya?"
__ADS_1
"Ada, sekitar beberapa butir lah."
Somplak! Emang gak akan ada benernya kayaknya. Daripada tambah pusing, gue lebih baik memilih diam dan fokus kembali mengemudi. Namun, lagi pikiran jahil selalu ingin membuat Juna gagal dalam usahanya hendak menggenggam jemari Laksmi.
"Eh, butiran sayapnya, kira-kira keluar telor gak ya?"
Gue tersenyum geli, menatap raut frustasi dari wajah Juna yang melotot sengit di balik kaca spion.
"Haha, Kak juna sih mau-malu," ujar Caca mulai faham. "Udah tahu idaman hati ada di depan mata."
Kembali terlirik di spion, Laksmi yang semula hanya menatap luar, ia menoleh dan tersenyum lembut membuat Juna menggaruk tengkuknya.
"Ekhem!" deham gue.
Hingga tanpa sadar, mobil kami dihadang kendaraan lain tepat di jalanan sepi.
Sial! Mau apa mereka?
Beberapa orang membawa alat pukul sambil dengan wajah beringas menghampiri siap menghantam ke atas mobil kami. Namun, gue dan Juna segera memutuskan untuk ke luar sebelum dua gadis di dalam mobil kami terluka.
Cukup trauma dengan di mana pada saat itu nyawa Juna nyaris lenyap. Juga pada saat kejadian Wa Made di Bali lalu mengiris perasaan ketika melihat ekspresi Laksmi yang begitu ketakutan. Ya, Laksmi dan Caca saling menguatkan, mereka bahkan tak ingin melepaskan genggaman tangan satu sama lain.
"Kunci pintunya dari dalam!" seru gue, meski masih bingung bagaimana cara melawan orang-orang bersenjata hanya dengan tangan kosong.
"Let's begin, Beybeh!" seru Juna mempersiapkan tinjunya.
Gue tak kalah sengit, mempersiapkan pula dua kepalan tangan sambil mengumpulkan segala keberanian dalam diri. Masa bodoh! Meski harus mati di sini, di tempat ini, gue bahagia ketika tahu Caca mengandung buah cinta kami.
Hahah!
Tawa itu menghiasi meski sudah harus berhadapan dengan maut yang sia menjemput di depan mata.
BUK!
Satu pukulan mampu gue tangkis dengan gerakan tangan. Terlihat di samping, Juna beberapa kali menghindar dengan menurunkan posisi tubuhnya, entah bagaimana ia melawan dua orang sekaligus.
"Yuhuuuu ...!" Juna tampak menikmati sekali setiap permainan yang ia lakukan.
Ukh! Hampir saja pukulan itu tak terhindarkan karena gue teralihkan fokus dengan gaya Juna melawan mereka.
"Vin, belakang lo!" teriak Juna.
Gue berbalik, Satu pukulan berhasil lolos tanpa celah. Juna menggamit kedua tangan gue dari belakang hingga keduanya saling bertautan. Hyeah! Satu tendangan ketika tubuh gue diangkat berhasil melumpuhkan satu orang hingga mengucur darah dari hidungnya.
Satu lagi, gue melakukan hal yang sama, tapi ini terlihat lebih keren karena putaran tubuh itu berhasil melumpuhkan beberapa orang hingga tersungkur. Permainan yang menarik. Seketika adrenalin terpancing keras, lagi dan lagi mengulangi layangan yang sama.
Sial! Ketika kami merasa puas dalam kelelahan, beberapa gerombol yang sama nampaknya berusaha untuk membuka pintu mobil hingga guncang dan kami berlari menuju lokasi.
Satu, dua masih dapat dikalahkan. Namun, terkurasnya banyak energi membuat gue dan Juna hampir kewalahan.
"Hah! BRENGSEK!"
Gue memukul tengkuk orang yang membawa pemukul besi itu, tapi ia berbalik kemudian. Mungkin, ini kali terakhir kedua mata gue dapat melihat wajah Caca meski ia dalam keadaan panik di dalam sana. Dan ....
Seseorang menahan pukulan yang nyaris mengenai wajah gue dan ia melawan gerombolan itu.
***
Next
__ADS_1