Gadis Di Club Malam Itu

Gadis Di Club Malam Itu
Let's Get Play, Baybe


__ADS_3

FOLLOW N LIKE YA!!!


Let's get play, Baybe!


Gue lihat sendiri betapa ia wara-wiri di televisi demi sebuah klarifikasi atas video yang sudah kadung tersebar dan mencoreng nama baiknya.


Bibir ini tersungging senyum miring ketika melihat berita yang begitu sudah mulai kontra pada kelakuannya, gue melahap roti terakhir dan mereguk kopi yang sudah tersedia. Beberapa pengunjung tempat itu saling berbisik, tentu topik pembicaraan mereka tak akan jauh dari apa yang disaksikan di televisi.


"Gak nyangka ya?"


"Kayaknya gak mungkin deh."


"Ih,. kebanyakan orang kaya kan suka pencitraan."


"Tapi dia punya yayasan anak yatim kok, rasanya gak mungkin."


Pergunjingan itu serasa menjadi sebagai nyanyian paling merdu yang gue dengar. Ini baru pertama, belum tampak seluruhnya.


"Katanya denger-denger juga dia jual anaknya lho, yang cewek, ke club malam yang terkenal di Jakarta waktu itu."


Sayup suara kian menjauh ketika gue lebih memilih membayar lahapan di toserba itu kemudian pergi kembali ke kantor. Di luar, gue sudah disambut dengan berdirinya Hadi bersama kedua anak buahnya.


"Nak, Papa butuh kamu dan Caca."


"Tidak untuk menyerahkan hati seseorang," ujar gue dingin sambil membuang pandangan.


"Tidak, Jessika rindu sama Caca. Dia masih di rumah sakit."


...


Tidak ada keberatan sama sekali setelah akhirnya Caca tahu semua peristiwa yang terjadi saat ini. Tanpa sadar, Herman justru telah menjebak dirinya sendiri dan akan segera terjebloskan ke penjara. Tak sia-sia gue menyimpan bukti visum Caca selama ini.


Ia sudah masuk ke dalam ruangan Jessica ketika Hadi Yanwar tanpa ragu merangkul pundak gue dengan hangat. Apa ini yang dinamakan pelukan seorang ayah?


Jujur, gue memang merindukannya selama ini. Ada terasa hangat di pelupuk mata yang masih berusaha untuk gue tahan saat ini. Karena memang pada dasarnya hati ini belum sepenuhnya menerima dia sebahagi ayah gue, kehidupan ini terlalu kejam jika dirasa.


"Papa akan hadir di hari pernikahanmu dengan Caca."


Tanpa sadar gue menoleh, tapi kemudian berpaling kembali. Tak ingin ia keburu melihat apa yang ada di mata.


"Papa juga tak mungkin tega untuk merusak kebahagiaan dua permata Papa. Dan kabar baiknya, Jessica bisa bertahan sampai beberapa lama kata dokter. Dan mudah-mudahan pendonor itu datang untuk menyelamatkan adik kamu."


Terdengar hembusan lelah dari deru nafasnya. Papa ... apa harus gue mengeluarkan panggilan itu sekarang? Ia menepuk-nepuk pelan bahu gue, hingga air mata ini ;lolos untuk sendirinya.


Apa yang dapat gue katakan? Jika lidah terasa begitu kelu dan dada pun kian sesak. Tak mungkin, tak mungkin jika gue harus terisak di hadapannya.


"Bima itu adik saya, lima tahun dia menjaga ibumu dan kamu. Tapi ... dia tak pernajh berminat untuk menikah."


Pantas saja, mungkin ini penyebab utama kenapa Ayah Bima tak pernah mau satu frame foto bersama gue dan Ibu.


Ia terdengar kembali menghela nafas panjang. "Pernikahan kami memang tak direstui keluarga keduanya karena sejak awal, Pratama dan Yanwar memang tidak pernah bersaing secara sehat. Mama kamu diasingkan dari keluarga, dan Papa tetap berad dalam tekanan." Sesaat ia mengusap wajahnya sebelum melanjutkan penuturannya.


"Mamamu pergi karena sama merasa tertekan pula ketika Papa menjalankan tugas di luar negeri, hingga muncul tuduhan kalo Mama kamu memang sudah tidak ingin lagi hidup bersama Papa."


Jahat sekali keluarganya!

__ADS_1


"Papa baru faham dia tidak seperti itu setelah muncul pula tuduhan kalo Papa di luar negeri itu hianatin mama kamu dan menikah dengan orang lain. Dari sini Papa cari Mama kamu dan menemukannya di rumah sakit tengha melahirkan. Di situ tidak ada keluarganya, selain Aslan yang masih mengenakan seragam SMP. Dia marah sama Papa dan meminta Papa untuk menceraikannya."


"Anda lakukan?" Gue menekan sudut mata.


"Ya ...."


Gue mengepalkan kedua tangan mendengarnya. "Kenapa?" Suara gue terdengar bergetar karena sesak yang dirasakan.


"Kondisi pula yang mengharuskan kami untuk berpisah.  Dan hanya menamaimu dengan nama Alvin Yanwar, sebagai bagian dari hidup Papa dan  berharap kalau kamu menjadi orang yang setia."


Gue hanya tersenyum, menertawakan diri sendiri.


"Nenek kamu, Ibu dari Papa mengidap penyakit jantung dan mengharapkan Papa dan Hapsari untuk berpisah. Namun Papa tetap tanggung jawab dengan membawa Bima ke dalam kehidupan kamu tanpa keluarga tahu."


"Terus, sekarang, apa wanita jahat itu masih hidup?"


"Sudah meninggal."


"Bagus!" gumam gue tanpa ada penolakan.


"Dia pun tak menerima pernikahan Papa dan mamanya Jessica. Papa melawan, mengambil jalan hidup sendiri hingga mengalami kesuliatan ekonomi ketika Bima diketahui meninggal dalam upaya pembunuhan kecelakaan. Hingga tak dapat lagi mencarimu dan Hapsari."


Gue mendongak, menahan untuk tidak lagi meloloskan air mata yang kian tak terbendung hingga menghela nafas berat terasa.


"Sebenarnya kami tidak benar-benar bererai, karena Papa tak pernah menjatuhkan talak selain menandatangani surat perceraian. Ya, kami pisah secara hukum, tapi tidak dengan hati."


Mungkin itu pula sebabnya kenapa Ibu tak pernah mau menerima orang lain dalam hidupnya, termasuk Wa Made ketika kami di Bali pada waktu itu.


"Bagaimana dengan pernikahan kalian? SUdah selesai persiapannya?"


"Sebenarnya, Papa masih ragu untuk menikahkan kamu dan Caca karena ...."


"Herman?"


"Ya."


"Herman bukan ayahnya Caca, tapi dia kakaknya Ibu dari ayah yang lain. Caca juga korban, karena ia sahabat baik Jessica, jadi semua yang terjadi dia yang mengatur, dendam itu masih ada, Om."


Terlihat ia kecewa dengan bagaimana cara gue memanggilnya. Ya, ia sangat berharap pengakuan itu, tapi gue tidak bisa, lebih tepatnya belum bisa.


Caca keluar sambil mendorong kursi roda yang ditumpangi Jessica. Terlihat memang sedekat apa mereka, hingga senyum kebahagiaan terpancar dari keduanya.


"Makasih ya, aku seneng banget kamu datang ke sini, aku kanget banget sama kamu, Ca." Jessica memeluk lengan Caca yang terjulur ke pada pegangan kursi roda itu.


"Sama-sama, aku juga kangen banget sama kamu." Caca berbalik memeluk Jessica dari belakang.


Gue bahagia melihat kedekatan keduanya. Terlebih, saat Jessica mengusap perut Caca den memperdengarkan telinganya dangan gaya polosnya. Ya, ini waktunya untuk kami bahagia, Tak ada lagi kesedihan setelah ini, kami hanya ingin bahagia.


Sudah satnya kami pamit, karena waktu juga sudah mulai malam. Cuaca mulai menyapukan kedinginan ketika gue ke luar dari rumah sakit dengan diantar mereka.


"Alvin," ujar Hadi membeuat seketika gue dan Caca berbalik sesaat. "Terima kasih." Senyum itu begitu hangat dan menenangkan.


"Sama-sama ...." Entah kenapa, begitu beratnya untuk melanjutkan apa yang ingin gue utarakan. Bahkan ge harus menark nafas terlebih dahulu sebelum akhirnya berucap, "Papa ...."


Senyum Hadi Yanwar mengembang menampilkan sederet giginya yang rapih. Ia menunduk, mengangguk-angguk menampilkan raut bangga.

__ADS_1


...


Caca memeluk gue dari belakang ketika menyiapkan makan malam untuknya. kepalanya terasa miring dan menempel di punggun gue membuat menghetikan kegiatan untuk sesaat.


"Kenapa?" Gue berbalik dan menatap wajahnya lekat.


"Abang sudah pertemukan aku dengan Jessica, aku senang."


"Sedekat itu persahabatan kamu dengan dia?"


"Ya, kami sahabat sejak kecil. Lalu ...." Ia berpaling dan duduk di kursi yang menghadap meja makan. "Datang Om Herman yang merubah segalanya."


"Kamu jangan khawtir ya." Gue mensejajarkan tubuh di hadapannya. "Kita akan lewati semuanya bersama. Bagaimana dengan adik bungsu kamu?"


"Kak Juna bilang, Dini baik-baik saja."


"Bagus, sebentar lagi kita makan malam bareng ya."


...


Hari ini memang agak padat pekerjaan di kantor hingga sulit untuk mendapatkan waktu luang menghubungi Caca yang di rumah. Biasanya, kami melakukan panggilan video meski pada waktu jam kerja.


Gue memeluk sendiri berkas yang akan diberikan ke ruangan Aslan karena kebetulan asisten pribadi tengah ijin masuk karena suaminya sakit.


Samar, di dalam terdengar keributa, mungkin itu istrinya yang kembali ngamuk di dalam sana. Tak mungkin juga gue masuk dalam keadaan seperti ini.


Hampir saja menarik diri untuk kembali, pintu ruangan itu terbuka dengan kasar. Seorang wanita menatap sinis ke arah gue dan kemudian berlalu dengan angkuhnya. ****! Kenapa harus seperti ini juga?


"Alvin, masuk saja."


Tampak Aslan tengah membereskan beberapa foto yang berserakan di meja kerjanya. Entah bukti apa lagi itu, rasanya istrinya itu sangat senang menguntit rupanya. Ah, lucu sekali kisah cinta mereka. Bahkan Aslan sendiri pun tak pernah membentak istrinya meski dipermalukan di hadapan umum.


"Saya itu sebenarnya lelah dengan kecurigaan dia yang tanpa bukti, hingga memutuskan untuk mencari kesenangan dengan cara mengobrol dengan wanita lain di club malam." Tangannya sigap menyimpan foto ke dalam lacinya.


"Dasar lagi apes, dia sewa mata-mata untuk membuktikannya."


Mata gue terarah pada foto yang terjatuh tepat di samping kaki, lalu menginjaknya untuk menyembunyikan itu dari Aslan. Karena cewek difoto itu ... seperti Caca.


"Sebentar lagi jam makan siang, kita mau makan di mana?" Ia menoleh pada arlojinya.


"Terserah anda saja." Sambil pura-pura menjatuhkan map dan meraih foto itu untuk disembunyikan pada dalam pakaian gue.


"Kamu simpan saja mapnya di atas meja saya, kita ke Le Quartier."


"Emh, Pak. Saya makan di kantin aja."


"Lho, kenapa?"


"Rasanya terlalu sayang untuk membayar mahal sekedar menu makan siang."


"Tapi ... baiklah. Kalo gitu saya duluan ya."


Punggung itu kian menjauh dari tempat di mana gue berdiri. Dan ... benar, ini foto Aslan bersama Caca, di ... hotel?


***

__ADS_1


Next


__ADS_2