
UDAH FOLLOW KAN? JANGAN LUPA LIKE!!!
Tanpa sadar tubuh ini sudah tersungkur hingga kepala menyentuh aspal dan mengeluarkan sedikit cairan kental berwarna merah.
Aslan!
Dia berdiri kokoh sambil menggenggam lengan kirinya yang berlumuran darah, mungkin terkena tembakan tadi. Seorang pria dengan sorot mata melotot masih menodongkan pistol itu, bahkan mungkin kini arahnya tepat ke jantung Aslan.
Kenapa dia bisa ada di sini?
"Vin, ke sini!"
Tampak Juna bersembunyi di balik mobil Aslan yang entah sejak kapan sudah berada di sana. Gue mengernyit, tak mungkin juga meninggalkan atasan sendiri dalam keadaan seperti ini.
Mata Aslan menatap jeli setiap kemungkinan yang bisa saja terjadi. Tak gentar, malah ia melangkahkan kaki lebih dekat lagi. Terlihat di belakang tangannya bergerek-gerak melambaikan kunci mobil yang tadi sempat ia tawarkan ketika di kantor.
Entah sengaja atau tidak, kunci itu terjatuh tepat di depan wajah gue. Sesaat melirik gerakan tangan yang bergerak-gerak, mungkin berharap gue membawa kunci itu kemudian pergi meninggalkannya.
Sedangkan sorot mata orang di depan sana sejenak melirik gue, kemudian mengalihkan arah pelatuknya ke arah gue.
Aslan, ia tak mau membuang kesempatan sehingga segera merubah posisinya menutupi tubuh gue dari todongan senjata itu.
"Jangan pernah sakiti dia." Suara bariton itu terdengar begitu bengis.
"Jangan sombong kamu! Mentang-mentang anak buahmu tersebar dimana-mana, kamu pikir saya takut?!"
"Tembak sekarang. Tembak saya!"
"Aslan! Sudah cukup kamu membangkang. Saya tak mungkin membunuh adik sendiri!"
Adik? Mereka adik kakak?
Bahkan gue tak pernah mengenal orang itu sebelumnya. Kenapa ia mau membunuh gue? Apa ini adalah anak buah Hadi Yanwar? Setahu gue, Aslan selalu menyebut-nyebut tentang Yanwar.
Tapi ....
Rasanya tidak mungkin. Orang yang menganggap dirinya ayah gue tak mungkin melakukan percobaan pembunuhan hingga beberapa kali. Sayangnya gue selalu kehilangan bukti kuat untuk memasukan mereka ke penjara.
"Jangan pernah menyebut bahwa saya adalah adikmu setelah apa yang kau lakukan kepada kami!"
Rahang Aslan mengeras. Bahkan langkahnya kini sudah lebih dekat lagi dengan si penembak yang kian memundurkan langkahnya itu.
"Vin, cepet sini!" pekik Juna yang masih di tempat semula.
Tunggu. Gue butuh penjelasan untuk ini semua. Namun, rasanya tidak mungkin pula membuat posisi Aslan semakin terjebak dalam bahaya. Bisa saja, ia tetap menghadang senjata api itu selama gue ada di sini.
__ADS_1
Mungkin alangkah lebih baiknya memang menurut saja pada Juna. Gue segera berlari setelah tubuh Aslan berada menempel tanpa celah dengan senjata itu hingga sulit terhindarkan karena Aslan sendiri menekan kuat ke tubuhnya.
"Jangan bodoh! Apa untungnya melindungi bocah-bocah itu?!"
Mobil sudah melesat cepat ketika sayup terdengar ada perdebatan antara dua orang yang mungkin berbeda haluan itu. Sekarang yang gue butuhkan sebuah penjelasan. Juna, kenapa ia bisa berada di sini?
...
Gue cukup mematung ketika dengan lembutnya Caca mengompres luka di kepala serta bekas goresan kaca di wajah. Belum juga luka kemarin kering, sudah tambah luka baru lagi. Berandal banget penampilan gue.
"Ini yang aku takutkan selama ini. Kenapa aku gak mau Abang terus bersama aku." Ia terisak.
"Cukup, Ca. Abang sudah bersyukur masih bisa hidup sampai saat ini. Kalau kamu pergi, mungkin udah dari dulu-dulu Abang tewas."
"Abang! Jangan ngomong kayak gitu ...."
"Abang serius! Abang cuma butuh kamu."
"Tapi ...." Ucapannya untuk sesaat terjeda. "Aku gak bisa liat banyak luka di tubuh Abang. Aku sakit."
"Gak munafik, Abang memang lelah. Tapi Abang lebih lelah lagi ketika kehilangan kamu. Tolong, jangan ucapkan lagi hal yang akan buat Abang gila, Abang gak bisa. Meski pun apa yang menjadi kenyataan tidak sesuai dengan apa yang Abang harapkan. Tapi, please, meski kelak Abang berubah sama kamu. Kamunya jangan. Biar Abang yakin kalau tak semua buah akan jatuh tepat di bawah pohonnya. Tapi ... ada sebagian buah yang sengaja dipetik untuk dimanfaatkan."
Sesaat gue melihat Caca tercekat dengan ucapan yang lolos tanpa sadar. "Abang tahu sesuatu tentang aku? Apa itu, Bang? Katakan!" Sorot matanya menatap lekat dengan penuh penekanan.
"Tentang apa, Bang? Katakan!"
Gue meraih jemari halus itu dan menggenggamnya erat. "Kamu harus percaya, apa pun yang terjadi, nama kamu tetap berarti di hati Abang. Jadi, please, jangan pergi lagi. Abang mohon sama kamu. Demi anak kita."
Intens, mata gue bergantian menatap kedua bola mata sendu itu. Seperti ada raut keraguan yang Caca tampakkan membuat hati gue teriris perih.
"Please, Ca. Abang mohon."
Entah bagaimana ceritanya, terasa hangat sesuatu meleleh di pipi. Mungkin hal itu pula yang membuat Caca sedikit tersingkir keraguannya. Nampak jelas jika wajah itu tak lagi menyelidik.
"Ca ...." lirih gue.
"Ya." Parau suaranya, menyeka air mata.
Meski wajahnya tak sehangat biasanya, setidaknya ia tak memaksa gue untuk menjelaskan sesuatu. Karena sekarang tentu bukan waktu yang tepat untuk mengatakan semuanya. Biarlah, cukup telinga gue yang mendengar, tanpa harus membiarkan Caca menerjang bahaya sendiri.
Juna dan Laksmi. Yang sedari tadi hanya terdiam tanpa kata. Mata ini menyoroti pada sikap dan perilaku mencurigakan atas Juna. Ia tampak tegang, terlebih tertangkap basah matanya selalu menghindar ketika gue menatap.
Tak mungkin juga mencecar pertanyaan padanya di tempat ini. Tentu akan menimbulkan kecurigaan bagi Caca. Namun, bagaimana pula dan apa alasan terbesar Aslan melindungi gue?
Ck, argh! Waktu pun sudah menunjukan lebih dari tengah malam. Lelah, gue merebah pada sofa di ruang tamu itu. Tanpa memperdulikan mereka yang masih mematung. Masa bodoh, mereka akan pergi atau tidak, terserah.
__ADS_1
"Ca ...." Gue meraih tangannya ketika gadis itu bangkit hendak ke kamarnya. "Temenin Abang tidur di sini."
Sesaat ia menghela nafas. "Di sini dingin, Abang." Tampak jika wajahnya tidak senang.
"Ca, please ...."
Mungkin terpaksa. Biarlah. Yang penting kehadirannya cukup membuat segala ketakutan ini seakan sirna seketika.
"Oke, tapi aku ngambil selimut dulu ya."
Gue mengangguk. Menyaksikan tubuh itu kian bergerak menjauh menuju kamarnya dan Laksmi.
Di sini, ruangan ini sekarang tinggal gue sendiri setelah Juna dan Laksmi memutuskan ke kamar masing-masing tanpa pamit. Suasana seketika terasa mencekam dan kehilangan kenyamanan. Tahu persis, Laksmi mulai resah dengan keadaan ini. Mungkin sebaiknya esok hari gue antarkan gadis itu ke Bandara untuk kemudian pulang menuju Bali. Terlalu berbahaya baginya di tempat ini.
Caca kembali dengan membawa selimut berbahan katun dalam pelukannya. Ia merebah, berbaring pada sofa yang lain.
"Kenapa?" tanya gue lembut menghampiri. "Kamu marah sama Abang?"
Ia memalingkan wajahnya. "Aku gak mau ada rahasia di antara kita. Katakan apa yang Abang tahu tentang aku?"
Memang sudah diduga sejak awal hal inilah yang membuat ia tampak kesal.
"Ca, Abang gak tahu banyak tentang kamu, tentang Juna, adik kalian juga keluarga kamu lainnya. Yang Abang tahu, Abang gak nyaman tanpa kamu. Apalagi melihat ekspresi wajah kamu seperti ini. Sudah seperti hukuman bagi Abang, Ca."
Mungkin ia pun lelah menghindar terus dari gue. Caca Bangkit, memburu pelukan gue yang tak diduga sebelumnya. Senang? Ya. Mendapat pelukan dalam keadaan resah seperti ini layaknya mendapat air di tengah kemarau.
...
Aslan terbilang profesional dengan tidak menampakan kesakitan meski semalam baru saja tertembak di tangannya. Gue melihat sendiri ketika kami tengah sama-sama berada di toilet, Aslan meringis mengganti perbannya sendiri.
"Anda tidak apa-apa, Pak?" tanya gue khawatir.
Ia tersenyum. "Ini hanya urusan kecil. Saya pernah lebih dari ini hingga menembus jantung." Sambil ia membuka sebagian kemejanya dan menunjukan bekas tembakan di dada.
"Ini ...." lanjutnya. "Tembus ke belakang. Saya sekarat beberapa bulan."
"Maaf, apa anda dan orang itu ...?"
Ia tersenyum miring. "Secara lahiriah mungkin kami sedarah, tapi tidak secara batin."
Aslan merapihkan letak rambutnya lalu kemudian ia permisi pamit.
Urusan ini memang agak menggantung. Namun, tak mungkin pula gue harus mendesak ia untuk menjawab setiap pertanyaan yang memenuhi kepala.
***
__ADS_1